VISI.NEWS — Adanya informasi mengenai dua dari Tiga Srikandi bakal calon bupati (Bacabup) Bandung mendapat rekomendasi dari DPP partai masing-masing pusat, menurut Sekretaris DPD AMPI Kabupaten Bandung, H. Dadang Risdal Aziz, merupakan awal babak baru peta perpolitikan di Kabupaten Bandung.
Dari kedua rekomendasi yang diperoleh dua srikandi tersebut, disebutnya, untuk Hj. Yena Iskandar Masoem, dari PDI Perjuangan, itu sudah resmi berikut Surat Keputusan dari DPP PDI Perjuangan Sementara untuk Hj. Nia Kurnia Agustina (Teh Nia), dari Partai Golkar, meski sudah diucapkan secara lisan oleh Ketua Panitia Pelaksana Penjaringan Bakal Calon Bupati DPD Golkar Kabupaten Bandung, H. Cecep Suhendar, masih menunggu rekomendasi resmi dari pusat.
“Betul kalau Ketua Panitia Pelaksana Penjaringan Cabup dan Cawabup Bandung, sudah menyampaikan secara lisan keputusan dari pusat. Tapi tetap harus ada bukti surat rekomendasinya,” kata dia, ditemui di Komplek Pemkab Bandung, Kamis (2/7/2020).
Dinamika kemunculan para srikandi ini, menurut dia, perlu diapresiasi terlepas dari latar belakang mereka berasal. Secara hitungan politik, kedua srikandi ini sangat dimungkinkan untuk dapat bersaing, bahkan mengungguli calon bupati laki-laki nanti. Apa lagi kedua srikandi ini diusung dan didukung oleh parpol yang dikenal selama ini mempunyai pendukung ideologis yang sangat kuat dan mengakar.
Terutama untuk Teh Nia, menurut Adang, ada kemungkinan peluang untuk mengungguli calon lainnya sangat besar. Secara popularitas dan elektabilitas bisa dikatakan di atas calon lainnya, dan ini merupakan modal dasar untuk bisa memenangkan kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada).
Dia akui, kedua Srikandi tersebut mempunyai keunggulan tersendiri sehingga bisa mendapatkan rekomendasi dari pusat partainya masing-masing, seperti halnya Yena, seorang pengusaha yang dan pengelola pendidikan di Bandung dan di Kabupaten Bandung, akan lebih mudah diperkenalkan kepada khalayak , meski jejak rekam sumbangsihnya dalam dalam penentuan kebijakan arah pembangunan di Kabupaten Bandung belum terlihat.
Berbeda dengab Teh Nia, kata Dadang, selama mendampingi suaminya sebagai Bupati Bandung, telah melakukan sesuatu dalam proses keberhasilan pembangunan di daerah ini, terutama sektor pendidikan snak usia dini (PAUD), Olahraga, atau program-program pemerintah yang terkait dengan kesetaraan gender. Ini, tambah Dadang, merupakan nilai plus bagi Nia.
“Bisa sangat dimungkinkan Kabupaten Bandung akan dipimpin oleh Srikandi, yang artinya masyarakat akan mempunyai ‘Indung’ dengan tata cara kelolanya akan lebih smooth tapi tegas, merujuk pada keseharian para Srikandi,” ujarnya.
Selama imi, Dadang, menyebutkan, masyarakat Kabupaten Bandung tidak mempermasalahkan siapa pemimpinnya kelak, karena mereks saat ini cenderung lebih menilai kapasitas dan kapabilitas.
Dari pada memperdebatkan jenis kelamin dan segala mitologi yang ada, menurut Dadang lebih baik berbenah diri masing-masing tentang cara meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya, karena puncak pilkada itu akan ditentukan di bulan Desember nanti. Dari sanalah bisa diketahui siapa yang layak menjadi kepala kaerah. @qia