Protokol Kesehatan yang Pasti Dilanggar Pemain Sepak Bola

Aturan jarak saat pemain protes ke wasit bakal sulit diterapkan./ap/bernd thissen.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Terdapat aturan-aturan baru mengenai penyelenggaraan kompetisi sepak bola di masa pandemi virus corona, namun ada tata cara yang sulit dipatuhi karena sudah menjadi kebiasaan di lapangan hijau.

Wabah Covid-19 membuat orang harus lebih berhati-hati dalam berdekatan satu sama lain, termasuk dalam sebuah kompetisi resmi baik La Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Inggris, atau Liga Italia, dan yang lainnya.

Untuk menjamin keamanan dan keselamatan pemain di tengah liga yang harus berlanjut, beragam protokol kesehatan pun diterapkan oleh penyelenggara sedetail mungkin.

Penyemprotan disinfektan di stadion, pengecekan suhu tubuh pemain dan staf, pengaturan waktu kedatangan kesebelasan yang akan bertanding, kewajiban penggunaan satu botol untuk satu orang, hingga penggunaan masker sebelum pertandingan bakal menjadi aktivitas lumrah guna mencegah penyebaran Covid-19.

Selain penerapan protokol yang ‘mudah’ dilakukan tersebut, ada pula aturan lain yang agaknya lebih sulit diwujudkan atau setidaknya butuh waktu lama untuk dibiasakan.

Aturan mengenai larangan meludah, jarak pemain dan wasit, serta selebrasi gol dengan tatanan physical distancing menjadi perhatian khusus.

Meludah menjadi sebuah kegiatan terlarang dalam masa pandemi virus corona yang salah satu penularannya adalah melalui droplet. 

Akan tetapi di dalam sebuah pertandingan sepak bola aktivitas mengeluarkan cairan dari mulut sudah menjadi hal yang lumrah. Tak hanya mengeluarkan fluida yang berasal dari kelenjar liur, para pemain kerap terlihat mengeluarkan kembali air yang telah diminum.

Salah seorang anggota dewan FIFA, Michel D’Hooghe, menyarankan hukuman kartu kuning bagi pemain yang meludah karena alasan higienis, namun saran itu sepertinya sekadar sepintas lalu saja. Liga Inggris memastikan tidak ada aturan mengenai kartu kuning bagi pemain yang meludah ketika pertandingan kembali berjalan pekan depan.

Selain meludah, salah satu hal yang tidak jarang dijumpai dalam pertandingan sepak bola adalah aksi protes kepada wasit. Kendati keputusan wasit mutlak dan hampir tak mungkin berubah, ada kalanya pemain menyatakan ketidaksetujuan.

Biasanya pemain yang merasa diperlakukan tidak adil lantas bertatap muka dengan wasit dan bertukar kata dengan sang pengadil dalam jarak dekat.

Pemandangan seperti itu bakal dilarang, namun akan mengundang keheranan bila kita melihat pemain melakukan protes dari jarak 1,5 meter seperti yang diterapkan di Italia. 

Jaga jarak tak cuma berlaku dalam hubungan pemain dan wasit, tetapi juga pada pemain dengan rekan-rekannya terlebih ketika mencetak gol.

Erling Haaland menjadi sorotan ketika merayakan gol Dortmund ke gawang Schalke pada laga 16 Mei, ketika Liga Jerman baru kembali memutar kompetisi setelah terhenti sejak Maret. Pemain muda Norwegia itu dipuji karena menerapkan aturan yang sedang menjadi tren di masa pandemi.

Perilaku Haaland tak lantas diikuti pemain lain. Gol demi gol yang tercipta kemudian dirayakan seperti biasa pada umumnya. Para pemain selebrasi dalam jarak dekat, bahkan tos, atau berangkulan.

Hanya sehari berselang dari selebrasisocial distancing Haaland, Bundesliga menyatakan tidak akan menghukum pemain yang merayakan gol tanpa menghormati aturan jaga jarak terkait dengan perayaan gol klub Hertha Berlin yang menampilkan kecupan Dedryck Boyata kepada Marko Grujic. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Objek Wisata Tak Terapkan Protokol Kesehatan Akan Ditutup

Jum Jun 12 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS — Menjelang penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)  beberapa objek wisata di wilayah Kabupaten Bandung segera di buka. Pembukaan objek wisata ini, nenurut Bupati Bandung, H. Dadang M. Naser, sebagai upaya pemulihan ekonomi masyarakat. Namun jika objek wisata tersebut  tak memenuhi protokol kesehatan akan ditutup kenbali. Dadang menambahkan, […]