Oleh Nuslih Jamiat
- Dosen Telkom University
- Center of Excellence for SHE(Halal), Telkom University
Ketika Santri Bayar Kantin Pakai QRIS
PAGI itu di Pesantren Imam Syuhodo, Sukoharjo; Ahmad, santri kelas 2 Tsanawiyah, baru saja selesai shalat subuh berjamaah. Perutnya mulai keroncongan. Dia berjalan ke kantin pesantren, memesan nasi goreng dan teh manis. Yang menarik: dia tidak membawa dompet, tidak mengeluarkan uang tunai.
“Mas, pesen nasi goreng satu, teh manis,” katanya sambil menempelkan kartu RFID ke mesin yang ada di meja kantin.
“TRANSAKSI BERHASIL” muncul di layar. Selesai!
Tidak ada antrian panjang, tidak ada uang kembalian yang ribet, tidak ada resiko uang hilang. Semua tercatat otomatis di sistem. Orang tua Ahmad bahkan bisa memantau uang jajan anaknya dari rumah lewat aplikasi di HP.
Ini bukan cerita dari negara maju. Ini kejadian nyata di Indonesia, tahun 2025, di sebuah pesantren!
Inovasi Tanpa HP: QRIS untuk Santri yang Tidak Punya Smartphone
Tim Universitas Muhammadiyah Karanganyar mengembangkan sistem pembayaran QRIS tanpa handphone berbasis AI, IoT, dan biometric key yang diimplementasikan di Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo, Polokarto, Sukoharjo (Waspada).
Masalahnya sederhana tapi krusial: banyak santri belum memiliki smartphone, sementara transaksi di lingkungan pesantren semakin kompleks dari kantin, koperasi, laundry, hingga administrasi sekolah (Waspada).
Solusinya? Sistem PESANTRIS menggunakan kartu RFID dan autentikasi sidik jari, santri cukup menempelkan kartu dan sistem otomatis memproses transaksi secara real-time (Waspada). QRIS tetap menjadi backbone-nya, jadi kompatibel dengan sistem pembayaran nasional!
“Kami tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga melihat langsung bagaimana teknologi bisa bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari,” kata Agus Susilo, pimpinan pesantren.
QRIS di Pesantren: Dari Kantin Sampai Masjid
Yang lebih menarik lagi, QRIS kini merambah pesantren di seluruh Indonesia. Bank NTB Syariah meraih penghargaan sebagai Bank dengan Sinergi Program Akselerasi QRIS Terbaik di Anugerah BI NTB 2025, karena berhasil mengakselerasi QRIS secara masif mencakup transaksi di pondok pesantren dan lembaga pendidikan (Newspatroli).
Bahkan, KURMA 2025 di Kepri meluncurkan program QRIS 1.000 Masjid untuk meningkatkan efisiensi transaksi keuangan sosial syariah dengan memanfaatkan QRIS untuk pembayaran ZISWAF secara digital (TribunNews).
Bayangkan: jamaah yang mau bayar zakat, infaq, atau shadaqah tinggal scan QRIS. Transparansi meningkat, pengelolaan dana lebih rapi, dan yang paling penting—semua tercatat digital!
Data QRIS 2025: Pertumbuhan Fantastis!
Volume transaksi QRIS di Juni 2025 melonjak 148,50% secara tahunan dengan jumlah pengguna mencapai 58 juta dan lebih dari 41 juta merchant terdaftar (Republika Online). Pertumbuhan yang luar biasa! Hingga semester I 2025, jumlah merchant QRIS mencapai 39,3 juta merchant dan 93,16% di antaranya adalah UMKM (Madaninews). Dan pesantren? Mereka bagian dari revolusi ini!
Pemerintahan Prabowo: Digitalisasi sebagai Prioritas
Era Prabowo membawa angin segar, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran 2025 pada 17 November 2025 di SMPN 4 Bekasi yang menandai distribusi perangkat smartboard ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia Yunandra, termasuk pesantren! Presiden Prabowo menyetujui pendirian Direktorat Jenderal Pesantren pada 27 November 2025 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang mendorong transformasi digital dan kepemimpinan santri Snki.
Kepri memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui pengembangan Halal Center, inkubasi usaha halal melalui Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren), serta transformasi koperasi konvensional menjadi modern berbasis syariah melalui Koperasi Pondok Pesantren (TribunNews).
Ekonomi Digital: Target USD 124 Miliar di 2025
Nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi akan tumbuh hingga 23% sebesar USD124 Miliar atau setara dengan Rp1.781 Triliun di tahun 2025 Nursyamcentre. Angka yang mencengangkan!
Sektor ekonomi kreatif kini menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional, dengan nilai ekspor mencapai 13 miliar dolar AS atau 50 persen target 2025 pada pertengahan tahun 2025, dan total investasi mencapai Rp90,12 triliun atau 66 persen dari target nasional (TribunNews).
Dan pesantren? Mereka punya peluang besar untuk berkontribusi!
Motivasi Islami: Memanfaatkan Teknologi untuk Kebaikan
Rasulullah SAW bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara…” salah satunya adalah waktu. Digitalisasi adalah tentang efisiensi waktu—transaksi lebih cepat, pengelolaan lebih rapi, lebih banyak waktu untuk ibadah dan belajar.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Pesantren harus berani berubah, beradaptasi dengan teknologi, tapi tetap kokoh pada nilai-nilai Islam. Inilah transformasi yang dimaksud!
Blueprint Digitalisasi Ekonomi Pesantren
Program Pesantren Melek Digital: Kolaborasi Nyata
NCS bersama KOMISI berkeliling ke 12 Pesantren di Pulau Jawa, dari September hingga pertengahan Oktober untuk melakukan edukasi tentang pentingnya transformasi digital, mendorong pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan berkontribusi lebih dalam pengembangan ekonomi masyarakat Kapol.
Ini sejalan dengan Program Kemandirian Pesantren, salah satu program prioritas Kementerian Agama yang telah digulirkan sejak 2021 untuk mewujudkan Pesantren yang memiliki sumber daya ekonomi yang kuat dan berkelanjutan Kapol.
5 Pilar Digitalisasi Ekonomi Pesantren
Berdasarkan riset dan praktik terbaik, ada 5 pilar utama yang harus dibangun:
1. Sistem Pembayaran Digital
1) QRIS untuk kantin, koperasi, administrasi
2) E-wallet pesantren untuk jajan santri yang terpantau orang tua
3) ZISWAF digital untuk transparansi pengelolaan dana sosial
4) Payment gateway untuk bisnis pesantren yang jual online
Kiai Hasyim dari pesantren di Jombang bercerita: “Dulu kantin kami sering ada uang hilang, salah hitung kembalian, bahkan ada yang curang. Sejak pakai QRIS, semua transparan. Orang tua santri senang karena bisa pantau pengeluaran anak dari rumah.”
2. Sistem Informasi Manajemen Pesantren
1) Database santri terintegrasi
2) Sistem akademik digital untuk nilai dan rapor
3) Presensi online real-time
4) Keuangan pesantren berbasis software akuntansi
“Kami pakai sistem ERP sederhana. Dari tracking pembayaran SPP, stok inventaris, sampai laporan keuangan RAT—semua otomatis. Hemat waktu, minim error,” kata Ustadz Fajar, bendahara pesantren di Bandung.
3. Platform E-Commerce dan Marketplace
1) Toko online untuk produk pesantren (madu, kurma, buku)
2) Marketplace menghubungkan alumni yang jadi pengusaha
3) Sistem preorder untuk produk musiman (paket lebaran, dll)
4) Integrasi logistik untuk pengiriman
Nyai Romlah dari Cirebon: “Kami jual produk pesantren lewat website dan Instagram. Alhamdulillah, omzet naik 300% dalam setahun. Bahkan ada pesanan dari luar Jawa!”
4. Literasi Digital untuk Santri dan Pengurus
1) Pelatihan dasar: cara pakai QRIS, e-wallet, internet banking
2) Pelatihan lanjutan: kelola toko online, social media marketing
3) Cybersecurity: hindari phishing, penipuan online
4) Etika digital: media sosial yang sesuai syariat
Kemenperin mengadakan program bimtek untuk melatih generasi muda Indonesia agar dapat berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital nasional, dengan Bimbingan Teknis Pengembangan Industri Software Konten diberikan kepada 100 santri dari empat pesantren di Indonesia CNBC Indonesia.
5. Kolaborasi dengan Stakeholder
1) Bank: program QRIS, edukasi keuangan digital
2) Fintech: integrasi payment gateway, pinjaman modal usaha
3) Pemerintah: program digitalisasi, dana hibah
4) Kampus: riset dan pengembangan teknologi (kolaborasi dengan TELKOM University)
5) Korporat: CSR untuk infrastruktur IT
Langkah Praktis: Mulai dari Mana?
Gus Ahmad dari Yogyakarta berbagi tips:
Tahap 1: Assessment (1-2 bulan)
1) Survei kebutuhan: sistem apa yang paling urgen?
2) Cek infrastruktur: WiFi sudah stabil? Listrik cukup?
3) Budget: berapa dana yang tersedia?
Tahap 2: Pilot Project (3-6 bulan)
1) Mulai dari satu sistem dulu, misalnya QRIS untuk kantin
2) Libatkan 1-2 santri yang tech-savvy jadi tim IT
3) Evaluasi: apa yang berhasil? Apa yang perlu diperbaiki?
Tahap 3: Scale Up (6-12 bulan)
1) Perluas ke sistem lain: presensi digital, sistem akademik
2) Latih lebih banyak santri dan pengurus
3) Dokumentasi dan buat SOP
“Jangan terburu-buru ingin semua langsung digital. Bertahap, tapi konsisten. Yang penting mindset sudah berubah,” pesannya.
Tantangan dan Solusinya
1) “Pengurus tidak paham teknologi”. Solusi: Rekrut santri atau alumni yang tech-savvy jadi koordinator IT. Atau ajak mahasiswa IT untuk magang/PKL di pesantren.
2) “Infrastruktur IT mahal”. Solusi: Mulai dari yang gratis/murah dulu (QRIS, Google Workspace for Nonprofits). Setelah ada income dari digitalisasi, baru upgrade bertahap.
3) “Khawatir santri jadi kecanduan gadget”. Solusi: Aturan jelas! Gadget hanya untuk keperluan edukasi dan transaksi. Ada waktu khusus dan pengawasan ketat.
4) “Orang tua santri gaptek, tidak bisa pantau sistem digital” . Solusi: Buat UI/UX yang sangat sederhana. Kirim tutorial video singkat. Buka layanan call center untuk orang tua.
Pesantren di Garda Depan Ekonomi Digital Syariah
Pak Ahmad, pengurus pesantren di Serang yang tadinya skeptis dengan teknologi, kini jadi penggerak digitalisasi di pesantrennya. “Awalnya saya pikir teknologi itu akan merusak akhlak santri. Ternyata, kalau dikelola dengan baik dan sesuai syariat, teknologi justru mempermudah ibadah, belajar, dan ekonomi pesantren.”
Era Industri 4.0 bukan ancaman bagi pesantren, tapi peluang! Dengan 42 ribu pesantren dan 11 juta santri, potensinya sangat besar. Jika setiap pesantren punya unit ekonomi digital yang sehat, itu berarti triliunan rupiah berputar di ekonomi syariah!
Menko PMK menyoroti pentingnya pesantren melahirkan SDM unggul dengan penguasaan bahasa dan transformasi digital sebagai bekal menghadapi Smart Society 5.0 Detik News Indonesia.
Mari kita jadikan pesantren sebagai pusat ekonomi digital syariah. Dari pesantren, lahir pengusaha digital yang profesional dan berakhlak. Dari pesantren, lahir inovasi teknologi yang membawa maslahat untuk umat!
Wallahu a’lam bishawab. Semoga pesantren Indonesia terus berkembang di era digital dengan tetap teguh pada nilai-nilai Islam. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
@uli