VISI.NEWS | BANDUNG – Saat membeli smartphone baru, banyak orang mengharapkan pengalaman menggunakan perangkat dengan performa yang cepat dan tanpa lag. Namun, kenyataannya, harapan ini semakin sulit terpenuhi. Banyak produsen smartphone yang bekerja sama dengan pengembang perangkat lunak untuk menginstal aplikasi bawaan di ponsel mereka.
Walaupun tidak menjadi masalah jika aplikasi tersebut memang diperlukan, banyak pengguna merasa terganggu. Kehadiran bloatware dapat memperlambat ponsel dan menambah tugas bagi pengguna untuk membersihkan aplikasi yang tidak berguna dari perangkat baru mereka.
Apa itu bloatware? Istilah ini telah ada sejak tahun 1990-an dan muncul dari praktik di industri komputer, di mana perusahaan perangkat lunak bekerja sama dengan produsen PC untuk menyertakan software tambahan. Kini, praktik ini juga ada di smartphone, di mana pengguna sering kali mendapati aplikasi yang menghabiskan memori.
Apakah bloatware benar-benar membuat smartphone lambat? Ya, aplikasi bloatware dapat memperlambat kinerja perangkat karena mengonsumsi ruang penyimpanan dan daya baterai, serta menghasilkan banyak notifikasi yang mengganggu.
Pengguna smartphone memiliki hak untuk menghapus bloatware. Caranya adalah dengan membuka pengaturan, mencari menu aplikasi, dan memilih aplikasi yang ingin dihapus. Namun, tidak semua aplikasi dapat dihapus; beberapa aplikasi sistem tetap akan ada meskipun tidak digunakan.
Contoh aplikasi bloatware dapat ditemukan di berbagai merek, seperti Vivo (Vivo Engineering Mode, Vivo I Manager), Samsung (Samsung Gift Indonesia, Smart Tutor), dan Xiaomi (Mi Account, Mi Security). @ffr