Search
Close this search box.

Nakes RSUD Al Ihsan Mulai Kewalahan, Jumlah Jenazah Naik 300 Persen

Pelepasan jenazah dr. Ade Barsya dari RSUD Al Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang meninggal Senin (28/6/2021) pukul 01.20 WIB akibat Covid-19. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS – Tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat mulai kewalahan. Jumlah pasien terus membludak, dan jumlah jenazah yang masuk instalasi jenazah rumah sakit tersebut naik 300 persen.

“Terus terang kami sudah sangat kewalahan dengan banyaknya jenazah yang masuk ke instalasi kami dalam sebulan terakhir ini,” ungkap Dr. Ahmad Husaeni, Kepala Instalasi Kerohanian dan Kamar Jenazah RSUD Al Ihsan kepada VISI.NEWS, Senin (28/6/2021) pagi.

Diungkapkan, kalau biasanya perhari rata-rata memulasara 8 jenazah, sekarang rata-rata 24 jenazah. Dari jumlah tersebut 70 persennya meninggal akibat Covid-19. “Banyaknya korban Covid-19 ini menjadikan para tenaga kesehatan disini harus jatuh bangun. Sudah tidak terhitung yang terpapar Covid, bahkan tujuh orang diantaranya dokter dan tenaga perawat meninggal karena Covid-19 ini,” ungkapnya.

Ke tujuh tenaga kesehatan RSUD Al Ihsan yang meninggal akibat Covid-19 tersebut:
1. Oris rosidah, Inst. Gizi
2. Rini A. Gayatri, Poli Gigi
3. drg. Budi Zakaria, Poli Gigi
4. Dadan Ginanjar, SKM., SPI
5. Caca Sutisna, Medrek
6. Bidan Dede Rohaeti, Kebidanan
7. dr. Ade Barsya, MARS

dr. Ade Barsya merupakan dokter senior di rumah sakit tersebut yang meninggal Senin (28/6/2021) pukul 01.20 WIB setelah seminggu dirawat akibat Covid-19. Banyak karyawan yang merasa kehilangan atas kepergian dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Al Ihsan itu.

Masih Dirundung Masalah

Ironisnya, ditengah sibuknya mereka melayani pasien Covid-19, kesejahteraan mereka belum diperhatikan dengan baik. Hingga saat ini, kata Ahmad, maslah hak pensiun, tanggal mulai kerja (TMT) dan masalah pesangon belum selesai.

“Tanggal mulai kerja, pihak rumah sakit menghargai dari mulai tahun 2005 ke sini. Sedangkan kebanyakan karyawan bekerja sejak tahun 95-an. Artinya masa kerja karyawan di bawah tahun 2005 dianulir secara sepihak,” ungkap Ahmad.

Baca Juga :  May Day Jogja Dijaga Humanis Demi Aspirasi Buruh

Semula ia berharap kehadiran Gubernur Ridwan Kamil ke rumah sakit tersebut beberapa waktu lalu, bisa juga membahas masalah tersebut, namun nampaknya tidak menjadi perhatiannya. “Padahal sebelumnya kita sudah beberapa kali melayangkan surat ke Gubernur mengenai masalah karyawan ini, tapi nampaknya tidak diperhatikan,” ungkapnya.

Ia juga berharap do’a dari masyarakat agar seluruh tenaga kesehatan rumah sakit tersebut mendapat lindungan Allah, dan menyelesaikan tugas berat ini dengan baik dan tuntas.@alfa/asa

Baca Berita Menarik Lainnya :