Tak Hanya Tik Tok, Ini Dia Strategi Digital Marketing yang Rilis Go Mobile

ilustrasi./net
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Perkembangan Teknologi Informasi di dunia digital marketing terus berkembang dan seolah tak terbendung. Hal ini ditandai dengan lahirnya platform-platorm baru yang menuntut brand lebih kreatif dan variatif dalam memilih tempat untuk beriklan.

Diambil dari kisah TikTok, pada kuartal satu tahun 2019, aplikasi ini didownload oleh 187.3 juta pengguna, sedangkan pada kuartal 4 tahun yang sama, jumlah download aplikasi ini ditutup dengan kenaikan 15%, yaitu 219 juta pengguna. TikTok menjadi aplikasi ke-dua terbanyak diunggah di Indonesia setelah Whatsapp dengan pengguna mencapai 700 juta.

Selain TikTok, Go Mobile Indonesia dalam rilisnya merangkum beberapa strategi Digital Marketing yang patut dijalankan pada tahun ini.

Berikut ulasannya :

Mobile Native
Berkembangnya aplikasi pemblokir iklan otomatis membuat brand harus kreatif saat ingin menempatkan iklan di situs atau platform. Kini yang menjadi tren adalah iklan native, yaitu penempatan iklan yang menyerupai konten di dalam situs/platform. Iklan native tidak memberikan tempat tersendiri bagi iklan, namun menempatkan produk di dalam scene sehingga tidak terlalu tampak. Misalnya, di dinding rumah, latar belakang layar seluler, atau penggunaan kosmetik oleh pemain film. Brand kini mementingkan konten yang memberikan solusi bagi pengguna tanpa terlihat seperti “jualan”.

Native ads di stasiun TV

Audio
Voice Assistants
Pada tahun 2023 diperkirakan asisten suara seperti Siri, Amazon, Alexa, Google Assistant, Microsoft Cortana akan berkembang hingga 8 miliar pengguna. Bisa dikatakan hal ini menjadi lapak baru dalam periklanan karena brand dapat memasang konten yang didengarkan pengguna tanpa dapat dilalui, misalnya, menyambungkan dengan teknologi GPS, yang dapat merekomendasikan restoran terdekat melalui suara.

Podcasts
Naiknya konten Podcasts di Indonesia seperti di Spotify dan Youtube menaikkan kembali minat masyarakat terhadap konten suara seperti radio. Melalui Podcasts, banyak publik figur yang mengangkat topik-topik penting seperti kesehatan mental, tips mengelola keuangan, mengurus rumah tangga, dan kisah inspiratif. Untuk itu, Podcasts menjadi tempat yang menarik bagi brand untuk menaruh iklan karena tidak ada dalam jeda dan menyatu dengan konten. Beberapa cara yang bisa dilakukan seperti membuat jingles atau mengundang representative brand untuk memberikan pengetahuan mengenai keunggulan produk.

Augmented Reality

AR-Masks
AR-Masks atau lebih dikenal filter di Instagram terbukti dapat meningkatkan reach dan juga impresi pengguna. Pengguna filter cenderung akan mengunjungi akun brand untuk mencari filter lainnya dan menyimpan yang mereka sukai. Filter yang berisi prediksi, pertanyaan umum, dan hal lucu sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia.

Games
Ini juga salah satu bentuk filter yang mengintegrasikan wajah pengguna dengan games atau aktivitas. Misalnya, seorang pengguna seolah dapat menangkap chiki yang jatuh dengan mulut, mengedipkan mata untuk menjalankan karakter, atau membentuk sesuatu dengan menggerakkan wajah. Setiap pengguna rata-rata akan menjadi brand ambassador dari filter itu sendiri.

Online Fitting
Semakin banyak brand kini mengintegrasikan AR dengan aplikasi untuk meningkatkan penjualan. Fitur ini membantu pengguna untuk tidak hanya melihat produk, tapi juga menentukan mana yang paling cocok untuk mereka. Strategi ini sudah digunakan oleh brand kosmetik, furniture, baju, dan sepatu.

Influencer

Pada tahun 2019, banyak platform yang berkembang seperti TikTok dan Likee. Platform ini membuat perkembangan micro-influencer semakin pesat dan meningkatkan loyalitas komunitas. Konten di TikTok cenderung lebih singkat dengan kualitas pixel video minimum yang menghadirkan kreativitas dalam bentuk tarian atau fakta unik.

Video

Video adalah format yang sederhana dan mudah dipahami untuk semua kelompok umur. Bukan rahasia umum konten ini mendapatkan popularitas tinggi di antara masyarakat Indonesia.

Naturalness dan UGC

Pada tahun 2018, tren body positivity dan bare face makeup mulai muncul. Pengguna di media sosial telah menjadi kritis terhadap Photoshop dan hiasan realitas. Gambar yang sempurna tidak lagi menarik perhatian audiens. Oleh karena itu video POV alami dengan kamera goyang sangat populer. Orang-orang suka menjadi bagian dari apa yang terjadi dan mengintip kehidupan orang lain melalui layar. Brand mulai bekerja semakin banyak dengan UGC. Konten tersebut mendapatkan 28% lebih banyak keterlibatan daripada konten lainnya. Misalnya, Apple dan GoPro hanya memposting konten yang dibuat pengguna di akun Instagram resmi mereka.

#HashtagChallenge

Pada tahun 2019 TikTok dan Likee menjadi sangat populer dan brand bereksperimen dengan format iklan baru – seperti hashtag challenge. Mekanismenya cukup sederhana: pengguna merekam video (seringkali dengan lagu yang khusus dibuat untuk ini), meletakkan tagar dan menyelesaikan tugas kreatif (menari, menyinkronkan bibir atau berinteraksi dengan produk merek). Sebagai imbalannya pengguna menerima jangkauan tambahan dan kesempatan untuk memenangkan hadiah. UGC adalah aspek yang sangat penting dari format ini. Untuk setiap tantangan, puluhan ribu pengguna membuat konten mereka sendiri. Keterlibatan dalam interaksi dengan brand secara positif memengaruhi citra dan loyalitas brand.@edk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Relawan BOBS Berikan Bantuan APD ke Mapolsek Bandungkidul

Sel Sep 8 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Para relawan BOBS (Baraya Ojek Bandung Selatan) memberikan bantuan alat pelindung diri (APD) kepada Mapolsek Bandungkidul, Polwiltabes Bandung, melalui Unit Patroli Polsek Bandungkidul. Pemberian bantuan dilakukan di markas BOBS Peduli, Jalan Terusan Buahbatu, perbatasan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, Senin (7/9). “Kami serahkan bantuan berupa alat […]