Search
Close this search box.

Berbagai Bank di Asia Pasifik Siap Memanfaatkan “Digital Core” yang Sesungguhnya

Ilustrasi./visi.news/ist

Bagikan :

  • Berbagai bank di Asia Pasifik siap memanfaatkan “digital core” yang sesungguhnya – menghadirkan daya saing di luar efisiensi biaya.
  • Riset terbaru dari IDC dan Thought Machine mengungkapkan kesiapan sebagian besar negara di Asia Pasifik dalam menjalani transformasi core banking—dipaparkan dalam “Digital Core Banking Opportunity Index” terbaru
  • Digital core yang sesungguhnya mendatangkan berbagai manfaat bagi bank-bank di Asia Pasifik, termasuk kegesitan, migrasi, dan efisiensi biaya

VISI.NEWS – Thought Machine, perusahaan teknologi cloud native yang memiliki kantor pusat regional Asia Pasifik di Singapura, bersama International Data Corporation (IDC), menerbitkan bagian kedua dari riset bersamanya, berjudul Truly Digital Core Banking: You Are More Ready Than You Think.

Dalam riset terbaru ini, IDC memaparkan kesiapan Asia Pasifik untuk menjalani transformasi perbankan dan jalur yang dapat ditempuh berbagai bank di kawasan tersebut untuk menerapkan teknologi modern core, serta mewujudkan pengalaman perbankan yang sepenuhnya digital.

Indeks terbaru yang dikembangkan IDC, Digital Core Banking Opportunity Index, memetakan sejumlah negara di Asia Pasifik berdasarkan dua aspek: opportunity-to-benefit dan execution readiness. Terkait aspek opportunity-to-benefit, negara-negara ini diukur menurut kesiapan nasabah dalam menggunakan layanan perbankan digital dan infrastruktur pasar. Sementara, terkait aspek readiness dimension, negara-negara diukur menurut kecenderungan perbankan untuk mengubah sistem yang lama, dan meningkatkan kemajuan infrastruktur pasarnya.

Negara-negara yang diukur dalam indeks ini adalah Australia, Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sejumlah temuan dari indeks ini menunjukkan:

  • Singapura dan Australia memiliki peluang terbesar untuk digital core banking, sementara, negara-negara lainnya siap menjalani transformasi digital.
  • Beberapa core system yang tertua berada di Filipina dan Malaysia, sementara, Vietnam memiliki core system yang relatif lebih baru.
  • Mayoritas negara-negara di Asia Pasifik yang diukur dalam indeks ini tergolong dalam segmen “Market Acceleration”: siap memanfaatkan digital core
  • Indonesia dan Thailand memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah core bank system, sedangkan, Malaysia dan Filipina lamban bermigrasi ke digital core.
Baca Juga :  Harga Pangan Nasional Bergerak Variatif Cabai dan Telur Naik

Laporan riset ini memerinci kemampuan dari teknologi digital core banking untuk memperkuat infrastruktur perbankan—bagaimana arsitektur perangkat lunak modern bisa meningkatkan kemampuan bank dalam menghadirkan layanan perbankan dan terus berinovasi. Hal tersebut, pada dasarnya, mempercepat kesiapan bank untuk melaksanakan transformasi digital yang selengkapnya.

Dalam bagian selanjutnya pada laporan riset ini, IDC memaparkan sejumlah persyaratan wajib untuk digital core modern—memuat 25 ciri khas yang harus dimiliki sistem tersebut, termasuk on-demand analytics, intelligent configuration, flexible licensing, penghematan biaya, dan lain-lain.

Michael Araneta, Head of Advisory and Research, IDC Financial Insights, berkata, “IDC telah mengkaji gelombang investasi baru dalam digital core banking system di Asia Pasifik, dan kini dapat menyatakan, berbagai bank siap memperoleh fitur-fitur core banking system generasi baru. Kini, core banking system akhirnya lebih efisien, lebih berorientasi pada nasabah, dan lebih gesit. Seharusnya, tak ada negara dan bank di kawasan ini yang menunggu ‘saat yang tepat untuk bertransformasi’. Sekarang adalah saatnya”.

Nick Wilde, Managing Director, Asia Pasifik, Thought Machine, berkata, “Negara-negara di Asia kini bisa memanfaatkan efisiensi yang ditawarkan arsitektur cloud-native, kerangka kerja yang berorientasi API, dan fitur-fitur low-code enhancement yang melekat pada digital core sesungguhnya”.

Laporan riset ini mengulas core banking engine buatan Thought Machine, Vault, dalam konteks-konteks tersebut. Evaluasi atas paradigma pengembangan low-code dan no-code mencermati pendekatan low-code Vault yang mewujudkan berbagai manfaat bagi bank-bank yang ingin tampil gesit di tengah lingkungan yang cepat berubah. Pendekatan Vault yang berorientasi pada API dan bersifat seketika (real-time), juga telah dikupas, terutama kemampuannya dalam memperingkas integrasi dengan sistem-sistem lain, terhubung dengan program Open Banking, serta membantu berbagai bank untuk memanfaatkan kanal-kanal digital terbaru.

Baca Juga :  Pengusaha Buka Suara Soal Isu Penutupan Krakatau Osaka Steel dan PHK Massal

Laporan riset ini ditutup dengan evaluasi atas pendekatan migrasi yang tersedia bagi bank-bank lama ketika bertransformasi ke sistem digital core banking. Vault diunggulkan berkat kemampuannya untuk melayani berbagai jenis migrasi: mengurangi kerumitan, risiko, dan biaya yang terdapat pada proses tersebut.@mpa

Baca Berita Menarik Lainnya :