- “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat dalam Perspektif Psikologi Langit”
Oleh A. Rusdiana
- Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
- Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
- Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
- Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan
TULISAN sebelumnya di VISI.NEWS menegaskan bahwa Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah terapi ruhani, kelas refleksi, dan laboratorium karakter. Dari muhasabah kita menemukan diri, dari rekonsiliasi kita menemukan sesama, dan dari pembiasaan ibadah kita menemukan Tuhan. Di sanalah pendidikan sejati dimulai: dari hati yang sembuh, menuju jiwa yang utuh. Refleksi ini relevan untuk diperluas ketika bangsa memasuki momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Setiap 9 Februari, HPN menjadi ruang jeda kolektif bagi insan pers dan masyarakat untuk menakar ulang peran media dalam perjalanan bangsa. Tahun 2026, HPN mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Tema ini terasa tepat, bahkan mendesak, ketika kita menatap realitas Indonesia hari ini: krisis ekologis yang berulang dari Sumatra hingga Jawa Barat, krisis pendidikan di NTT yang kian mengkhawatirkan, serta berbagai ketimpangan sosial yang belum tertangani secara berkeadilan.
Dalam konteks ini, pers tidak cukup hanya sehat secara profesional terukur dari kecepatan, akurasi, dan kepatuhan pada kode etik. Pers juga ditantang untuk sehat secara nurani. Pers yang kehilangan kepekaan batin berisiko terjebak pada logika sensasi, konflik, dan klik semata. Ia mungkin tampak hidup di layar, tetapi hampa dalam makna. Padahal, bangsa yang kuat memerlukan pers yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih secara moral.
Di sinilah konsep Psikologi Langit menemukan relevansinya. Psikologi Langit menekankan bahwa manusia termasuk jurnalis bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga makhluk spiritual. Ia membutuhkan empati, etika, dan kesadaran transenden agar daya pikirnya tidak kering dan daya kritiknya tidak membatu. Pers yang bekerja dengan Psikologi Langit tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang terjadi?”, tetapi melangkah lebih jauh: “apa makna kemanusiaan di balik peristiwa ini?”
Tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” sesungguhnya saling terhubung secara batiniah. Pers yang sehat akan melahirkan informasi yang jujur dan berimbang. Informasi yang jujur menjadi fondasi kebijakan ekonomi yang berdaulat. Dan ekonomi yang berdaulat, jika diarahkan dengan nurani, akan memperkuat bangsa, bukan hanya memperkaya segelintir elite. Namun rantai ini akan rapuh bila pers abai pada keberpihakan kemanusiaan.
Krisis lingkungan dan pendidikan yang kita saksikan hari ini adalah ujian konkret bagi nurani pers. Apakah bencana hanya diperlakukan sebagai angka korban dan kerugian? Ataukah dihadirkan sebagai panggilan etis untuk menjaga amanah bumi? Apakah krisis pendidikan di daerah tertinggal hanya menjadi berita musiman? Ataukah terus dikawal sebagai persoalan struktural yang menuntut keberlanjutan perhatian?
Hari Pers Nasional 2026 seharusnya menjadi ajakan untuk memperluas definisi kekuatan bangsa. Bangsa kuat bukan hanya karena ekonominya berdaulat, tetapi karena warganya terdidik, lingkungannya terjaga, dan batinnya dirawat. Pers berada di persimpangan strategis ini. Dengan Psikologi Langit empati dalam liputan, etika dalam narasi, dan keberpihakan pada kemanusiaan pers dapat menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar lampu sorot yang menyilaukan.
Jika Nisfu Sya’ban mengajarkan kita membersihkan hati sebelum menyambut Ramadan, maka Hari Pers Nasional semestinya menjadi momentum membersihkan nurani pers sebelum melangkah lebih jauh dalam perjalanan bangsa. Dari pers yang sehat lahir ekonomi yang berdaulat. Dari ekonomi yang berdaulat tumbuh bangsa yang kuat. Dan dari nurani yang terawat, lahir peradaban yang bermakna. Wallahua’lam.***