Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA ungkapan lama yang kini terasa semakin relevan: ABS Asal Bapak Senang.
Sebuah pola pikir yang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa merusak. Cukup memuji, menyanjung, memasang foto di sudut-sudut strategis, dan tiba-tiba pintu kekuasaan terbuka. Jabatan datang, fasilitas mengalir, dan lingkaran pergaulan berubah seketika.
Yang lebih memprihatinkan, praktik ini tidak lagi terasa asing. Ia merayap pelan, lalu menjadi kebiasaan. Dari ruang-ruang birokrasi hingga lembaga pendidikan, dari percakapan informal hingga keputusan strategis. Pertanyaannya: di mana letak profesionalisme, integritas, dan nurani?
Dalam sistem yang sehat, jabatan seharusnya diberikan kepada mereka yang memiliki kapasitas, kompetensi, dan rekam jejak. Namun dalam budaya ABS, yang menentukan bukan kualitas, melainkan kedekatan. Bukan kemampuan, tetapi kepatuhan. Bukan integritas, tetapi loyalitas semu.
Akibatnya, orang-orang yang sebenarnya mampu justru tersingkir. Sementara mereka yang pandai menyenangkan atasan naik ke permukaan. Di titik ini, organisasi mulai kehilangan arah. Keputusan tidak lagi berbasis kebutuhan, tetapi kepentingan. Program tidak lagi dirancang untuk kemajuan, tetapi untuk pencitraan. Dan ketika itu terjadi, tata kelola menjadi amburadul.
Dalam dunia pendidikan, situasi ini terasa semakin ironis. Guru setiap hari mengajarkan nilai: kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras. Namun di luar kelas, siswa melihat realitas yang berbeda. Mereka melihat bagaimana seseorang bisa naik bukan karena kemampuan, tetapi karena kedekatan. Mereka menyaksikan bagaimana suara lantang dukungan muncul bukan karena keyakinan, tetapi karena kepentingan.
Tanpa disadari, ini menjadi “kurikulum tersembunyi” yang jauh lebih kuat daripada pelajaran di kelas. Dan di sinilah konflik batin itu muncul. Guru berdiri di depan kelas, mengajarkan nilai. Namun di luar, nilai itu seolah dipatahkan oleh realitas.
Fenomena “Ramai Setelah Ada Jabatan”
Kita sering menyaksikan fenomena yang hampir selalu berulang. Seseorang yang sebelumnya biasa saja, bahkan tidak terlalu diperhatikan, tiba-tiba berubah ketika diberi jabatan. Bukan hanya dirinya yang berubah, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Tiba-tiba: banyak yang mendekat, banyak yang mendukung, dan banyak yang memuji
Suara-suara kritis menghilang. Yang tersisa hanyalah persetujuan. Apakah ini karena programnya hebat? Belum tentu. Sering kali, ini karena posisi, bukan prestasi. Dalam konteks ini, menjadi bagian dari “harimau” memang terlihat menggiurkan. Harimau adalah simbol kekuatan, kekuasaan, dan dominasi. Namun pertanyaannya: jika kita hanya menjadi ekornya, apa yang sebenarnya kita miliki?
Ekor harimau memang besar. Namun ia tidak menentukan arah. Ia hanya mengikuti. Ia bergerak, tetapi bukan karena kehendaknya. Ia terlihat kuat, tetapi tidak memiliki kendali. Dan di sinilah letak bahayanya. Ketika seseorang memilih menjadi “ekor harimau”, ia sedang menyerahkan kebebasan berpikirnya.
Sebaliknya, menjadi “kepala kucing” mungkin terlihat sederhana, bahkan kecil. Tidak ada kemegahan, tidak ada sorotan. Namun kepala kucing memiliki satu hal yang tidak dimiliki ekor harimau: kendali. Ia menentukan arah. Ia berpikir. Ia bertindak sesuai nurani. Mungkin tidak besar, tetapi utuh. Mungkin tidak kuat, tetapi merdeka. Dalam dunia pendidikan, inilah yang dibutuhkan. Guru yang: berpikir mandiri, tidak mudah terpengaruh, dan berani menjaga nilai
Setiap guru pada akhirnya akan dihadapkan pada pilihan. Apakah ikut arus? Ataukah menjaga prinsip? Pilihan ini tidak selalu mudah. Karena sistem sering kali memberikan tekanan. Ada rasa takut tertinggal, takut tidak diakui, atau bahkan takut tersisih. Namun di sinilah kualitas seorang pendidik diuji. Karena guru bukan hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga memberi teladan. Dan teladan itu tidak bisa diajarkan dengan kata-kata saja. Ia harus terlihat dalam sikap.
Hypnoteaching dan NLP
Dalam pendekatan NLP (Neuro-Linguistic Programming) dan hypnoteaching, perubahan yang paling kuat tidak datang dari luar, tetapi dari dalam. Seorang guru perlu: menguatkan keyakinannya, menjaga integritasnya, dan memilih kata-kata yang membangun. Karena setiap hari, guru tidak hanya berinteraksi dengan siswa, tetapi juga dengan dirinya sendiri. Apa yang ia katakan dalam hati: “Saya harus ikut agar aman,” atau “Saya tetap berdiri pada prinsip saya,” akan menentukan sikapnya. Dan sikap itulah yang akan memengaruhi siswa.
Di tengah budaya ABS yang semakin menguat, menjaga nurani menjadi tantangan tersendiri. Namun jika guru ikut larut, maka siapa yang akan menjadi penyeimbang? Jika pendidikan kehilangan integritas, maka bangsa kehilangan arah. Karena pendidikan bukan hanya tentang mencetak orang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter. Dan karakter tidak dibentuk dalam kenyamanan, tetapi dalam keberanian untuk tetap jujur.
Meskipun realitas sering kali tidak ideal, kita tidak boleh kehilangan harapan. Selama masih ada guru yang: memilih jujur daripada mudah, memilih benar daripada nyaman, dan memilih prinsip daripada kepentingan. Maka pendidikan masih memiliki masa depan. Perubahan mungkin tidak terjadi sekaligus. Namun ia dimulai dari individu. Dari satu guru. Dari satu kelas. Dari satu keputusan kecil.
Pada akhirnya, setiap dari kita akan menentukan pilihan. Menjadi bagian dari sistem tanpa arah, atau menjadi penjaga nilai di tengah arus. Menjadi ekor harimau yang besar tetapi tidak berdaya, atau menjadi kepala kucing yang kecil tetapi merdeka.
Dalam dunia pendidikan, pilihan itu bukan sekadar pilihan pribadi. Ia adalah keputusan yang akan memengaruhi generasi. Karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang kita ajarkan,
tetapi dari siapa kita sebenarnya. Maka, di tengah semua kegelisahan ini, kita perlu menegaskan kembali satu hal: lebih baik menjadi kepala kucing yang jujur, daripada ekor harimau yang kehilangan arah. Pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan besar kecilnya posisi,
tetapi keberanian untuk tetap menjadi dirinya sendiri.**