Maggot, Solusi Tangani Sampah di Kabupaten Bandung

Editor :
Pengelolaan sampah di UPT Pengelola dan Pemanfaatan Sampah (PPS) Puspa Jelekong, di Kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah. /visi.news/ist

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Maggot atau larva dewasa yang berasal dari telur Black Soldier Fly (BSF) memiliki beberapa keistimewaan, yaitu dapat mengurai sampah organik paling cepat.

Siklus hidup maggot terbilang pendek. Setelah kawin, BSF jantan akan mati, sedangkan BSF betina akan mati setelah bertelur. 1 induk BSF bisa menghasilkan 300 hingga 1.200 telur atau baby larva.

“Dari 10 gram telur BSF, setelah 21 hari menetas, akan menjadi maggot atau larva dewasa. Dia (maggot) mampu menghabiskan 2 kilogram sampah organik dalam sehari,” ungkap Idan Sahidan (37), koordinator UPT Pengelola dan Pemanfaatan Sampah (PPS) Puspa Jelekong, di Kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah beberapa waktu lalu.

Pengelolaan sampah di UPT Pengelola dan Pemanfaatan Sampah (PPS) Puspa Jelekong, di Kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah. /visi.news/ist

Dengan keistimewaan yang dimiliki maggot, membuat UPT yang berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tersebut, mengelola sampah dengan sistem biokonversi maggot.

Sampah organik ada 2 jenis yaitu lunak dan kasar. Untuk yang lunak seperti sisa makanan, urai Idan, bisa dijadikan pakan maggot. Sedangkan sampah organik kasar, seperti ranting dan dedaunan diolah dengan sistem komposting. Sementara untuk sampah anorganik, masuk ke bank sampah Puspa.

“Hasil pilahan sampah anorganik, biasanya masuk seminggu sekali. Sedangkan organiknya hampir tiap hari, dan kami gunakan untuk pakan maggot,” beber Idan.

Sebagian besar sampah organik berasal dari Pasar Baleendah. Pihaknya bekerjasama dengan UPT Pasar Baleendah, yang sudah bisa mengarahkan pemilahan jenis sampah di pasar tersebut.

Selain itu, UPT PPS juga mengelola sampah dari 6 RW di Kelurahan Jelekong, yang mencapai 3 sampai 4 meter kubik (m³) atau 2,8 ton per hari. Setelah dilakukan proses pemilahan, sampah organik dijadikan pakan maggot, sedangkan sampah anorganik ditampung di bank sampah.

Baca Juga :  Epin, Jagal yang Meninggal itu Sosok Multitalenta yang Dekat dengan Masyarakat

“Sampah semi residunya, kita proses peuyeumisasi. Sedangkan full residunya kita masih buang ke TPA Sarimukti 2 hari sekali. Kita sempat zero waste saat ada incinerator, tapi sekarang mesinnya dalam perbaikan,” tambahnya pula.

Produk hasil olahan sampah di Jelekong. /visi.news/ist

Maggot, lanjut Idan, juga dapat dijadikan pelet untuk mengurangi protein dari tepung ikan. Selain untuk ikan, maggot juga baik untuk ayam maupun ternak lainnya.

Hewan yang mengkonsumsi maggot pertumbuhannya cukup cepat. Warna tubuh ikan Koi, Lohan dan Arwana juga akan cenderung lebih cantik jika diberi pakan maggot.

Dengan adanya sistem biokonversi maggot, selain mengurangi sampah, juga ada nilai ekonomisnya. Baik dari maggot sebagai pakan ternak, maupun dari bank sampah yang mengelola sampah anorganiknya.

Idan berharap, biokonversi maggot ini bisa menular juga ke wilayah lainnya, Karena dapat menanggulangi sampah organik di Kabupaten Bandung.

Biaya operasional pengangkutan sampah ke TPA bisa mencapai 1 juta per armada per hari. Jika dikalkulasikan 270 desa dan 10 kelurahan di 31 kecamatan di Kabupaten Bandung, ujarnya, maka akan menghabiskan anggaran yang cukup besar.

“Sampah bagi kami adalah mutiara terpendam. Jika dikelola dengan baik akan menjadi sumber ilmu dan sumber ekonomi,” pungkas Idan.@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Baroedak Tatanen, Gerakkan Petani Milenial

Ming Mar 28 , 2021
Silahkan bagikan Cindy, “Jadi Petani itu Asik” VISI.NEWS – Kurangnya antusiasme kaum milenial terhadap dunia pertanian, menggerakan hati Cindy Nur Oktaviani untuk mendirikan komunitas Baroedak Tatanen. Perempuan yang tengah mengenyam pendidikan di Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut mengaku, hampir 80 persen teman kuliahnya merasa salah masuk jurusan. Oleh […]