Mengenal Masjid ‘Dog Jumeneng’ di Komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati Cirebon

Editor Para peziarah sedang melaksanakan salat Jumat di Mesjid Dog Jumeneng, Komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon./visi.news/aep s abdullah
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Bagi yang biasa ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati ada masjid yang disebut Masjid Dog Jumeneng. Sebuah nama masjid yang tidak lumrah kedengarannya.

Masjid Dog Jumeneng  yang berada di kompleks area Astana Gunung Jati, menjadi daya pikat tersendiri bagi para peziarah dari luar kota. Tidak hanya dari segi namanya, lebih dari itu masjid yang memiliki design unik ini diperkirakan sudah berumur sekitar 8 abad yang lalu. Masjid ini sengaja dibangun secara berundak, mengikuti kontur tanah yang berada di area tersebut.

Salah seorang warga Gunung Jati, Suproni, menyebutkan Masjid Dog Jumeneng juga lazim dikenal masyarakat sebagai Masjid Sangkaka Ratu atau Masjid Syekh Syarif Hidayatullah. Masjid ini memiliki sejarah yang unik. Menurut cerita warga, asal muasal dari nama Dog Jumeneng diambil dari kisah berdirinya masjid tersebut. Konon, dahulu Syekh Quro, ulama asal Karawang, yang merupakan teman dari Syekh Datul Kahfi, menghadiahkan bangunan masjid itu untuk Kanjeng Sunan Gunung Jati. Syekh Datul Kahfi sendiri tak lain adalah guru dari Ibundanya Sunan Gunung Jati, Syarifah Mudaim atau Nyi Mas Rara Santang dan Kakaknya Pangeran Cakrabuana.

Sebagai seorang ulama yang cukup terkemuka, Syekh Quro telah melihat bahwa Sunan Gunung Jati ini akan menjadi wali besar. Sehingga ia pun menghadiahkan bangunan masjid itu untuk bekal syiar Kanjeng Sunan di tanah Jawa. “Menurut cerita sih, Syekh Quro itu memindahkan masjid ini dari Karawang ke Gunung Jati dengan cara diterbangkan dengan sekejap, sehingga munculah nama Dog Jumeneng, yang artinya dalam bahasa Indonesia, ialah muncul secara tiba-tiba,” ungkapnya.

Masjid Dog Jumeneng yang dipindahkan itu, kata Suproni, berasal dari Pulau Batah, di Karawang. Kini, keberadaannya sangat bermanfaat bagi para peziarah. Masjid itu kerap digunakana untuk salat lima waktu, salat Jumat dan salat hari raya. Masjid itu terdiri dari lima undakan, dan memiliki bangunan utama 20 x 20 meter persegi. Bangunan itu, kata Suproni, menghadap langsung ke makam Sunan Gunung Jati yang berada di depan masjid. “Bangunan utama inilah yang awalnya berdiri. Kemudian dikembangkan dan diluaskan hingga bisa menampung banyak jemaah,” tambahnya.

Baca Juga :  Berawal dari Kondangan, Sekeluarga Terpapar Corona

Suproni menyebutkan sama halnya dengan di Masjid Sang Cipta Rasa. Pintu di bangunan utama Masjid Dog Jumeneng hanya dibuka setiap malam Jumat hingga salat Jumat berakhir. “Pintu utama hanya dibuka satu kali dalam satu minggu,” tukasnya.

Ada beberapa peninggalan masjid yang masih asli, yakni mimbar dan kontruksi kayu yang masih dipertahankan. Hingga kini, masjid itu sudah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan.

Menurut salah satu kuncen di makam tersebut, kakek Tamma, seperti dikutip dari buku ‘Mengaji pada Sunang Gunung Jati’ yang ditulis Abdul Ghofar Abu Nidallah,  Dog mengandung arti anteng, tenang atau kalau dalam bahasa Arab i’tikaf. Bagitu juga pengertiannya sama dengan i’tikaf yang mengajarkan kita untuk berjiwa tenanga dan istiqomah. Kosentrasi dalam mengerjakan pekerjaan sampai dengan selesai.

Sedangkan kata Jumeneng berarti menjadi diri sendiri, dengan kesetiaan insani. Menjadi insan yang telah menyempurnakan pelaksanaan ibadah sebagai tugas hidupnya sebagai ‘Abdullah’, dan menempati maqom tertinggi di sisi Alloh. Memperoleh keagungan derajat dan kehormatan diantara mahluk pranata yang sempurna di semua sektor kehidupan sehari-hari.

Secara lahiriah, salat yang dilakukan di mesjid, ialah bersujud. Sehingga Dog Jumeneng mengandung arti sikap istiqomah dalam melaksanakan salat dengan menerapkan nilai-nilai salat itu dalam perilaku sehari-hari, untuk mencapai kesejatian sebagai hamba Alloh.

Nah, sekarang apakah nama itu masih tidak sesuai untuk nama sebuah masjid?

@muhammad purnama alam

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

FPP tak Rela Jika Ada Warga Pacira Kelaparan

Jum Mar 19 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Pengurus Forum Pemuda Pasirjambu, Ciwidey dan Rancabali ( FPP) mengaku tidak rela jika ada warga di lingkungan Pasirjambu, Ciwidey dan Rancabali (Pacira) yang kelaparan. Karena itulah para pengurus FPP melakukan aksi sosial.pembagian beras dan keperluan lainnya untuk mengurangi beban para warga Pacira tersebut. Hal itu diungkapkan Ketua […]