Search
Close this search box.

VISI | Kreativitas adalah Nyawa

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

BELAKANGAN ini, beberapa sahabat penulis sering bertanya: “Bagaimana bisa begitu lancar menulis? Apakah tidak takut, dengan tulisan yang penuh kritik terhadap pemimpin, baik di pusat maupun di daerah, terutama soal dunia pendidikan? Tidakkah khawatir karier sebagai guru dipersulit?”

Pertanyaan itu tentu wajar. Apalagi, kita hidup di negeri di mana suara kritis kerap dianggap ancaman, bukan sumbangsih. Namun, bagi penulis yang juga seorang guru, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan bagian dari nyawa. Kreativitas menulis lahir dari pengalaman panjang, dari kebiasaan membaca, dari keberanian menyuarakan kebenaran. Dan seperti bernapas, ia tak bisa dihentikan begitu saja hanya karena rasa takut.

Bagi penulis, perjalanan literasi dimulai sejak bangku sekolah dasar. Kala itu, bukan di perpustakaan atau ruang baca yang nyaman, melainkan di jalanan sebagai penjual koran. Meski awalnya sekadar mencari tambahan penghasilan, kebiasaan membaca isi koran sedikit demi sedikit membuka cakrawala berpikir. Rubrik sastra, opini pendidikan, hingga berita sosial-politik menjadi bahan bacaan sehari-hari. Dari sanalah muncul kecintaan pada kata-kata.

Kebiasaan itu kemudian berkembang. Membaca bukan lagi kewajiban, melainkan kebutuhan. Menulis bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk memahami dunia. Kini, setelah puluhan tahun menjadi guru, kebiasaan itu justru semakin kuat. Setiap hari ada dorongan untuk menulis, entah berupa catatan harian, artikel, opini, atau sekadar refleksi pribadi. Kreativitas menulis adalah habit yang melekat, bukan sesuatu yang dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya: “Apakah tidak takut menulis kritik?”

Jawaban singkatnya: tidak. Menulis kritik bukan berarti mencari musuh, melainkan menyuarakan kebenaran. Apalagi, jika yang ditulis didasarkan pada data, kajian, dan daftar pustaka yang jelas, maka tulisan bukan sekadar opini kosong. Ia menjadi sebuah tanggung jawab moral.

Baca Juga :  KHUTBAH JUMAT | Mendamaikan Konflik

Dalam konteks pendidikan, kritik menjadi sangat penting. Dunia pendidikan kita sedang sakit: dari kurikulum yang berganti-ganti tanpa arah, korupsi anggaran pendidikan, hingga penghinaan terhadap guru yang disebut sebagai “beban negara.” Jika semua itu dibiarkan tanpa suara, bukankah sama artinya kita membiarkan masa depan bangsa dirampas?

Memang, ancaman atau intimidasi itu nyata. Beberapa kali penulis menerima sindiran, bahkan ancaman, karena tulisan yang dianggap “terlalu berani.” Namun, sejak awal keyakinan sudah ditanamkan: “Allah bersama orang-orang yang menyampaikan kebenaran.” Maka, untuk apa takut?

Kreativitas dalam menulis bukan hanya sekadar soal keindahan bahasa, melainkan cara bernapas bagi jiwa yang merdeka. Tanpa kreativitas, manusia akan terjebak dalam rutinitas yang kering dan beku. Kreativitas menulis adalah daya untuk terus hidup, meski di tengah suasana yang menyesakkan.

Inilah mengapa kreativitas tidak boleh dibunuh. Membatasi kebebasan berekspresi, mengancam penulis, atau menutup ruang kritis sama saja dengan membunuh nyawa bangsa. Karena bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mendengar kritik, bukan bangsa yang alergi pada suara berbeda.

Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil, menegaskan: “Jika pendidikan tidak memerdekakan, maka pendidikan itu sedang mendidik untuk penindasan.” Begitu pula dengan menulis: jika tulisan hanya dijadikan alat penjilat atau pelengkap laporan asal bapak senang, maka sesungguhnya kita sedang membunuh hakikat literasi.

Sebagai guru, menulis bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk peserta didik. Tulisan guru adalah cermin nilai, teladan keberanian, sekaligus bukti bahwa ilmu harus diiringi dengan adab. Bagaimana mungkin kita mendidik generasi kritis, jika kita sendiri takut untuk bersuara?

Kreativitas guru dalam menulis dan mengajar adalah “nyawa” pendidikan. Tanpa kreativitas, kelas hanya menjadi ruang monoton penuh hafalan. Tanpa keberanian, pendidikan hanya menjadi formalitas tanpa makna. Dengan menulis, guru membuktikan bahwa pendidikan masih punya denyut, masih punya harapan.

Baca Juga :  Pasca Banjir, Antrian Panjang BBM di SPBU Banda Aceh

Kreativitas adalah nyawa. Ia tidak bisa dibunuh hanya dengan ancaman atau intimidasi. Justru semakin ditekan, kreativitas akan mencari jalan lain untuk keluar. Sebab menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan panggilan jiwa.

Kepada para sahabat yang bertanya, apakah tidak takut menulis kritik? Jawabannya sederhana: takut itu manusiawi, tetapi diam jauh lebih menakutkan. Karena diam berarti membiarkan kebatilan berkuasa, membiarkan generasi mendatang tumbuh tanpa arah.
Maka, selama pena, tuts masih bisa digerakkan, selama hati masih peka pada kebenaran, menulis akan terus dilakukan. Karena pada akhirnya, menulis bukan hanya soal kata-kata, tetapi soal menjaga nyawa peradaban.***

  • Penulis, Doktor Ilmu Pendidikan, Mindshaper Indonesia, dan Hipnoterapis

Baca Berita Menarik Lainnya :