Search
Close this search box.

Tanker AS Terbakar Usai Diserang Kapal Tanpa Awak

Sebuah kapal terbakar, setelah kapal bermuatan bahan peledak Iran tampaknya telah menyerang dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak yang membakarnya, menurut perusahaan pelabuhan, keamanan maritim, dan risiko, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, dalam tangkapan layar ini diambil dari video selebaran yang dirilis 12 Maret 2026./visi.news/ssource: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Sebuah serangan dramatis mengguncang perairan Teluk dekat Irak pada Rabu malam ketika sebuah kapal tanker milik perusahaan Amerika Serikat dihantam oleh kapal tanpa awak yang sarat bahan peledak. Insiden tersebut memicu ledakan besar yang melahap sebagian kapal dan memaksa awak kapal melompat ke laut dalam hitungan detik demi menyelamatkan diri.

Kapal tanker bernama Safesea Vishnu, yang berbendera Kepulauan Marshall, saat itu tengah berlabuh di pelabuhan Khor Al Zubair, Irak. Kapal tersebut sedang melakukan proses pemindahan muatan naphtha sebanyak sekitar 53.000 metrik ton melalui metode ship-to-ship transfer ketika serangan terjadi. Menurut temuan awal dari pemilik sekaligus operator kapal, Safesea Group yang berbasis di New Jersey, dua kapal kecil tanpa awak yang membawa bahan peledak menabrak sisi kiri kapal dan memicu ledakan hebat.

Ledakan itu dengan cepat memicu kobaran api yang menjalar di sepanjang sisi kapal tanker. Situasi berubah kacau dalam hitungan detik ketika para awak kapal berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran yang terus membesar. Tanpa sempat menurunkan sekoci penyelamat, sebagian besar awak kapal memilih melompat langsung ke laut.

“Setelah berbicara dengan awak kapal yang selamat, serangan ini tampaknya dilakukan secara sengaja dan direncanakan dengan matang,” kata Safesea Group dalam pernyataan resminya.

Perusahaan tersebut juga menambahkan bahwa awak kapal hanya memiliki sedikit waktu untuk bereaksi sebelum api menyebar dengan cepat di dek kapal.

Dari total 28 awak kapal yang berada di dalam Safesea Vishnu saat kejadian, satu orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara 27 awak lainnya berhasil diselamatkan dan kini mendapat bantuan dari Kedutaan Besar India di Irak, karena sebagian besar awak kapal merupakan warga negara India. Mereka saat ini berada dalam kondisi aman meskipun masih mengalami trauma akibat peristiwa tersebut.

Baca Juga :  Bandung Batasi Pembuangan Sampah ke TPA Sarimukti

Sementara itu, kapal tanker Safesea Vishnu dilaporkan mengalami kemiringan di perairan pelabuhan setelah ledakan. Sebuah tim penyelamat dan ahli salvaging telah dikirim ke lokasi untuk menstabilkan kapal sekaligus memastikan bahwa tidak terjadi pencemaran lingkungan laut akibat kebocoran bahan bakar atau muatan naphtha.

Insiden tersebut tidak hanya melibatkan satu kapal. Kapal lain yang ikut terlibat dalam proses pemindahan muatan, yakni tanker berbendera Malta bernama Zefyros, juga terkena dampak serangan. Manajer kapal yang berbasis di Yunani melaporkan bahwa sebuah proyektil menghantam kapal tersebut pada malam yang sama. Meski demikian, seluruh 23 awak kapal Zefyros berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa adanya korban jiwa.

Serangan ini menambah panjang daftar insiden keamanan maritim di kawasan Teluk yang meningkat sejak memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sejak pecahnya perang tersebut, setidaknya 16 kapal tanker dan kapal komersial lainnya dilaporkan menjadi target serangan di wilayah perairan strategis tersebut.

Ketegangan yang terus meningkat membuat ratusan kapal komersial lainnya memilih untuk menurunkan jangkar dan menunda perjalanan mereka. Ancaman serangan dari Iran di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang membuat perusahaan pelayaran global berhati-hati. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang digunakan untuk mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Safesea Group menilai serangan terhadap kapal komersial seperti Safesea Vishnu harus menjadi peringatan serius bagi komunitas internasional. Dalam pernyataannya, perusahaan tersebut menekankan pentingnya perlindungan terhadap jalur pelayaran global.

“Serangan ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah, otoritas maritim, dan komunitas internasional,” ujar perusahaan itu.

“Jalur pelayaran komersial tidak boleh berubah menjadi zona pertempuran.”

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh World Shipping Council yang menyebut sekitar 20.000 pelaut yang bekerja di kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Teluk saat ini menghadapi situasi keamanan yang sangat berbahaya dan penuh ketidakpastian.

Baca Juga :  Perhutani KPH Pekalongan Barat Sosialisasikan Skema Baru Dana Pensiun

Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pemerintahnya siap mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz apabila diperlukan. Namun hingga saat ini, Angkatan Laut Amerika Serikat masih menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk menyediakan pengawalan militer.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, pihak militer menilai risiko serangan di kawasan tersebut masih terlalu tinggi untuk operasi pengawalan rutin saat ini.

Serangan terhadap Safesea Vishnu menjadi pengingat betapa rapuhnya keamanan jalur perdagangan energi dunia. Di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat, para pelaut sipil kini berada di garis depan risiko yang tidak mereka pilih, namun harus mereka hadapi setiap kali kapal mereka berlayar melewati perairan paling strategis di dunia. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :