VISI.NEWS|BANDUNG -Manchester United kembali menoleh ke masa lalu saat menunjuk Michael Carrick sebagai manajer interim hingga akhir musim. Penunjukan ini terjadi di tengah tragedi performa yang membuat Setan Merah terlempar dari persaingan papan atas dan terancam absen dari kompetisi Eropa.
Carrick bukan nama asing di Old Trafford. Ia menghabiskan 12 tahun sebagai pemain Manchester United setelah direkrut dari Tottenham Hotspur pada 2006 dengan nilai transfer 14 juta pound. Selama periode tersebut, ia menjadi bagian penting dari era kejayaan klub dengan raihan 18 trofi, termasuk Liga Champions dan lima gelar Premier League.
“Saya tahu apa arti klub ini dan apa yang diharapkan dari Manchester United,” kata Carrick.
“Tanggung jawab ini besar, tetapi saya siap menjalankannya.”
Karier kepelatihan Carrick dimulai segera setelah ia pensiun pada akhir musim 2017-18. Ia langsung bergabung ke staf pelatih MU dan bekerja di bawah Jose Mourinho, lalu melanjutkan peran sebagai asisten Ole Gunnar Solskjaer.
Pengalaman paling krusial datang pada November 2021 saat Carrick dipercaya menjadi caretaker. Dalam tiga laga, ia membawa MU menahan Chelsea, mengalahkan Arsenal di Liga Inggris, serta menundukkan Villarreal di Liga Champions.
“Kami pernah melalui momen sulit sebelumnya dan saya belajar banyak dari situasi itu,” ujarnya.
“Yang terpenting sekarang adalah stabilitas dan kejelasan arah.”
Setelah kepergian Ralf Rangnick, Carrick memilih meninggalkan MU dan membangun reputasi sebagai pelatih kepala bersama Middlesbrough pada Oktober 2022. Di sana, ia membawa The Boro finis keempat Championship musim 2022-23 dan melaju ke playoff promosi.
Dalam 136 pertandingan bersama Middlesbrough, Carrick mencatat 63 kemenangan, 24 hasil imbang, dan 49 kekalahan. Meski gagal membawa promosi, reputasinya sebagai pelatih muda yang tenang dan metodis mulai terbentuk.
“Pengalaman di Middlesbrough membentuk saya sebagai pelatih,” kata Carrick.
“Saya belajar memimpin tim dalam tekanan dan ekspektasi tinggi.”
Kini Carrick kembali ke Manchester United dengan peran yang jauh lebih berat. Ia tak hanya diminta mengamankan hasil hingga akhir musim, tetapi juga menjaga asa klub untuk kembali ke kompetisi Eropa.
Di tengah tragedi performa dan tekanan publik Old Trafford, Carrick menghadapi ujian terbesar dalam karier manajerialnya—membuktikan bahwa legenda masa lalu masih bisa menjadi solusi di masa kini.@fajar