VISI.NEWS | KAMBOJA – Nama Kok An lama bergaung di perbatasan Kamboja-Thailand sebagai sosok berpengaruh yang disegani sekaligus kontroversial. Bagi sebagian orang, ia adalah senator senior, taipan kasino, dan oligark yang ikut membangun denyut ekonomi Poipet. Namun bagi penyidik internasional, nama yang dijuluki “Godfather of Poipet” itu kini identik dengan tuduhan jaringan scam, perdagangan manusia, pencucian uang, dan kejahatan lintas negara.
Pada usia 71 tahun, Kok An kini menjadi pusat perhatian setelah otoritas Thailand menjadikannya buronan dalam kasus organisasi kriminal transnasional. Langkah itu menandai babak baru dalam perjalanan seorang tokoh yang selama puluhan tahun dianggap berada di persimpangan bisnis besar dan kekuasaan politik Asia Tenggara.
Kok An lahir pada 1954 di Koh Kong, wilayah Kamboja dekat perbatasan Thailand. Berasal dari keluarga etnis Tionghoa, ia disebut membangun bisnisnya dari bawah sebelum menjelma menjadi salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di Kamboja. Imperium usahanya merambah kasino, rokok, alkohol, perikanan hingga properti, dengan Poipet menjadi jantung bisnisnya.
Namanya semakin besar ketika masuk ke lingkar elite politik Kamboja. Sebagai senator empat periode dari Cambodian People’s Party (CPP), partai penguasa yang identik dengan Hun Sen, Kok An tak hanya dikenal sebagai pengusaha, tetapi juga figur politik dengan akses luas. Ia juga menyandang gelar Okhna, status kehormatan bagi taipan yang dekat dengan kekuasaan.
Dari sinilah julukan “Godfather of Poipet” lahir. Di kota perbatasan yang dipenuhi kasino dan bisnis lintas batas itu, pengaruh Kok An begitu kuat. Poipet sendiri berkembang bukan hanya sebagai kota judi, tetapi juga simpul ekonomi informal yang belakangan banyak disorot sebagai episentrum operasi penipuan daring Asia Tenggara.
Sorotan terhadap Kok An makin tajam ketika sejumlah laporan internasional mengaitkan kompleks bisnis miliknya dengan dugaan operasi scam lintas negara. Salah satu yang paling sering disebut adalah Crown Casino di Poipet, yang pernah terseret kasus pusat pemerasan online dan dugaan aktivitas call center penipuan. Beberapa laporan investigatif bahkan menempatkan bangunan-bangunan di bawah jejaring bisnisnya sebagai bagian dari infrastruktur scam regional.
Tuduhan itu mencapai titik baru ketika pengadilan Thailand pada Juli 2025 menerbitkan surat penangkapan terhadap Kok An atas dugaan keterlibatan dalam organisasi kriminal transnasional. Polisi Thailand menggerebek 26 properti yang disebut terkait dirinya dan menyita aset lebih dari 1,1 miliar baht. Namun saat operasi dilakukan, Kok An dan keluarganya dilaporkan sudah menghilang.
Tekanan tak berhenti pada dirinya. Tiga anaknya—Juree, Phu Cherin, dan Kittisak—ikut diburu atas tuduhan serupa. Mereka bahkan kemudian kehilangan kewarganegaraan Thailand setelah otoritas menyatakan status tersebut diduga diperoleh secara ilegal. Langkah itu memperkuat kesan bahwa pemerintah Thailand tengah membongkar bukan hanya seorang tokoh, melainkan seluruh jejaring di sekelilingnya.
Profil Kok An makin kompleks karena posisinya tak hanya sebagai pengusaha kontroversial, tetapi juga sekutu lama Hun Sen. Kedekatan itu menjadikannya figur yang sulit dipisahkan dari dinamika kekuasaan Kamboja. Karena itu, banyak pengamat melihat perburuan terhadapnya bukan semata isu kriminal, tetapi juga menyentuh dimensi politik dan geopolitik.
Laporan Humanity Research Consultancy yang berbasis di Inggris bahkan menyebut Kok An sebagai salah satu “aktor kunci” dalam sektor cybercrime berbasis perdagangan manusia di Kamboja. Dalam laporan itu, ia digambarkan sebagai bagian dari oligarki yang memanfaatkan infrastruktur bisnis dan kedekatan politik untuk menopang ekosistem kriminal transnasional.
Meski begitu, di Kamboja, Kok An tetap dipandang sebagian kalangan sebagai tokoh bisnis besar yang berkontribusi dalam pembangunan ekonomi perbatasan. Dualitas inilah yang membuat profilnya begitu rumit—di satu sisi pengusaha dan senator berpengaruh, di sisi lain figur yang dibayangi tuduhan berat lintas negara.
Kini, ketika namanya masuk daftar paling dicari Thailand, citra Kok An berubah drastis. Dari penguasa kasino menjadi buronan, dari oligark menjadi simbol gelap industri scam Asia Tenggara. Namun satu hal membuat sosok ini terus menarik perhatian: hingga kini, “Godfather of Poipet” belum tertangkap.
Dan selama ia masih menghilang, misteri tentang Raja Scam Poipet itu belum benar-benar berakhir.
@uli/berbagai sumber