Ijazah Anak Ditahan Sekolah karena Belum Melunasi Tunggakan, Sang Ayah Hanya Bisa Menitikkan Air Mata

Editor Oyi, orang tua siswa SMKN 18 Garut yang tak bisa mengambil tanda kelulusan akibat belum bisa melunasi uang iuran sebesar Rp 2 juta./visi.news/zaahwan aries.
Silahkan bagikan

Oyi, orang tua siswa SMKN 18 Garut yang tak bisa mengambil tanda kelulusan akibat belum bisa melunasi uang iuran sebesar Rp 2 juta./visi.news/zaahwan aries.

Ijazah Anak Ditahan Sekolah karena Belum Melunasi Tunggakan, Sang Ayah Hanya Bisa Menitikkan Air Mata

VISI.NEWS – Perasaan sedih terlihat jelas di raut muka Oyi Supriatna (52). Warga Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini mengaku sangat menyesal karena tak bisa membantu anaknya yang baru lulus dari sebuah SMK untuk mendapatkan tanda kelulusannya.

Oyi mengaku sangat merasa bersalah karena gara-gara dirinya tak bisa bekerja lagi, anak laki-laki pertamanya, Reza Subagja (18) kini tak bisa mengambil tanda kelulusan dari sekolahnya. Hal ini karena anaknya masih punya tunggakan piutang ke sekolah sebesar Rp 2 juta.

Dikisahkannya, ia sudah tak mampu lagi bekerja untuk mencari nafkah sejak 8 bulan terakhir tepatnya setelah pandangan matanya kabur. Hal ini terjadi menyusul penyakit diabetes yang sudah dideritanya sejak 5 tahun lalu.

“Sebagai kepala keluarga, seharusnya saya yang menanggung semua kebutuhan keluarga, mulai makan hingga biaya sekolah. Namun untuk saat ini saya bukannya tak mau bertanggung jawab, tapi karena kondisi saya yang sudah tak punya kemampuan akibat pandangan saya yang sudah kabur,” ujar Oyi saat ditemui di rumah adiknya di kawasan Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Senin (6/7).

Sewaktu kondisi kesehatannya masih baik, diungkapkan Oyi, dirinya bekerja di bidang pertanian dengan penghasilan yang cukup untuk menafkahi keluarganya. Begitu pun setelah dirinya menderita penyakit diabetes, ia masih bisa mencari nafkah untuk keluarganya.

Namun semuanya berubah total setelah penyakit diabetes yang dideritanya mulai menimbulkan dampak lebih buruk dimana pandangan matanya mulai kabur. Sejak saat itu sehari-harinya ia hanya bisa terduduk di teras rumahnya.

Baca Juga :  Néangan (4)

Diakuinya, begitu mendengar kabar anak sulungnya akan lulus dari sebuah SMKN, ia merasa sangat bahagia dan bangga. Ia berharap anaknya bisa segera bekerja karena kebetulan ada program yang akan diikuti agar bisa bekerja di Jepang.

Namun sayang, kebahagiaan yang dirasakan Oyi langsung berubah menjadi kesedihan yang begitu dalam karena anaknya tak bisa mengambil tanda kelulusan. Hal ini karena pihak sekokah menahan tanda kelulusan anaknya karena masih mempunyai piutang sebesar Rp 2 juta ke sekolah.

“Sejak pandangan mata saya kabur, saya memang sudah tak bisa lagi melakukan kewajiban saya sebagaimana layaknya seorang kepala keluarga. Saya tak bisa lagi bekerja sehingga tak lagi bisa memberikan biaya untuk kebutuhan keluarga termasuk biaya sekolah anak saya,” katanya.

Di matanya, Reza merupakan anak yang sangat rajin dan mempunyai semangat belajar yang tinggi. Hal ini sudah terlihat sejak Reza masih belajar di bangku SD hingga SMK.

Meski jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, Reza tak pernah segan berjalan kaki baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Ia pun tak pernah mengeluh walau harus berangkat sekolah dengan hanya membawa bekal Rp 1.000 atau Rp 2.000 saja.

Oyi menuturkan, jika teringat akan kesungguhan anaknya untuk belajar, tak jarang ia sampai menitikkan air matanya. Apalagi dengan kondisinya yang seperti saat ini yaitu dirinya sama sekali tak berdaya ketika anaknya menemui kesulitan karena tak bisa mengambil tanda kelulusannya di sekoah.

Disampaikan Oyi, menurut keterangan anaknya, tanda kelulusannya tak bisa diambil karena pihak sekokah meminta sisa tunggakan uang SPP, uang buku, dan biaya perpisahan dilunasi dulu. Pihak sekolah baru akan memberikan tanda kelulusan Reza kalau tunggakan sebesar Rp 2 juta tersebut sudah dilunasi.

Baca Juga :  Sebelum Liga I Dimulai, PSSI Wacanakan Gelar Pramusim

“Saya benar-benar bingung dan sedih dibuatnya. Sampai-sampai saya nyaris nekad pinjam uang ke rentenir, untung saya keburu sadar dari mana nanti cari untuk membayarnya?” ucap Oyi.

Lebih jauh Oyi menceritakan, dengan didampingi anggota BPD (Badan Perwakilan Desa), Senin pagi istrinya telah mencoba datang ke SMKN 18, tempat anaknya selama ini menimba ilmu. Maksud kedatangan istrinya tak lain untuk membicarakan kesulitan dirinya.

Sementara itu, istri Oyi, Dede Sumarni mengatakan bahwa pihak sekolah memintanya tetap harus menyelesaikan administrasi. Besok ia diminta datang lagi ke sekolah dengan membawa uang meskipun belum penuh sebesar Rp 2 juta.

“Saat ini saya juga masih bingung karena besok harus datang lagi ke sekokah dengan membawa sebagian uang tunggakan yang tetap harus dibayar. Saya sendiri mengaharapkan ada kebijakan dari pihak sekokah untuk memberikan keringanan atau membebaskan iuran karena memang kami sama sekali tak punya uang,” kata ibu rumah tangga yang kesehariannya bekerja sebagai tukang obras pakaian ini. @zhr

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Zona Héjo (2)

Sel Jul 7 , 2020
Silahkan bagikanRékacipta Féndy Sy Citrawarga   “AYA-aya wé Sarya manéh mah.” “Naon téa, Jin?” “Heueuh pajah téh cenah palawangan lawang larangan bangsa adam, masa lawang larangan bangsa kadal.” “Hahahaaa……” “Sakainget wé si Sarya mah asal nyekrup jeung ngomong sarwa a.” “Tah éta, leres Bi.” “Ari sirah, naon Sarya?” “Nya mastaka, […]