Search
Close this search box.

Museum Tenun di Jembrana Bali, Menjaga Warisan Budaya dan Mendorong Pariwisata

Sentra tenun Jembrana, Bali. /visi.news/aep s abdullah

Bagikan :

VISI.NEWS | JEMBRANA – Bali merupakan salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia. Pulau ini memiliki berbagai daya tarik, mulai dari alam, budaya, hingga kerajinan tangan. Salah satu kerajinan tangan yang menjadi ciri khas Bali adalah kain tenun tradisional, yang dikenal dengan nama endek.

Endek adalah kain tenun ikat yang memiliki motif dan warna yang beragam. Endek merupakan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana. Jembrana adalah kabupaten yang terletak di ujung barat pulau Bali, yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa.

Untuk melestarikan dan mengembangkan kain tenun tradisional, Pemerintah Kabupaten Jembrana telah membangun sebuah museum tenun yang menjadi pusat produksi dan pemasaran endek. Museum tenun ini bernama Sentra Tenun Jembrana, yang berlokasi di Jalan Sudirman, Negara, ibu kota kabupaten Jembrana.

Sentra Tenun Jembrana diresmikan pada Desember 2022 oleh Bupati Jembrana, I Nengah Tamba. Museum ini merupakan satu-satunya pusat tenun di Bali yang juga menyediakan tempat untuk menenun kain khas Jembrana. Museum ini menampung hasil kerajinan tenun dari 62 perajin muda yang telah dilatih oleh pemerintah daerah.

Selain itu, museum ini juga menjadi pusat oleh-oleh hasil UMKM Jembrana, yang menyediakan berbagai produk turunan dari endek, seperti tas, dompet, sarung, baju, dan lain-lain. Museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung, seperti ruang pamer, ruang edukasi, ruang workshop, dan kafe.

Bupati Jembrana, I Nengah Tamba,  mengatakan bahwa museum tenun ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah dalam melindungi kain tenun tradisional Bali, sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Surat Edaran Gubernur Nomor 04 Tahun 2021 Tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali / Kain Tenun Tradisional Bali.

Baca Juga :  Bos BI Ungkap Penyebab Dolar Tembus Rp 17.300

IMG 20231210 073219 800 x 445 piksel

IMG 20231210 073253 800 x 445 piksel
Alat tenun di museum yang ada di Sentra Tenun Jembrana, Bali. /visi.news/aep s abdullah

“Museum tenun ini juga merupakan jawaban untuk produk tenun Jembrana yang masih sering terkendala pemasaran. Lokasi ini akan menampung seluruh hasil tenun perajin Jembrana. Selain itu juga diisi berbagai produk UMKM sehingga bisa menjadi pusat oleh-oleh,” kata Bupati Tamba, belum lama ini.

Bupati Tamba juga berharap bahwa museum tenun ini dapat menjadi salah satu tujuan wisata internasional di Jembrana, yang akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Ia mengatakan bahwa Jembrana memiliki banyak potensi wisata yang menarik, seperti pantai, hutan, danau, air terjun, dan kebudayaan, seperti makepung atau karapan kerbau.

“Hari ini boleh saja masih slow, akan tetapi pada tahun 2026 begitu kunjungan wisata akan terjadi di Jembrana ini akan menjadi jadi pusat keramaian. Karena setiap tamu yang datang ke Jembrana wajib datang ke museum tenun, all in one, krematorium dan Jagatnata,” ujar Bupati Tamba.

Museum tenun ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari Kementerian Perindustrian RI, yang telah memberikan bantuan dana untuk pembangunan gedung museum. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Jembrana, I Komang Agus Adinata, mengatakan bahwa museum tenun ini merupakan pusat produksi terpadu dan pusat marketing terpadu seluruh produk yang dihasilkan masyarakat Jembrana.

“Kita sudah melatih 62 yang baru, yang umurnya 18-25 tahun. Terus yang diversifikasi produk tenun turunan ada 75. Pemasaran sesuai dengan surat pak Gubernur, terutama mewajibkan PNS menggunakan baju endek di hari Selasa dan di hari Kamis untuk pakaian adat,” kata Adinata.

Salah satu perajin tenun yang tergabung dalam museum tenun ini adalah Ni Wayan Sari, yang berusia 23 tahun. Ia mengatakan bahwa ia senang bisa belajar menenun dan menghasilkan karya yang indah dan bernilai. Ia juga berharap bahwa kain tenun Jembrana bisa lebih dikenal dan diminati oleh masyarakat luas, baik lokal maupun mancanegara.

Baca Juga :  KHUTBAH JUMAT | Kalau Mudah, Kenapa Dipersulit?

“Saya suka menenun karena bisa mengembangkan kreativitas dan menghasilkan uang. Saya juga bangga bisa melestarikan budaya Bali yang sudah langka. Saya berharap kain tenun Jembrana bisa bersaing dengan kain tenun dari daerah lain dan bisa menarik wisatawan untuk datang ke sini,” kata Ni Wayan Sari.

Museum tenun di Jembrana Bali ini merupakan salah satu contoh bagaimana kerajinan tangan bisa menjadi sarana pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. Dengan adanya museum tenun ini, diharapkan kain tenun tradisional Bali bisa tetap lestari dan berkembang, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.

@aep s abdullah

Baca Berita Menarik Lainnya :