VISI.NEWS – Endang Sunarli, Kepala Desa Nanggewer, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dibuat gerah setelah menerima laporan dari aparat desanya yang kerap didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai wartawan.
Bahkan sang Kades Endang mengaku merasa “rudet” atas ulah oknum wartawan tersebut. Seperti yang terjadi beberapa pekan, seseorang yang mengaku wartawan dari sebuah penerbitan dan media online, berusaha datang mengejar Ketua P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) pada proyek pembuatan saluran irigasi di wilayah kerjanya.
“Saya merasa kasihan pada Ketua Kelompok P3A. Selain mengganggu ketenteraman bekerja juga terus dicarinya,” ungkap Endang kepada VISI.NEWS di ruang kerjanya, Kamis (17/7).
Orang yang mengaku wartawan tersebut, kata Endang, datang bersama rekannya dan mengaku dari sebuah penerbitan surat kabar serta media online yang ada di wilayahTasikmalaya.
“Rudet jadina teh. Hayang naon sabenerna. Mun panggih rek diajak gelut sakalian,” celoteh Endang dalam bahasa Sunda, katanya “Pusing jadinya. Mau apa sih sebenarnya. Kalau bertemu mau diajak duel sekalian.”
Orang yang mengaku wartawan, setiap kali datang, imbuhnya, belum pernah bertemu atau bertatap muka. “Malah dia selalu memghindar dari saya.”
“Mun papanggih mah rek ditangtang sakalian. Eta nurustunjungna teh langsung ka lokasi bari teu apal jujutan perkarana. Jug jug beledug we nulis,” tambahnya lagi masih dalam logat Sunda.
Hal senada juga dialami oleh Tenaga Kesejahtraan Sosial Kecamatan (TKSK), Dwi Juli Kusmorop, dirinya diminta uang untuk menambah ongkos, oleh seseorang yang mengaku wartawan.
Dalam gerak-geriknya orang yang mengaku wartawan tersebut, ungkap Dwi, terlihat dalam penampilan dan selalu datang lebih dari dua orang.
“Kadang mereka datang bertiga atau berempat. Malah cara bicaranya pun tak menyenangkan. Yang menonjol dalam pembicaraanya adalah memaksa dan menyudutkan,” kata Dwi TKSK Pageurageung Kabupaten Tasikmalaya.
Ditambahkan Dwi, orang yang mengaku-ngaku wartawan itu, datang dalam waktu yang tepat.
“Entah dari mana dia tahu bahwa saya ini sebagai koordinator. Kadang saya suka minta pertolongan kepada salah seorang rekan wartawan senior untuk menghadapi mereka,” katanya.
Di sisi lain, Abdul Latif seorang wartawan dari media online lokal, dalam menyikapi kejadian itu menyarankan untuk segera melapor ke aparat kepolisian.
“Jangan sungkan-sungkan laporkan saja ke polisi jika menemukan orang yang mengaku-ngaku wartawan buntutnya meminta duit,” kata Latif.
Atau, tambah Latif, jangan sekali-kali menanggapi pembicaraanya. Jika ditanggapi, si wartawan “kajajaden” itu akan terus mendesak yang akhirnya menyudutkan.
“Setelah berhasil menyudutkan di situlah aksi pemerasan terjadi. Usahakan hindari dan biarkan oknum wartawan itu bertingkah,” katanya. @bik