VISI.NEWS | SOREANG – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Asep Kusumah mengungkapkan terkait hasil studi tiru pengolahan sampah beberapa waktu lalu ke Denpasar, Bali.
“Jadi di Bali itu kita melihat fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dibangun oleh program World Bank, sama seperti yang dibangun juga di kita di Mekar Rahayu, tetapi kapasitas disana satu titiknya itu 450 ton menggunakan Refused Derived Fuel (RDF) hanya memang briketnya itu masuk ke industri semen, kita kan masuk industri textile,” ujar Asep, saat di konfirmasi VISI.NEWS Kamis (9/2/2023).
Selain itu Asep Kusumah mengatakan, perbedaan lainnya di bagian pengelolaan operator yang dilakukan oleh pihak ketiga. “Pengelolaan disana itu, yang menjalankannya swasta, perusahaan itu dengan beauty contest, jadi fasilitas pemda itu hanya hanggar, dan informasinya yang kita terima dari mereka, pemda setempat harus bayar satu tonnya itu Rp.100.000, sedangkan kalau kita ke Sarimukti buang satu ton nya itu Rp.50.000, mungkin lebih baik di Kab.Bandung,” katanya.
Selain itu, dikatakan Asep, jika nilai investasi untuk mengadopsi pengolahan sampah dari Pemkot Denpasar tersebut cukup besar, karena hanggar yang dibangun World Bank di Denpasar itu membutuhkan sekitar Rp 30-35 miliar.
“Ya angka itu cukup besar untuk di adopsi, dan untuk nilai investasi mesin dan operator kemarin tidak disampaikan, kami hanya melihat yang munculnya kapasitas 450 ton,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan untuk penggunaan pada alat beratnya relatif sama.”Ya sama untuk pengangkutan, dropping zone, sisanya pake kompeyor, mesin cacah dan mesin press, dan forklip, yang membedakan hanya pendekatan RDF nya mereka satu briket satu ton, kita satu briket hanya beberapa ons,” pungkasnya.@gvr