HIGHLIGHTS
- Jumlah Investor Kripto di Indonesia Terus Tumbuh, Capai 18,83 Juta Orang di Januari 2024
- Bitcoin Berpotensi Kembali Menuju Level Harga Rp 1 Miliar, Bisakah Tercapai?
VISI.NEWS | BANDUNG – Jumlah investor kripto di Indonesia terus menunjukan pertumbuhan. Hingga Januari 2024, tercatat ada lebih dari 18 juta orang yang sudah terdaftar menjadi investor kripto. Tapi, sayangnya nilai transaksi di periode Januari 2024 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.
Kemudian dari sisi pergerakan harga Bitcoin pekan ini, membuat investor bergembira. Bitcoin akhirnya menapai $63.000 atau sekitar Rp 989 juta untuk pertama kalinya sejak November 2021. BTC melewati tonggak sejarah $1.000 satu demi satu secara berurutan. Bisakah Bitcoin melewati harga Rp 1 miliar?
Berkaitan dengan kabar tersebut, Tokocrypto menyajikan rangkuman berita di industri aset kripto dan ekosistemnya berikut ini.
1. Jumlah Investor Kripto di Indonesia Terus Tumbuh, Capai 18,83 Juta
Jumlah investor kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif di awal tahun 2024.
Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), total investor kripto mencapai 18,83 juta orang hingga Januari 2024.
Jumlah tersebut menandakan kenaikan 1,73% dibandingkan dengan Desember 2023 yang
sebanyak 18,51 juta orang. Jika dibandingkan setahun lalu, pertumbuhan investor kripto
tercatat mencapai 11,7% dari 16,86 juta orang pada Januari 2023.
“Pertumbuhan investor kripto di Indonesia menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap aset digital ini semakin tinggi, seiring dengan kesadaran akan potensi investasi yang dimilikinya. Di
platform Tokocrypto, terjadi peningkatan signifikan jumlah pengguna baru, yang sejalan dengan kenaikan harga Bitcoin. Hal ini mencerminkan antusiasme yang meningkat dari masyarakat terhadap investasi kripto,” kata Yudhono Rawis, CEO Tokocrypto.
Yudho menambahkan, edukasi dan literasi yang gencar dilakukan oleh berbagai pihak,
termasuk Bappebti dan platform perdagangan aset kripto, turut mendorong pertumbuhan investor kripto.
“Selain itu, faktor lain seperti perkembangan teknologi blockchain dan regulasi yang semakin jelas juga memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk berinvestasi di aset kripto,” ujar Yudho.
Nilai Transaksi Kripto Turun di Januari 2024
Meskipun jumlah investor kripto terus meningkat, nilai transaksi kripto di Indonesia mengalami penurunan pada Januari 2024. Bappebti mencatat nilai transaksi kripto sebesar Rp 21,57 triliun
pada Januari 2024, turun 20,8% dibandingkan dengan Desember 2023
(month-to-month/m-to-m) yang sebesar Rp 27,25 triliun.
Namun, jika dibandingkan dengan setahun sebelumnya (year on year/yoy), nilai transaksi kripto di dalam negeri masih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, mencapai 77,7%. Pada
Januari 2023, nilai transaksi kripto hanya tercatat sebesar Rp 12,14 triliun.
“Penurunan nilai transaksi kripto pada Januari 2024 kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti koreksi harga Bitcoin dan beberapa aset kripto lainnya, serta situasi
makroekonomi global yang tidak menentu,” kata Yudho.
Kenaikan harga Bitcoin yang terjadi pada bulan Februari kemungkinan telah memberikan dorongan positif terhadap nilai transaksi kripto selama periode tersebut.
Seiring dengan meningkatnya harga Bitcoin, para investor cenderung lebih aktif dalam melakukan transaksi, baik dalam bentuk jual maupun beli, yang kemungkinan telah mengimbangi atau bahkan
mengatasi penurunan nilai transaksi yang terjadi pada bulan sebelumnya.
Dorongan untuk Regulasi yang Mendukung Inovasi
Yudho mendorong pemerintah untuk terus memajukan industri kripto dengan regulasi yang mendukung inovasi dan tidak memberatkan pelaku industri. “Regulasi yang tepat dan kondusif akan membantu industri kripto di Indonesia untuk berkembang dan memberikan manfaat bagi
masyarakat luas,” ujar Yudho.
“Diharapkan ke depannya, pemerintah dapat terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri, untuk menciptakan ekosistem kripto yang sehat dan berkelanjutan di
Indonesia,” pungkas Yudho.
2. Bitcoin Berpotensi Kembali Menuju Level Harga Rp 1 Miliar, Bisakah Tercapai?
Bitcoin (BTC) berhasil menembus angka $63.000 atau sekitar Rp 989 juta pada hari Rabu (28/2/2024) malam, level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak November 2021.
Kenaikan Bitcoin ke $63.000 didorong oleh kenaikan harga sebesar 42% di bulan Februari, menjadikannya kenaikan bulanan terbesar sejak Desember 2020.
Namun, aksi harga Bitcoin yang meroket signifikan memicu likuidasi kripto senilai hampir $700 juta selama 24 jam terakhir, alhasil BTC kembali anjlok 7% dari level tertinggi $63.734 ke kisaran $61.300. Aksi jual bergema di seluruh pasar aset kripto.
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat penurunan harga BTC dari all-time high (ATH) terbarunya itu disebabkan oleh investor yang mulai aksi taking profit atau ambil untung. Di sisi lain, dari analisis teknikal menunjukkan bahwa BTC telah masuk ke dalam wilayah overbought,
yang berarti ada potensi untuk koreksi harga. Tekanan jual semakin meningkat seiring dengan harga mencapai level tertinggi di $64.000.
“Penurunan harga BTC dari level ATH terbarunya disebabkan oleh fenomena yang lumrah dalam pasar kripto, yaitu aksi taking profit dari para investor. Kenaikan yang signifikan seperti yang kita saksikan belakangan ini seringkali diikuti oleh fase koreksi, dan hal ini tidak terkecuali bagi Bitcoin. Namun, ini juga bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk membeli kembali
Bitcoin saat harga turun, mengingat potensi jangka panjangnya yang tetap kuat,” jelas Fyqieh.
Aksi harga Bitcoin yang meroket juga membawa rekor volume perdagangan untuk ETF BTC spot yang terdaftar di AS.
IBIT BlackRock mencatat $3,3 miliar saham diperdagangkan, lebih dari dua kali lipat hari pemecahan rekor pada hari Rabu (28/2). ETF Bitcoin raih rekor ATH volume harian sebesar $2,6 miliar.
“Masuknya modal ke pasar karena ETF Bitcoin spot AS yang baru-baru ini disetujui telah memainkan peran penting dalam memicu lonjakan ini. Kenaikan pesat ini telah menghidupkan kembali ingatan akan pasar bullish kripto yang mendorong token ke rekor puncaknya hampir
$69.000 pada November 2021, karena investor terkena FOMO untuk tertinggal pada kenaikan
harga lebih lanjut,” ujar Fyqieh.
Crypto Fear and Greed Index yang merupakan indikator utama psikologi investor, melonjak menjadi 82, menandakan “Extreme Greed” dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun.
“Meskipun level tersebut sering kali mendahului koreksi pasar, level tersebut juga menunjukkan peningkatan selera terhadap risiko dan investasi spekulatif.”
Lebih lanjut menurut Fyqieh, para pelaku pasar secara strategis telah memasuki pasar Bitcoin menjelang peristiwa halving yang dijadwalkan pada bulan April. Proses halving, yang dirancang untuk memperlambat tekanan jual BTC, secara historis memicu reli harga yang signifikan.
Pada saat yang sama, kemungkinan penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang telah meningkatkan minat investor terhadap aset-aset yang memberikan imbal hasil
lebih tinggi dan lebih fluktuatif, sehingga semakin mendukung pergerakan naik Bitcoin.
Analisa Harga Bitcoin
Melihat analisis teknikal, saat ini kemungkinan koreksi juga masih bisa terjadi karena secara garis besar, apresiasi harga sudah mulai terlihat jenuh. Walau begitu dalam jangka pendek, Bitcoin masih dalam kondisi bullish dan berpotensi untuk melanjutkan kenaikan.
Namun, belum ada konfirmasi untuk mencapai harga $64.000 atau Rp 1 miliar. Hal ini terlihat
dari penolakan harga Bitcoin dari level $63.860. Bitcoin mungkin perlu mengalami koreksi, karena RSI (Relative Strength Index) berada dalam kondisi overbought dan menunjukkan potensi untuk koreksi.
Penurunan di bawah level $60.000 akan membawa level dukungan $58.000 ke dalamnya. Data aliran pasar ETF BTC spot tetap menjadi titik fokus. Tapi, melihat siklus arus masuk ETF terus mendorong harga BTC naik, ada kemungkinan BTC ke daerah $63.000-$65.000 dalam waktu
dekat.
@mpa