VISI.NEWS | BANDUNG – Topik kesehatan seksual lansia masih kerap dianggap tabu di Indonesia, terutama ketika menyangkut pria lanjut usia. Padahal, menurut dokter spesialis geriatri dr. Dimas Yuda Karsa, pembahasan ini justru penting demi kesehatan fisik dan psikologis para lansia. Dalam pengalamannya lebih dari 30 tahun menangani pasien usia senja, pertanyaan seputar kehidupan seksual justru menjadi hal yang paling sering dipendam.
Dr. Dimas mengungkapkan, banyak pria lansia merasa malu atau bersalah karena masih memiliki dorongan seksual, termasuk melakukan masturbasi. Budaya yang menganggap seks sebagai urusan tertutup membuat generasi usia 60 tahun ke atas tumbuh tanpa pendidikan seksual yang memadai, sehingga muncul anggapan bahwa hasrat seksual seharusnya “hilang” seiring bertambahnya usia.
Padahal secara medis, hasrat seksual tidak serta-merta lenyap ketika seseorang menua. Survei Ikatan Dokter Indonesia bersama Perhimpunan Gerontologi Indonesia pada 2019 mencatat sekitar 43 persen pria Indonesia berusia di atas 60 tahun masih memiliki dorongan seksual aktif. Dari jumlah tersebut, sekitar 31 persen mengaku pernah atau masih melakukan masturbasi sebagai bentuk penyaluran hasrat.
Perubahan hormon testosteron memang terjadi secara alami. Sejak usia 30 tahun, kadar testosteron pria menurun sekitar 1–2 persen per tahun. Akibatnya, ereksi mungkin tidak sekuat atau secepat masa muda. Namun, penurunan ini bukan berarti fungsi seksual berhenti total. Banyak pria lansia tetap memiliki kehidupan seksual yang sehat, meski dengan cara yang berbeda.
Dari sudut pandang medis, masturbasi pada pria lansia umumnya aman jika dilakukan secara wajar. Bahkan, sejumlah penelitian internasional menunjukkan adanya manfaat kesehatan. Salah satunya terkait kesehatan prostat. Penelitian dalam *British Journal of Urology International* menyebutkan pria yang mengalami ejakulasi secara teratur memiliki risiko lebih rendah terkena kanker prostat.
Selain itu, orgasme memicu pelepasan hormon endorfin yang membantu tubuh merasa rileks, mengurangi nyeri, dan memperbaiki kualitas tidur. Bagi lansia yang kerap mengalami nyeri sendi atau gangguan tidur, efek relaksasi ini bisa memberikan manfaat tambahan. Aktivitas seksual juga membantu menjaga sirkulasi darah ke organ genital agar jaringan tetap sehat.
Manfaat lainnya bersifat psikologis. Masturbasi dapat membantu lansia merasa tetap terhubung dengan tubuhnya sendiri dan mempertahankan rasa otonomi. Dr. Dimas mencontohkan seorang pasien berusia 78 tahun yang semula merasa sangat bersalah, namun setelah memahami bahwa kondisinya normal, justru mengalami perbaikan kesehatan mental dan kepercayaan diri.
Meski demikian, risiko tetap perlu diperhatikan. Masturbasi bisa menjadi tidak sehat jika dijadikan pelarian dari kesepian, depresi, atau masalah emosional yang tidak ditangani secara profesional. Frekuensi berlebihan juga berpotensi menyebabkan kelelahan fisik atau iritasi, terutama pada tubuh lansia yang kemampuan pemulihannya sudah menurun.
Bagi lansia yang masih memiliki pasangan, masturbasi tidak seharusnya menggantikan keintiman emosional. Kurangnya komunikasi dapat memicu kesalahpahaman dan jarak dalam hubungan. Dr. Dimas menekankan bahwa keintiman bukan semata persoalan fisik, melainkan juga kedekatan batin yang perlu dijaga bersama.
Sejumlah mitos pun perlu diluruskan. Masturbasi tidak menyebabkan penuaan dini, kelemahan tubuh, maupun impotensi. Faktor utama disfungsi ereksi justru berasal dari penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung, serta efek samping obat-obatan tertentu.
Dalam praktiknya, dr. Dimas menyarankan lansia yang masih aktif secara seksual untuk menjaga kebersihan, menggunakan pelumas berbasis air bila diperlukan, dan selalu mendengarkan sinyal tubuh. Jika muncul nyeri, luka, atau keluhan tidak biasa, konsultasi medis sangat dianjurkan.
Kesimpulannya, masturbasi di usia senja adalah hal yang normal dan tidak perlu disertai rasa malu selama dilakukan secara bijak. Setiap individu memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda. Yang terpenting adalah pemahaman, keterbukaan, serta tanggung jawab dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan hubungan sosial di usia emas.
@uli












