Oleh Didi Subandi
Cimenyan.14 Januari 2026.
Pagi buta.
Suasana: Di sini, alarm alam masih berfungsi. Di kota sana? Mungkin hanya ada dengung AC dan sirine ambulan kejauhan.
Saya mengangkat cangkir kopi ini dengan takzim. Uapnya mengepul, meliuk-liuk membentuk fatamorgana kecil di udara dingin.
Sruuuput…
Ah. Hitam. Pahit. Menenangkan.
Aroma kopi ini anehnya seperti mesin waktu. Ia tidak membawa saya ke masa depan, tapi melempar ingatan saya mundur ke belakang.
[MEMORI: SEBELUM KOTA MENYERANG]
Coba Anda menyeruput kopi Anda (atau teh, atau air putih, terserahlah), lalu pejamkan mata.
Ingatkah masa itu? Masa sebelum Anda tahu apa itu deadline dan macet.
Di rumah Kakek atau di kampung halaman yang jauh.
Pagi bukan dimulai dengan kaget karena alarm HP. Pagi dimulai dengan orkestra purba: Kukuruyuuuk…
Suara itu bersahut-sahutan. Dari kandang belakang, dibalas ayam Pak RT, disambut ayam di seberang sungai.
Itu adalah tanda yang sopan dari alam: “Hei, matahari sudah datang. Mari mulai pelan-pelan.”
[REALITA: KOTA YANG BISU TAPI BERISIK]
Sekarang buka mata. Kembali ke 2026.
Di apartemen lantai 17 atau di cluster elit ini, suara itu sudah Punah.
Ayam tidak dapat visa tinggal di sini. Kandang ayam sudah digusur jadi garasi Pajero.
Suara Kukuruyuk yang damai itu kini digantikan oleh teror digital:
Tit-tit-tit (Alarm Token Listrik minta jatah).
Tring-tring (Alarm iPhone yang nadanya bikin jantungan).
Din-din! (Klakson tetangga yang telat ngantor).
Sambil menelan kopi yang mulai hangat di tenggorokan, saya sadar satu hal:
Kita kehilangan Penanda Waktu Alami. Kita tidak lagi disapa oleh Makhluk Hidup, kita dibentak oleh Mesin.
Di Cimenyan pagi ini, ayam tetangga itu sedang mengais tanah dengan santai. Dia seolah menatap kita, manusia kota yang rusuh, dengan tatapan iba, lalu memberi 3 tamparan satir:
1. Ayam Tidak Punya ‘Insomnia’
Pernah lihat ayam overthinking jam 2 pagi mikirin cicilan? Pernah lihat ayam matanya bengkak karena doom-scrolling TikTok semalaman?
Mustahil.
Begitu gelap, dia tidur. Begitu terang, dia bangun.
Sementara kita? Kita menenggak kopi ini bukan untuk menikmati pagi, tapi untuk memaksa mata terbuka melawan kelelahan akibat begadang.
Kita merusak mesin tubuh kita sendiri, lalu menyalahkan nasib.
2. Dia Tidak Minder Meski Tak Bisa Terbang
Di kota, doktrinnya satu: “Look Up!” (Lihat ke Atas).
Harus lebih kaya dari teman SMA. Harus healing ke Jepang kayak selebgram.
Kita lelah mengejar bayangan orang lain.
Ayam punya sayap, tapi dia tahu takdirnya di tanah. Dia tidak memaksa terbang setinggi Elang. Apakah dia depresi lalu ke psikiater? Tidak. Dia tetap jadi Raja di halaman belakang.
Dia bahagia dengan “Sayap Pendek”-nya, sementara kita menderita dengan ambisi tanpa batas kita.
3. Matinya “Multitasking”
Lihat ayam makan. Tuk… tuk… tuk…
Dia fokus. Paruhnya sibuk. Dia tidak makan sambil update status: “Feeling blessed, makan dedak pagi ini.”Manusia kota membanggakan Multitasking. Makan sambil balas email. Nyetir sambil Zoom. Berak pun bawa HP.
Hasilnya? Semuanya setengah-setengah. Hidup terasa hampa karena kita tidak pernah benar-benar “Hadir”.
Kangen yang Tak Terbeli
Saya menyeruput sisa kopi terakhir. Ampasnya mulai terasa di lidah, kasar dan jujur.
Di kota, Anda mungkin bisa membeli jam tangan Smartwatch seharga motor untuk memantau kualitas tidur Anda.
Tapi ironisnya, Anda tidak bisa membeli suara ayam berkokok asli yang menjamin tidur Anda berkualitas.
Mungkin benar, kota menawarkan banyak hiburan, tapi desa menyimpan banyak kehidupan.
Jika pagi ini Anda rindu suara Kukuruyuk, itu bukan sekadar nostalgia. Itu sinyal dari jiwa Anda yang lelah:
Bahwa Anda perlu melambat.
Ayam itu benar. Hidup tak perlu secepat bandwidth internet. Cukup dijalani, satu patukan demi satu patukan.
Renungan Pagi di Meja Kecil Cimenyan