VISI.NEWS | JAKARTA – Peneliti dari Akbar Tandjung Institute, Tardjo Ragil, menyatakan bahwa penekanan pada antikorupsi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto kepada anggota kabinetnya adalah sebuah “oase” di tengah realitas politik kekuasaan di Indonesia.
Menurut Ragil, mendiang Buya Syafii Maarif menilai situasi menyedihkan ini disebabkan oleh penyelenggara negara di berbagai cabang kekuasaan yang dibiarkan terjerumus dalam perilaku tidak etis dan mentalitas cacat. Jumlah penyelenggara negara yang terlibat dalam skandal politik, baik korupsi maupun perilaku asusila, sudah sangat banyak.
“Baru-baru ini, misalnya, Kejaksaan Agung menangkap Zarof Ricar, bekas pejabat Mahkamah Agung, sebagai makelar kasus untuk mengurus kasasi perkara pidana Gregorius Ronald Tanur. Saat digeledah, penyidik Kejaksaan menyita uang Rp 920 miliar dan emas batangan sebanyak 51 kilogram,” tulis Ragil, Selasa (29/10/2024).
Ragil juga menambahkan bahwa penekanan Prabowo mengenai antikorupsi mungkin merupakan upaya serius untuk meneruskan legasi yang ditinggalkan oleh kakek dan ayahnya. Untuk memastikan keberhasilan pemerintahan yang dipimpin, Prabowo tidak ragu untuk mengingatkan kabinetnya agar menjaga integritas dan memprioritaskan prestasi.
“Bagi Prabowo, integritas dan kapabilitas adalah syarat mutlak untuk membangun kejayaan Indonesia kedepan. Ibarat dua sisi mata uang, antara kapabilitas dan integritas itu saling melekat, tak bisa dipisahkan. Karena itu, apabila kelak ada jajaran kabinet merah putih yang performanya tak sanggup memenuhi kedua kriteria itu, sebaiknya mundur saja,” jelas Ragil.
Ia juga berharap agar Prabowo mengambil kebijakan yang tegas dan terukur di masa mendatang untuk memastikan tata kelola pemerintahan berjalan dengan baik dan bersih.
“Ini penting, mengingat tata kelola pemerintahan yang sepenuhnya diorientasikan pada keutamaan publik (bonum publicum), hanya bisa berjalan efektif manakala ditopang oleh para penyelenggara negara yang memiliki watak dan integritas moral yang baik,” tegas Ragil. @ffr