VISI.NEWS | BANDUNG – Penelitian terobosan yang dipimpin ilmuwan asal Brasil berhasil mengungkap secara rinci respons sistem kekebalan tubuh manusia pada pasien hidup pertama yang menerima transplantasi ginjal babi hasil rekayasa genetika. Studi ini membuka jalan bagi pengembangan terapi baru guna mencegah penolakan organ dalam praktik xenotransplantasi di masa depan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transplantasi ginjal babi secara teknis memungkinkan dilakukan pada manusia. Namun, para peneliti menegaskan bahwa mengendalikan penolakan awal saja tidaklah cukup. Meski pasien telah menerima obat imunosupresan, aktivasi berkelanjutan sistem imun bawaan—terutama makrofag sebagai garis pertahanan pertama tubuh—ternyata dapat mengancam kelangsungan fungsi organ dalam jangka panjang.
Melalui analisis komprehensif berbasis transkriptomik, proteomik, metabolomik, dan spasial, tim peneliti menemukan bahwa strategi baru sangat dibutuhkan agar transplantasi semacam ini dapat bertahan lama dan memberikan hasil klinis yang optimal. Mereka merekomendasikan kombinasi terapi yang menargetkan sistem imun bawaan, disertai rekayasa genetika lanjutan pada babi donor.
Xenotransplantasi sendiri merupakan prosedur pemindahan organ, jaringan, atau sel dari spesies hewan—umumnya babi hasil modifikasi genetik—ke manusia. Metode ini dinilai menjanjikan sebagai solusi krisis kekurangan organ, meskipun penolakan imun masih menjadi tantangan terbesar hingga kini.
Kasus yang diteliti melibatkan pasien hidup pertama di dunia yang menerima ginjal babi, yakni seorang pria berusia 62 tahun dengan gagal ginjal stadium akhir. Operasi dilakukan pada Maret 2024 di Massachusetts General Hospital, Boston, yang berafiliasi dengan Harvard Medical School. Tim dipimpin oleh nefrolog asal Brasil, Leonardo Riella, dan hasil risetnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Medicine pada 8 Januari 2026.
Meski pasien tersebut meninggal dua bulan kemudian, penyebab kematian diduga terkait penyakit jantung kronis yang telah dideritanya sebelumnya, bukan semata akibat transplantasi. Namun demikian, data klinis yang dikumpulkan selama periode tersebut memberikan wawasan penting mengenai mekanisme penolakan xenotransplantasi pada manusia.
Penelitian menemukan bahwa pada minggu pertama pascaoperasi, tubuh pasien mengenali ginjal babi sebagai benda asing dan memicu penolakan seluler yang dimediasi limfosit T. Penolakan ini berhasil dikendalikan dengan imunosupresan. Namun, sistem imun bawaan tetap aktif, terutama pada monosit dan makrofag, menandakan peran besar imun bawaan yang selama ini kurang diperhitungkan.
Menariknya, penolakan tersebut tidak terdeteksi melalui tes darah konvensional. Sebaliknya, kerusakan ginjal teridentifikasi melalui deteksi fragmen DNA bebas sel dari donor babi (donor-derived cell-free DNA/dd-cfDNA) dalam darah pasien. Temuan ini membuka peluang penggunaan dd-cfDNA sebagai biomarker sensitif dan noninvasif untuk memantau penolakan transplantasi secara real time.
Para peneliti menilai temuan ini krusial untuk masa depan xenotransplantasi. Dengan pemantauan yang lebih sensitif dan pendekatan imunologi yang lebih menyeluruh, transplantasi organ dari hewan ke manusia berpotensi menjadi solusi berkelanjutan bagi jutaan pasien gagal ginjal, termasuk di Brasil yang setiap tahunnya mencatat ribuan kebutuhan transplantasi ginjal.
@uli












