Search
Close this search box.

Serangan Rudal di Sekolah Iran Diduga Akibat Data Target Usang

Warga dan pasukan penyelamat bekerja setelah dilaporkan terjadi serangan terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, 28 Februari 2026./visi.news/source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Tragedi kematian puluhan anak di sebuah sekolah perempuan di Iran diduga terjadi akibat penggunaan data intelijen yang sudah usang dalam penentuan target militer. Informasi ini muncul di tengah penyelidikan internal militer Amerika Serikat terkait serangan yang menewaskan banyak warga sipil tersebut.

Serangan terjadi di sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran, pada hari pertama gelombang serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menurut keterangan pejabat Iran, serangan itu menewaskan sekitar 150 siswi yang berada di lokasi saat rudal menghantam area sekolah.

Laporan awal yang diungkap kantor berita Reuters menyebutkan penyelidikan internal militer Amerika Serikat menunjukkan kemungkinan besar pasukan AS bertanggung jawab atas serangan tersebut. Informasi terbaru dari dua sumber yang mengetahui proses investigasi mengungkap bahwa kesalahan penentuan target kemungkinan terjadi karena penggunaan data intelijen lama.

Salah satu sumber yang mengetahui proses penyusunan target militer mengatakan bahwa pihak yang menyusun paket target diduga menggunakan informasi yang tidak lagi diperbarui.

“Pejabat yang bertanggung jawab menyusun paket penargetan tampaknya menggunakan intelijen yang sudah usang,” kata salah satu sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut.

Sumber kedua yang juga memahami proses investigasi membenarkan bahwa penggunaan data lama kemungkinan menjadi penyebab utama kesalahan fatal dalam serangan itu. Namun hingga kini belum diketahui seberapa lama data tersebut tidak diperbarui dan bagaimana informasi lama itu bisa digunakan dalam operasi militer.

Sebuah rekaman video yang beredar di media sosial juga memperlihatkan objek yang diduga sebagai rudal jelajah jenis Tomahawk missile menghantam area di sekitar sekolah tersebut. Para analis senjata mengatakan rekaman itu tampak konsisten dengan karakteristik serangan rudal Tomahawk yang biasa digunakan militer Amerika Serikat.

Baca Juga :  IKABIO Unpad Gelar Halalbihalal di Bogor, Alumni Lintas Angkatan Pererat Silaturahmi

Meski demikian, kronologi lengkap mengenai bagaimana serangan tersebut terjadi masih belum jelas. Pihak Pentagon hingga kini belum memberikan penjelasan rinci karena investigasi masih berlangsung.

Menanggapi permintaan komentar terkait dugaan penggunaan data intelijen lama, Pentagon hanya menyampaikan bahwa kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan.

“Insiden ini sedang dalam penyelidikan,” kata pihak Pentagon dalam pernyataan singkat.

Lokasi sekolah yang menjadi sasaran juga diketahui berada berdekatan dengan sebuah kompleks militer milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elite Iran yang berada langsung di bawah komando pemimpin tertinggi negara tersebut. Kedekatan lokasi itu diduga menjadi salah satu faktor yang membuat area tersebut masuk dalam daftar target militer.

Namun para analis menilai kemungkinan kesalahan intelijen tetap menjadi faktor penting yang harus diungkap dalam penyelidikan. Jika benar terjadi kekeliruan dalam penentuan target, insiden tersebut dapat menjadi salah satu kasus korban sipil terburuk dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Ali Bahreini, menyebut serangan itu sebagai tragedi kemanusiaan yang menewaskan sekitar 150 siswi sekolah.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan tanpa bukti bahwa Iran mungkin bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun dalam pernyataan selanjutnya ia mengatakan masih menunggu hasil investigasi resmi.

“Penyelidikan masih berlangsung dan saya akan menerima hasil dari penyelidikan tersebut,” kata Trump.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak pernah secara sengaja menargetkan warga sipil dalam operasi militernya.

Menurut hukum humaniter internasional, serangan yang secara sengaja menargetkan fasilitas sipil seperti sekolah atau rumah sakit dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Baca Juga :  Alasan Dedi Mulyadi Beli Motor Warga yang Dipersulit Urus STNK

Dampak tragedi ini terlihat dalam prosesi pemakaman para korban yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran. Puluhan peti kecil yang dibalut bendera Iran dibawa oleh keluarga dan warga menuju lokasi pemakaman, menggambarkan duka mendalam yang dirasakan masyarakat setempat.

Hingga kini penyelidikan internal militer Amerika Serikat masih berlangsung, dan belum ada kepastian kapan hasil akhir investigasi tersebut akan diumumkan. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :