VISI.NEWS | BANDUNG – Dunia pendidikan kembali berada di titik paling genting dalam sejarahnya. Masuknya kecerdasan buatan seperti ChatGPT ke ruang kelas memaksa sekolah-sekolah di seluruh dunia mempertanyakan ulang tujuan dasarnya. Apakah pendidikan sekadar mesin pencetak tenaga kerja siap pakai, atau ruang pembentukan manusia yang berkarakter, beretika, dan bermakna? Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam episode podcast In Your Opinion bertajuk Education vs. AI – Can Schools Balance ChatGPT and Character-Building?.
Dalam diskusi yang digelar The Straits Times itu, pendidikan dipotret sebagai institusi yang nyaris dilalui semua warga, namun juga paling sering diperdebatkan. Mulai dari menurunnya rentang perhatian siswa, meningkatnya kecemasan akademik, hingga kesenjangan akses teknologi, kehadiran AI justru mempertebal kegelisahan lama yang belum tuntas dijawab oleh sistem sekolah konvensional.
Deputy Opinion Editor The Straits Times, Mubin Saadat, memandu diskusi dengan dua narasumber yang memahami dunia pendidikan dari dalam dan luar kelas. Mereka adalah Elisha Tushara, koresponden pendidikan ST yang pernah mengajar selama satu dekade, serta Dr Liu Woon Chia, peneliti dan Direktur di National Institute of Education (NIE), Singapura. Ketiganya sepakat: sekolah kini berdiri di persimpangan sejarah.
AI seperti ChatGPT, di satu sisi, membuka peluang luar biasa. Siswa dapat mengakses informasi instan, menyusun ide tulisan, hingga memahami konsep sulit dengan cepat. Namun di sisi lain, kemudahan ini memunculkan kekhawatiran serius soal integritas akademik, plagiarisme terselubung, dan tumpulnya daya pikir kritis akibat ketergantungan berlebihan pada mesin.
Elisha Tushara menyoroti perubahan perilaku belajar siswa yang kian pragmatis. Ketika jawaban bisa didapat dalam hitungan detik, proses berpikir mendalam sering kali diabaikan. Sekolah pun terancam berubah dari ruang eksplorasi intelektual menjadi sekadar tempat memverifikasi hasil kerja AI, bukan lagi membangun nalar manusia.
Dr Liu Woon Chia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak pernah hanya tentang nilai ujian atau keterampilan kerja. Sekolah memiliki mandat moral untuk membentuk karakter, ketahanan mental, empati, dan kemampuan mengambil keputusan etis—hal-hal yang tidak bisa diprogram ke dalam algoritma, secerdas apa pun AI itu.
Masuknya AI juga memaksa redefinisi peran guru. Guru tidak lagi cukup menjadi penyampai materi, melainkan fasilitator pembelajaran yang membimbing siswa memahami kapan dan bagaimana teknologi boleh digunakan. Tantangannya, banyak sekolah belum memiliki kebijakan jelas tentang batas penggunaan AI, membuat guru dan siswa berjalan dalam area abu-abu.
Kekhawatiran lain yang mencuat adalah potensi hilangnya “kerja intelektual asli”. Jika AI mengambil alih proses menulis, menganalisis, dan menyimpulkan, siswa berisiko kehilangan kemampuan berpikir mendalam dan memecahkan masalah secara mandiri—padahal justru itulah esensi pendidikan.
Meski demikian, para pakar sepakat bahwa melarang AI bukanlah jawaban realistis. AI sudah menjadi bagian dari dunia yang akan dimasuki para siswa. Tantangannya adalah mengajarkan literasi AI: menjadikan teknologi sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir, apalagi kompas moral.
Diskusi ini akhirnya menegaskan satu pesan penting: sekolah memang harus didesain ulang untuk era AI, tetapi sebelum itu, masyarakat harus sepakat terlebih dahulu tentang satu hal mendasar—pendidikan ada untuk membentuk manusia seutuhnya. Jika keseimbangan antara teknologi dan nilai kemanusiaan gagal dijaga, sekolah berisiko melahirkan generasi cerdas secara teknis, namun rapuh secara karakter.
@uli