VISI.NEWS | PEKALONGAN – Perhutani KPH Pekalongan Barat memfasilitasi sosialisasi perubahan program Dana Pensiun Perhutani dari skema manfaat pasti menjadi iuran pasti yang dilaksanakan di gedung pertemuan KPH Pekalongan Barat, Kamis (30/4/2026).
Hal ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat transparansi sekaligus meningkatkan pemahaman para pensiunan terhadap sistem baru yang akan diterapkan.
Sebanyak 131 peserta pensiunan yang berasal dari Slawi, Kabupaten Tegal dan sekitarnya menghadiri kegiatan tersebut di gedung pertemuan KPH Pekalongan Barat. Sebelumnya, sosialisasi serupa juga telah dilakukan di Paguyangan pada Rabu (29/4/2026) dengan jumlah peserta 94 orang dari wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Administratur KPH Pekalongan Barat, Maria Endah Ambarwati, menegaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah strategis yang perlu dipahami secara menyeluruh oleh para peserta pensiun.
“Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan keberlanjutan dan transparansi pengelolaan dana pensiun. Kami berharap seluruh pensiunan dapat memahami perubahan ini dengan baik sehingga dapat menyamakan persepsi dan merencanakan dana pensiun yang masih berjalan secara lebih matang,” ujar Maria dikutip dari laman resmi perhutani, Kamis (30/4/2026).
Direktur Utama Dana Pensiun Perum Perhutani, Suharto, menjelaskan bahwa skema iuran pasti memberikan fleksibilitas lebih bagi peserta. Dalam sistem ini, manfaat pensiun tidak lagi ditentukan secara tetap, melainkan bergantung pada akumulasi iuran serta hasil pengembangannya.
Dari sisi analisis, perubahan ini mencerminkan tren yang lebih luas dalam pengelolaan dana pensiun, di mana perusahaan beralih dari beban jangka panjang yang pasti menuju sistem yang lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi dan risiko keuangan. Skema iuran pasti dinilai mampu memberikan keberlanjutan fiskal bagi pengelola, namun di sisi lain juga menuntut kesiapan peserta untuk lebih aktif mengelola dana pensiunnya.
Suharto menekankan bahwa dalam skema baru ini, peserta didorong untuk lebih terlibat dalam memantau perkembangan dana mereka. Hal ini sekaligus mengubah pola hubungan antara pengelola dan peserta, dari yang sebelumnya pasif menjadi lebih partisipatif.
Dalam sesi sosialisasi, peserta diberikan ruang untuk berdiskusi langsung terkait teknis pelaksanaan, hak dan kewajiban, hingga simulasi manfaat pensiun yang akan diterima. Interaksi ini menjadi penting untuk menjembatani pemahaman atas perubahan kebijakan yang cukup mendasar.
Respons positif datang dari para peserta, salah satunya Teguh Pramono yang mengapresiasi kegiatan tersebut.
“Melalui sosialisasi ini, diharapkan para pensiunan dapat memahami secara utuh perubahan program pensiun yang akan diterapkan, sehingga dapat mengambil keputusan dengan lebih bijak serta tetap merasa aman terhadap masa depan finansial mereka,” imbuhnya.
Secara keseluruhan, langkah Perhutani ini menunjukkan upaya penyesuaian terhadap perubahan lingkungan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan program pensiun. Tantangan ke depan terletak pada bagaimana memastikan seluruh peserta mampu beradaptasi dengan sistem baru yang menuntut literasi keuangan yang lebih baik. @desi