Search
Close this search box.

Trump Tahan Kurdi dari Konflik Iran

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One saat perjalanan menuju Florida, Sabtu (7/3/2026), menegaskan bahwa pasukan Kurdi tidak akan dilibatkan dalam konflik melawan Iran./visi.news/source: AP.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pasukan Kurdi tidak akan dilibatkan dalam konflik yang tengah memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Keputusan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, sekaligus sebagai upaya mencegah konflik berkembang menjadi lebih luas.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Sabtu (7/3/2026) saat berada di dalam pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan menuju Florida. Ia baru saja menghadiri upacara militer untuk enam tentara Amerika Serikat yang gugur akibat serangan balasan Iran.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Trump menekankan bahwa hubungan Amerika Serikat dengan kelompok Kurdi selama ini sangat baik. Namun ia menilai keterlibatan mereka dalam konflik saat ini justru berpotensi memperumit situasi yang sudah tegang.

“Kami sangat bersahabat dengan orang Kurdi, seperti yang Anda ketahui, tetapi kami tidak ingin membuat perang ini menjadi lebih rumit dari yang sudah ada. Saya telah memutuskan itu, saya tidak ingin orang Kurdi masuk,” kata Trump.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa militer Israel sedang berupaya membuka jalur bagi pasukan Kurdi untuk mengambil posisi di wilayah barat laut Iran. Langkah itu disebut bertujuan mendorong kelompok Kurdi bersenjata untuk melawan pemerintah di Teheran dan membuka tekanan baru di dalam negeri Iran.

Meski demikian, Trump mengaku telah secara langsung menyampaikan pesan kepada kelompok Kurdi agar tidak terlibat dalam operasi militer tersebut.

“Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan orang Kurdi, dan mereka mengatakan mereka siap untuk masuk. Namun saya benar-benar telah mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak ingin mereka masuk,” ujarnya.

Selama beberapa waktu terakhir, serangan udara dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta aparat penegak hukum Iran di wilayah yang mayoritas dihuni etnis Kurdi. Wilayah tersebut berada di dekat perbatasan Irak bagian utara dan selama bertahun-tahun menjadi kawasan yang sensitif secara geopolitik.

Baca Juga :  Aturan Baru FIFA Kurangi Beban Mental Pemain

Sejarah hubungan antara Amerika Serikat dan kelompok Kurdi di kawasan itu cukup panjang. Pada 1991, perlindungan udara Amerika Serikat di wilayah tersebut berperan dalam terbentuknya pemerintahan Kurdi semi-otonom di Irak yang berpusat di Erbil. Sejak saat itu, kelompok Kurdi sering menjadi mitra strategis bagi Washington dan sekutunya dalam berbagai konflik regional.

Kelompok Kurdi sendiri dikenal sebagai etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki negara sendiri. Mereka tersebar di beberapa negara seperti Irak, Iran, Turki, dan Suriah. Karena itu, keterlibatan mereka dalam konflik baru dikhawatirkan dapat memicu ketegangan lintas negara di kawasan tersebut.

Di sisi lain, para pemimpin Kurdi di Irak dilaporkan masih berhati-hati untuk menentukan sikap. Menurut sumber yang mengetahui pandangan mereka, sejumlah tokoh Kurdi belum bersedia berkomitmen untuk terlibat dalam konflik yang secara langsung melibatkan Iran.

Ketegangan semakin meningkat setelah pejabat tinggi Iran memberikan peringatan keras terkait aktivitas kelompok Kurdi di perbatasan. Pada 5 Maret lalu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani mengatakan bahwa Iran telah melakukan serangan terhadap kelompok-kelompok Kurdi di wilayah Irak.

“Iran tidak akan menoleransi gerakan separatis dalam bentuk apa pun,” kata Larijani, seraya memperingatkan bahwa pemerintah Teheran siap mengambil langkah tegas terhadap kelompok yang dianggap mengancam kedaulatan negara.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan pemerintah Turki. Ankara menilai organisasi yang mendorong separatisme Kurdi berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan mengancam keutuhan wilayah negara-negara di sekitarnya.

Sementara itu, sejumlah laporan menyebut beberapa faksi Kurdi mulai mempersiapkan kemungkinan operasi lintas batas menuju Iran. Meski demikian, para pengamat menilai kapasitas mereka masih terbatas untuk menghadapi kekuatan militer Iran secara langsung.

Baca Juga :  Bojan Hodak: Persib Siap Hadapi Arema FC di Laga Krusial

Pendiri sekaligus Presiden Middle East Research Institute yang berbasis di Erbil, Dlawer Ala’Aldeen, menilai kelompok Kurdi saat ini masih terpecah secara internal. Menurutnya, kondisi tersebut membuat mereka belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menantang negara seperti Iran.

“Kelompok-kelompok Kurdi masih terpecah dan belum memiliki kapasitas untuk secara langsung menantang negara Iran, meskipun mereka dapat menjadi titik tekanan di perbatasan Iran,” kata Ala’Aldeen.

Dengan situasi yang masih dinamis, keputusan Trump untuk menahan keterlibatan pasukan Kurdi dipandang sebagai langkah untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di Timur Tengah. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :