VISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin, menyoroti anomali cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sejak awal Juli 2025. Menurutnya, curah hujan tinggi di musim kemarau ini berpotensi memicu bencana alam seperti banjir dan longsor yang berdampak pada sektor pertanian.
“Saat ini kita berada di bulan Juli, namun curah hujan justru tinggi, seperti yang biasa terjadi di akhir tahun. Pergeseran musim ini menyebabkan bencana yang umumnya terjadi di penghujung tahun seperti banjir, tanah longsor, dan pergeseran tanah mulai terjadi lebih awal. Kondisi ini tentu akan berdampak signifikan terhadap hasil pertanian kita. Oleh karenanya, perubahan iklim ini harus terus menjadi fokus dalam rencana kerja Kementerian PPN nantinya,” ujarnya, Kamis (10/7/2025).
Dalam Rapat Kerja dengan Kementerian PPN/Bappenas pada Selasa lalu, Puteri juga menekankan pentingnya penanganan masalah sampah yang masih menjadi tantangan di daerah. Ia mencontohkan Kabupaten Karawang yang hanya mampu mengangkut 350 ton dari total 1.200 ton sampah per hari, ditambah sistem pengolahan TPA yang masih open dumping meskipun sudah dilarang UU.
Puteri menegaskan bahwa Bappenas perlu memprioritaskan target sanitasi aman sebesar 17% pada 2026 dan 30% pada 2029 sebagaimana tertuang dalam RPJMN dan RKP.
“Kalau kita lihat misalnya di Jakarta saja, sanitasi itu masih banyak menjadi masalah. Apalagi teman-teman kita yang tinggal di daerah bantar kali lainnya. Dengan target sanitasi aman sebesar 17% pada tahun 2026 dan 30% pada tahun 2029, tentu ini target yang sangat ambisius, sehingga membutuhkan daya dan upaya dari seluruh kementerian/lembaga.“ pungkasnya. @givary