VISI.NEWS | BANDUNG – Pada Selasa, 10 Februari 2026, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya meskipun gelombang tekanan politik terus membesar menyusul kontroversi penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat. Isu tersebut berkembang menjadi krisis kepercayaan yang bukan hanya datang dari oposisi, tetapi juga dari dalam Partai Buruh sendiri.
Dalam pertemuan penting bersama anggota parlemen Partai Buruh di Westminster pada 10 Februari 2026, Starmer tampil dengan nada menantang sekaligus defensif. Ia menilai kepemimpinannya masih dibutuhkan untuk menjalankan mandat yang telah diberikan publik.
“Setelah berjuang begitu keras untuk kesempatan mengubah negara kita, saya tidak siap untuk meninggalkan mandat dan tanggung jawab saya,” ujar Starmer, disambut tepuk tangan dari sebagian anggota partainya.
Kontroversi ini mencuat sehari sebelumnya, Senin, 9 Februari 2026, ketika kritik terhadap penunjukan Mandelson semakin meluas. Penunjukan tersebut dinilai sejumlah pihak tidak sensitif mengingat hubungan masa lalunya dengan terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Meski tidak ada tuduhan hukum terhadap Mandelson, kedekatan tersebut memicu sorotan tajam publik dan media, serta memunculkan pertanyaan soal pertimbangan etika dalam pengangkatan pejabat diplomatik.
Tekanan terhadap Starmer kian terasa setelah pada 9 Februari 2026 Anas Sarwar, pemimpin Partai Buruh Skotlandia, secara terbuka menyerukan pengunduran diri sang perdana menteri. Dalam konferensi pers di Glasgow hari itu, Sarwar menyampaikan bahwa situasi ini telah mengganggu stabilitas partai dan pemerintahan.
“Gangguan ini harus diakhiri, dan kepemimpinan di Downing Street harus berubah,” tegasnya, menjadikannya tokoh Partai Buruh paling senior yang secara terbuka menentang posisi Starmer.
Masih pada Senin, 9 Februari 2026, lingkaran dalam pemerintahan Starmer juga mulai goyah. Kepala Komunikasi Kantor Perdana Menteri, Tim Allan, mengundurkan diri setelah tekanan publik dan politik meningkat.
Dalam pernyataan singkatnya, Allan mengatakan, “Saya telah memutuskan untuk mengundurkan diri agar tim baru di Downing Street dapat dibentuk.”
Pengunduran dirinya terjadi kurang dari 24 jam setelah Kepala Staf Perdana Menteri, Morgan McSweeney, lebih dulu melepas jabatan, memperkuat kesan adanya krisis internal di jantung pemerintahan.
Memasuki 10 Februari 2026, Starmer berusaha menunjukkan keteguhan. Ia menegaskan bahwa dirinya telah menghadapi berbagai tantangan politik sebelumnya dan tidak berniat menyerah di tengah tekanan. Sikap ini memperjelas bahwa ia memilih bertahan dan berupaya meredam badai politik yang kini menguji soliditas kepemimpinannya.
Dengan dinamika internal partai yang kian tegang sejak awal pekan Februari 2026 serta sorotan publik yang belum mereda, masa depan politik Starmer kini berada di persimpangan. Apakah ia mampu memulihkan kepercayaan dan menjaga kesatuan partai, atau justru tekanan akan terus membesar dalam beberapa hari ke depan, masih menjadi tanda tanya besar dalam panggung politik Inggris. @kanaya