Oleh Imanuddin Hasbi
- Dosen Telkom University
TAHUN baru selalu menjadi momentum refleksi sekaligus harapan. Setelah melewati dinamika 2025 yang penuh tantangan, kini masyarakat Indonesia dan dunia menatap 2026 dengan semangat baru, meski tetap disertai kewaspadaan.
Refleksi 2025
Indonesia mencatat capaian penting sepanjang 2025. Ekonomi digital tumbuh pesat dengan nilai transaksi menembus USD 150 miliar, sementara kapasitas tenaga surya nasional mencapai 12 GW, hampir dua kali lipat dibandingkan 2024.
Di ranah politik, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa 2025 adalah “tahun fondasi” dan 2026 harus menjadi “tahun percepatan”. Ketua DPR RI Puan Maharani menambahkan: “Parlemen harus menjadi teladan transparansi. Kritik publik adalah energi untuk memperbaiki diri.”
Secara global, IMF mencatat pertumbuhan ekonomi dunia 3,3% dengan Asia sebagai motor utama. Belanja teknologi informasi melonjak hingga USD 3,6 triliun, menandai percepatan adopsi AI dan otomasi. Namun, geopolitik semakin kompleks: kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih memicu ketegangan perdagangan, sementara konflik di Timur Tengah menambah risiko rantai pasok. Tokoh dunia seperti Elon Musk menegaskan: “AI dan energi terbarukan bukan sekadar tren, melainkan fondasi masa depan umat manusia.”
Harapan 2026
Memasuki 2026, ada sejumlah harapan yang patut digarisbawahi.
- Ekonomi: Momentum pemulihan harus dijaga dengan kebijakan berpihak pada UMKM, inovasi digital, dan keberlanjutan.
- Teknologi: AI dan otomasi akan semakin masuk ke ruang kerja dan rumah tangga. Regulasi yang jelas dan etika penggunaan teknologi menjadi kunci agar manfaatnya tidak berubah menjadi ancaman.
- Sosial: Tahun baru adalah kesempatan memperkuat solidaritas. Isu lingkungan dan perubahan iklim menuntut aksi nyata, bukan sekadar wacana.
Analisis Risiko
Meski penuh harapan, 2026 juga menyimpan risiko. Ketergantungan pada impor energi fosil masih tinggi, sehingga krisis pasokan global bisa berdampak langsung pada harga domestik. Ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu perdagangan dan investasi. Disrupsi AI membawa peluang besar, tetapi juga ancaman pengangguran struktural jika tidak diantisipasi dengan kebijakan pendidikan dan keterampilan baru. Perubahan iklim semakin nyata, dengan banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang bisa mengganggu ketahanan pangan dan energi.
Rekomendasi Kebijakan
Untuk menjawab tantangan tersebut, ada beberapa langkah konkret yang perlu diprioritaskan:
- Energi & Lingkungan: Percepat transisi energi dengan target 20 GW energi terbarukan pada 2030, serta berikan insentif hijau bagi industri ramah lingkungan.
- Ekonomi & UMKM: Sediakan akses pembiayaan murah bagi UMKM berbasis digital dan dorong integrasi mereka ke rantai pasok global.
- Teknologi & Pendidikan: Luncurkan program literasi AI di sekolah dan perguruan tinggi, serta insentif bagi perusahaan yang melatih tenaga kerja dalam keterampilan digital.
- Diplomasi & Geopolitik: Perkuat kerja sama ASEAN dalam menghadapi ketidakpastian global dan fokus pada diplomasi ekonomi untuk menjaga stabilitas perdagangan.
Peran Media
Di tengah derasnya arus informasi, media seperti Visi.News memegang peran strategis. Publik membutuhkan informasi yang akurat, jernih, dan membangun. Tantangan terbesar bagi media adalah menjaga kepercayaan masyarakat, terutama ketika disinformasi begitu mudah menyebar. Media bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga penjaga nalar publik agar tetap kritis dan optimistis.
Penutup
Menyongsong 2026, kita diajak untuk tidak sekadar berharap, tetapi juga bertindak. Optimisme harus berjalan beriringan dengan kewaspadaan. Dengan solidaritas sosial, kebijakan yang berpihak pada rakyat, serta media yang bertanggung jawab, tahun ini bisa menjadi momentum kebangkitan baru bagi bangsa.***