VISI.NEWS | JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember menggelontorkan anggaran sebesar Rp 75 miliar melalui program Beasiswa Cinta Bergema sebagai langkah memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Kebijakan ini membawa dampak sosial yang signifikan, terutama dalam menciptakan kepastian keberlanjutan studi bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi.
Saat Pro Gus’e Update di RSD Balung Bupati Jember, Gus Fawait, menegaskan perubahan skema beasiswa yang kini tidak lagi menggunakan sistem seleksi ulang setiap tahun. Dengan pola baru ini, mahasiswa penerima tidak perlu khawatir kehilangan bantuan di tengah jalan selama memenuhi ketentuan akademik.
“Sekali mendapatkan beasiswa, maka akan terus menerima hingga lulus, selama komitmen akademik dan IPK tetap terjaga,” ujar Gus Fawait dalam keterangannya dikutip, Kamis (30/4/2026).
Kebijakan ini dinilai memberi rasa aman secara sosial bagi mahasiswa dan keluarga mereka. Banyak keluarga di daerah yang sebelumnya menghadapi ketidakpastian biaya pendidikan kini dapat merencanakan masa depan anak dengan lebih tenang. Dampak sosial lainnya terlihat pada meningkatnya motivasi belajar mahasiswa karena mereka memiliki jaminan dukungan hingga selesai kuliah.
Pada tahap awal pencairan, sebanyak 6024 mahasiswa telah dipastikan menerima bantuan dari total 7037 pendaftar yang sudah melengkapi persyaratan administrasi. Sementara itu, kesempatan masih diberikan kepada pendaftar lain untuk melengkapi berkas hingga 8 Mei 2026 melalui Dinas Pendidikan setempat. Proses ini menunjukkan adanya upaya inklusif agar tidak ada calon penerima yang tertinggal hanya karena kendala administratif.
Selain menanggung biaya kuliah atau UKT, pemerintah daerah juga menyiapkan bantuan biaya hidup untuk enam bulan ke depan yang dijadwalkan cair pada akhir Mei 2026. Kehadiran bantuan ini memperkuat dampak sosial program karena mahasiswa tidak hanya terbantu dari sisi pendidikan formal, tetapi juga kebutuhan dasar sehari hari.
“Ini bentuk komitmen kami agar mahasiswa bisa fokus belajar tanpa terbebani biaya hidup sehari-hari,” kata Gus Fawait.
“Pendaftaran akan dibuka setelah proses penerimaan mahasiswa baru di kampus selesai, supaya lebih adil bagi semua,” jelasnya.
Dengan kebijakan ini, Pemkab Jember berharap dapat mengurangi angka putus kuliah akibat kendala biaya. Program ini juga dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Program ini juga diharapkan memberikan dampak sosial berupa meningkatnya pemerataan kesempatan pendidikan di wilayah Jember sehingga mahasiswa dari keluarga kurang mampu memiliki peluang yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.
Selain itu kepastian bantuan hingga lulus juga memperkuat rasa kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah daerah yang dinilai lebih stabil dan berkelanjutan dibanding skema sebelumnya.
Di tingkat keluarga, kebijakan ini juga membantu mengurangi beban psikologis orang tua karena adanya kepastian biaya pendidikan anak mereka hingga selesai kuliah.
Dengan adanya bantuan biaya hidup mahasiswa juga diharapkan dapat lebih fokus pada kegiatan akademik tanpa harus terbebani pekerjaan sampingan yang berlebihan sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat secara keseluruhan.
“Pendidikan adalah kunci. Kami ingin memastikan anak-anak Jember bisa kuliah dan punya masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Program ini juga menjadi simbol komitmen sosial pemerintah daerah dalam memperkuat fondasi pendidikan sebagai jalan keluar jangka panjang dari ketimpangan ekonomi. @desi