Search
Close this search box.

Mahasiswa Nasionalis Kanan Tewas Dikeroyok di Lyon, Sembilan Orang Ditangkap Polisi Prancis

Sejumlah warga membentangkan bendera bertuliskan “Justice pour Quentin” dalam aksi solidaritas di Lyon, Prancis, Senin (17/2/2026), menuntut keadilan atas kematian mahasiswa Quentin Deranque yang tewas setelah diduga dikeroyok kelompok militan usai demonstrasi di kawasan kampus Sciences Po./source: AFP.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Aparat kepolisian Prancis menangkap sembilan orang terkait kematian seorang mahasiswa berhaluan nasionalis kanan yang diduga menjadi korban pengeroyokan oleh kelompok militan sayap kiri. Kasus ini memicu ketegangan politik nasional dan menempatkan partai kiri radikal France Unbowed (LFI) dalam sorotan tajam.

Korban, Quentin Deranque (23), mahasiswa matematika, meninggal dunia di rumah sakit pada Sabtu, dua hari setelah ia dipukuli dan ditendang di bagian kepala oleh sekelompok pemuda bertopeng di kota Lyon. Insiden itu terjadi seusai aksi unjuk rasa kecil kelompok feminis sayap kanan di Institut d’Études Politiques de Lyon, yang lebih dikenal sebagai Sciences Po Lyon. Deranque disebut-sebut berada di lokasi untuk membantu mengamankan jalannya aksi tersebut.

Penyelidikan awal menguatkan dugaan yang sebelumnya telah ramai diberitakan media Prancis, bahwa para pelaku memiliki keterkaitan dengan kelompok sayap kiri radikal bernama La Jeune Garde (Pengawal Muda), organisasi yang telah dibubarkan pemerintah. Dari sembilan orang yang ditahan, salah satunya adalah Jacques-Elie Favrot, yang diketahui bekerja sebagai asisten parlemen di Majelis Nasional untuk seorang deputi dari partai kiri radikal La France Insoumise (LFI).

Keterlibatan seorang staf parlemen membuat tekanan politik terhadap LFI semakin besar. Partai tersebut memiliki sekitar 70 anggota parlemen di Majelis Nasional dan dipimpin oleh tokoh veteran kiri, Jean-Luc Mélenchon, yang diperkirakan akan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun depan.

Mélenchon membantah adanya keterlibatan partainya dalam kasus tersebut.

“Partai kami tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini. Mereka yang menuduh kami melakukan fitnah,” ujarnya pada Minggu. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

“Kami menyampaikan rasa keterkejutan kami, sekaligus empati dan simpati kepada keluarga dan sahabat Deranque. Kami telah berulang kali menyatakan bahwa kami menentang segala bentuk kekerasan,” tambahnya.

Baca Juga :  Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung, IPNU-IPPNU Gelar Puncak Harlah dengan Aksi Nyata

Sementara itu, jaksa negara Thierry Dran dalam konferensi pers pada Senin menjelaskan bahwa korban mengalami serangan brutal dari “setidaknya enam orang.” Hasil autopsi menunjukkan adanya kerusakan fatal pada tengkorak dan otak korban akibat pukulan dan tendangan yang diterimanya.

Peristiwa ini kembali memperuncing polarisasi politik antara kelompok kanan dan kiri di Prancis, khususnya di lingkungan kampus yang kerap menjadi arena perdebatan ideologis. Pemerintah kini menghadapi tekanan untuk memastikan proses hukum berjalan transparan sekaligus mencegah eskalasi kekerasan politik menjelang tahun politik yang semakin dekat. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :