VISI.NEWS | CIMAHI – DI BALIK hiruk-pikuk Reuni Akbar SMAN Cimindi-13 di Pusdikjas Kota Cimahi hari ini, ada satu momen penting yang menjadi sorotan: penyerahan estafet kepemimpinan dari Gagan Wirahma, Ketua Keluarga Besar Alumni (KBA) SMAN Cimindi-13 periode 2020–2025, kepada Ketua baru, Jenderal TNI Agus Subiyanto. Dari tepuk tangan para alumni, hingga senyum hangat yang menghiasi wajah-wajah lama, satu nama selalu disebut: Gagan. Siapa sebenarnya sosok di balik kiprah panjangnya ini?
Gagan Wirahma adalah figur yang lahir dari tanah desa, tumbuh bersama akar-akar masyarakat, dan kembali menjalani takdir hidupnya—sebagai pemimpin yang melayani. “Cita-cita saya dulu sebenarnya ingin masuk IPDN,” kenangnya. Ia bahkan sempat dibawa oleh kerabatnya yang bekerja sebagai asisten gubernur menuju Gedung Sate, berharap mendapat jalan. Namun kenyataan berkata lain. Tingginya yang hanya 160 cm membuatnya gagal memenuhi syarat.
“Tapi Alhamdulillah, meski bukan dari IPDN saya tetap jadi kepala desa. Itu jalan hidup,” ucapnya pelan, seolah ingin menegaskan bahwa takdir tak pernah salah alamat. Dan benar saja, jalan panjang itu membawanya kembali ke akar keluarganya—menjadi kepala desa, seperti ayah, kakek, dan buyutnya dulu.
Gagan lahir dan besar di Desa Cianjuang, Kecamatan Parompong, Kabupaten Bandung Barat. Dari SD di desanya, lalu ke SMPN 1 Cimahi, hingga SMA di Cimindi—yang sekarang dikenal sebagai SMAN 13 Cimahi. “Saya angkatan 1987,” ujarnya bangga. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) jurusan Ilmu Politik. Kini, ia masih menjabat sebagai Kepala Desa Cianjuang, meneruskan “trah” keluarga yang sejak dulu dipercaya masyarakat.
Sejak remaja, Gagan sudah akrab dengan dunia organisasi. Ia memulai dari Karang Taruna tingkat desa, lalu menjadi Ketua Karang Taruna Kecamatan selama dua periode. Kiprahnya tak berhenti di sana. Ia ikut terlibat pada tingkat kabupaten di era Kabupaten Bandung Induk sebelum pemekaran, bekerja bersama tokoh muda saat itu, Dadang Naser.
Ia bahkan pernah memimpin LSM di bidang pendidikan dan pertanian. Dunia komunitas motor pun tak luput dari kegemarannya: Cihanjuang Touring Mencari Berkah, Baligos, hingga Berkahood pernah menjadi ruang berkumpulnya Gagan bersama para penggemar roda dua.
Perjalanan menjadi kepala desa dimulai pada tahun 2008. Saat itu, ia didorong oleh rekan-rekan Karang Taruna untuk maju sebagai calon dari kalangan pemuda. “Saya sedang terpuruk waktu itu, usaha pun sedang susah,” kenangnya. Tetapi rezeki berkata lain. Dengan modal hanya 15 juta rupiah untuk menjamu tamu dua hari menjelang pencoblosan, ia justru menang dengan dukungan besar masyarakat.
Kisah itu berulang pada periode kedua dan ketiga. “Orang-orang mungkin tidak percaya,” katanya sambil tersenyum. Periode kedua ia hanya mengeluarkan sekitar 30 juta rupiah, sementara periode ketiga sekitar 50–60 juta rupiah. Hasilnya? Ia kembali menang telak: 93%, 92%, dan di periode ketiga lebih dari 90% suara.
Baginya, tak ada rahasia besar. “Saya orang asli sana. Orang yang lahir dan besar di Cianjuang,” ucapnya. Ia hadir di tengah masyarakat bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai tetangga, saudara, dan teman. Setiap kali ada musibah—warga meninggal, ada kesulitan, ada yang sakit—Gagan berusaha hadir lebih dulu. “Kehadiran itu penting,” tegasnya. Kehadiran yang membangun kepercayaan.
Transparansi Anggaran
Dalam mengelola anggaran desa, Gagan memegang teguh prinsip keterbukaan. Setiap proyek selalu dimusyawarahkan, setiap angka dijelaskan kepada masyarakat. Banner informasi hanya pendukung; yang utama adalah dialog langsung dalam musyawarah dusun hingga desa. “Masyarakat harus tahu anggaran itu dari mana, untuk apa, dan bagaimana pelaksanaannya,” katanya.
Ia paham betul bagaimana dana desa sebenarnya terlihat besar di atas kertas—misalnya Rp1,9 miliar—tetapi ketika dibagi untuk 16 RW dan berbagai prioritas lain, angkanya mengecil. Karena itu, skala prioritas dan transparansi menjadi kunci agar tidak ada kecemburuan antarwilayah. Sebagai Sekretaris APDESI Kabupaten Bandung Barat (KBB), ia tahu persis tantangan desa-desa lain, terutama di wilayah selatan, yang memiliki jalan rusak hingga 20 kilometer yang tak mungkin selesai hanya dengan dana desa.
Inovasi
Di tengah keterbatasan itu, Gagan mendorong berbagai inovasi. Salah satunya pengelolaan sampah. Desa Cianjuang memiliki bank sampah yang dikelola ibu-ibu, bekerja sama dengan pengelola Bendungan Saguling dan Bank Sampah Bersinar Jawa Barat. Sebelumnya, pada 2009, ia bahkan sudah merintis bank sampah yang diresmikan Dede Yusuf. Kini, sampah bisa ditukar dengan uang, sembako, bahkan kredit rumah.
Gagan juga berkolaborasi dengan Polban untuk merintis pembuatan paving block dari sampah. Walau terkendala lahan, ia yakin inovasi ini akan terus berkembang. Apalagi Cianjuang adalah desa transisi, “diskotik”—di sisi kota saeutik—yang berbatasan langsung dengan Kota Cimahi sehingga dinamika lingkungannya sangat cepat.
Prestasi
Prestasi demi prestasi diraihnya. Di tingkat nasional, Desa Cianjuang pernah meraih juara pertama UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) tahun 2011. Program Bina Keluarga Balita (BKB) juga meraih juara nasional beberapa kali. Semua itu tak lepas dari kreativitas masyarakat, seperti kerajinan kupu-kupu dari limbah pasta gigi yang dahulu membawa desa ini harum hingga kancah nasional.
Filosofi
Ketika ditanya soal nilai kehidupan, Gagan tersenyum. “Hidup itu mengalir saja, seperti air,” katanya. “Segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, tapi kita tetap harus berusaha.” Filsafat sederhana itu membuatnya tetap rendah hati di tengah jabatan dan prestasi.
Sebagai pemimpin desa, ia mengaku telah melalui masa-masa efisiensi anggaran. Namun ia memastikan bahwa semua program tetap berjalan secara aman dan akuntabel, selalu didampingi pengawasan dari BPD dan kejaksaan melalui konsultasi berkala. Kuncinya tetap sama: komunikasi.
Menjelang akhir wawancara, ia menyampaikan pesan khusus untuk generasi muda. “Kejar cita-citamu,” katanya. “Tapi jangan dipaksakan. Pastikan cita-cita itu sesuai dengan hati. Bergeraklah dengan hati nurani, supaya nyaman ke depannya.” Nasihat yang lahir dari perjalanan panjang seseorang yang pernah bercita-cita menjadi tentara atau praja IPDN, tetapi akhirnya menemukan takdir terbaiknya di tanah kelahiran sendiri.
Sebagai penutup, ia tertawa kecil ketika diminta menyebutkan tinggi dan berat badan. “Tinggi 160, berat 62,” ujarnya. Tinggi yang dahulu membuatnya gagal menjadi praja, tetapi justru membuka jalan menjadi pemimpin yang jauh lebih dekat dengan rakyatnya.
Kini, di penghujung masa baktinya sebagai Ketua KBA SMAN Cimindi-13, Gagan Wirahma menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya. Namun kisah hidupnya, pengabdiannya di desa, dan dedikasinya bagi alumni akan tetap menjadi inspirasi. Karena pada akhirnya, pemimpin tidak hanya lahir dari jabatan—tetapi dari ketulusan untuk hadir bagi orang banyak.
@kanaya/herena/job