Search
Close this search box.

Kekalahan di Jeddah Jadi Titik Retak, Xabi Alonso Akhiri Kiprah Singkatnya di Real Madrid

Xabi Alonso berjalan meninggalkan lapangan usai Real Madrid kalah 2-3 dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol 2026 di Jeddah, Arab Saudi, Senin, 12 Januari 2026./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS|BANDUNG -Kekalahan Real Madrid dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026 menjadi penutup pahit era Xabi Alonso di Santiago Bernabeu. Kepergian pelatih berusia 44 tahun itu diumumkan hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Madrid tumbang 2-3 dari rival abadinya di Jeddah, Arab Saudi, Selasa dini hari WIB, 13 Januari 2026. Meski terkesan mendadak, keputusan tersebut disebut sebagai akumulasi dari berbagai persoalan yang telah berlangsung sejak awal musim.

Dalam pernyataan resminya, Real Madrid menyebut perpisahan dengan Alonso sebagai keputusan bersama. Namun, pengamat sepak bola Spanyol sekaligus jurnalis senior Guillem Ballague menilai kepindahan tersebut bukanlah sesuatu yang datang tanpa tanda.

“Ini bukan keputusan yang muncul tiba-tiba. Ada banyak hal yang menumpuk sejak hari pertama Xabi Alonso tiba di Madrid,” kata Guillem Ballague dalam analisisnya.

Ballague menilai Alonso tidak pernah mendapatkan kepercayaan penuh dari Presiden Real Madrid Florentino Perez. Hal itu terlihat dari waktu penunjukan yang dinilai tidak ideal hingga kebijakan transfer yang tak sepenuhnya sejalan dengan keinginan sang pelatih.

“Xabi sebenarnya ingin mulai bekerja setelah Piala Dunia Antarklub 2025, tetapi dia tidak diberi ruang untuk itu. Kondisinya tidak ideal karena para pemain baru saja melewati musim panjang,” ujar Ballague.

Alonso resmi ditunjuk pada Mei 2025 dan langsung memimpin tim di Piala Dunia Antarklub. Menurut Ballague, situasi tersebut membuat fondasi tim rapuh sejak awal. Beberapa rekrutan yang datang juga disebut tidak sesuai dengan kebutuhan taktis Alonso.

“Beberapa pemain yang didatangkan bukan pilihan utama Xabi. Kegagalan mendapatkan Martin Zubimendi dan situasi Franco Mastantuono menjadi contoh yang jelas,” kata Ballague.

Hasil di lapangan kemudian memperburuk keadaan. Madrid gagal melaju ke final Piala Dunia Antarklub setelah kalah dari Paris Saint-Germain di semifinal, dibantai Atletico Madrid 2-5 di LaLiga, dan akhirnya kembali dipukul Barcelona di Piala Super Spanyol. Situasi ruang ganti pun disebut ikut memanas.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Senin 16 Februari 2026

“Ada momen ketika Vinicius Junior menunjukkan ketidakpuasan secara terbuka, dan beberapa pemain lain terlihat tidak sepenuhnya percaya dengan pendekatan taktik Xabi,” ujar Ballague.

Puncak kekecewaan disebut terjadi pada final Piala Super Spanyol 2026. Insiden ketika Kylian Mbappe memaksa Alonso menolak melakukan guard of honour kepada Barcelona dinilai sebagai simbol retaknya hubungan internal tim.

“Di momen itu, Xabi merasa sudah cukup. Dia menyadari proyek ini tidak berjalan seperti yang ia bayangkan,” kata Ballague.

Selama tujuh bulan melatih Real Madrid, Alonso memimpin 34 pertandingan dengan catatan 24 kemenangan, empat hasil imbang, dan enam kekalahan. Catatan tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi standar tinggi klub, terlebih setelah kesuksesannya bersama Bayer Leverkusen sebelumnya.

Manajemen Real Madrid menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pengganti Alonso untuk memimpin tim ke depan. Pergantian ini menandai babak baru bagi Los Blancos, sekaligus mengakhiri perjalanan singkat Alonso yang penuh tekanan dan ekspektasi tinggi.@fajar

Baca Berita Menarik Lainnya :