Search
Close this search box.

Bitcoin Terpuruk, Dipandang Masih Aset Berisiko Saat Pasar Global Melemah

Bitcoin./visi.news/freepik.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan dan mencatat level terlemah sejak November, menyusul aksi jual tajam di pasar kripto pada Kamis (29/1/2026). Pelemahan ini menunjukkan bahwa harapan bitcoin sebagai lindung nilai makro belum terwujud, karena aset kripto tersebut masih diperdagangkan layaknya aset berisiko tinggi ketika pasar global bergerak turun.

Tekanan di pasar kripto terjadi di tengah pelemahan pasar keuangan tradisional. Pada perdagangan pagi waktu Amerika Serikat, dikutip dari Coindesk, indeks Nasdaq sempat anjlok lebih dari 2 persen, sementara harga emas turun hampir 10 persen dari rekor tertinggi semalam.

Meski demikian, pasar saham dan emas mampu bangkit pada sesi sore. Nasdaq akhirnya menutup perdagangan dengan penurunan sekitar 0,7 persen, sementara emas kembali menguat ke level sekitar 5.400 dolar AS per ons. Berbeda dengan itu, pasar kripto gagal mencatat pemulihan berarti dan tetap bertahan dekat level terendah harian.

Bitcoin pada saat penulisan diperdagangkan sedikit di atas 84.000 dolar AS, turun hampir 6 persen dalam 24 jam terakhir. Posisi ini menempatkan BTC di ambang penembusan rentang pergerakan dua bulan terakhir, yang berpotensi membuka jalan bagi koreksi lebih dalam.

Tekanan jual juga meluas ke aset kripto lain. Ethereum, Solana, XRP, dan Dogecoin masing-masing tercatat turun sekitar 7 persen dalam periode 24 jam. Saham dan perusahaan terkait kripto, seperti Coinbase, penerbit stablecoin Circle, serta perusahaan treasury bitcoin Strategy, ikut melemah dengan penurunan berkisar 5 hingga 10 persen.

Analis dari 21Shares, Matt Mena, menilai level 84.000 dolar AS menjadi area dukungan yang sangat krusial bagi bitcoin. Jika level ini gagal dipertahankan, target penurunan berikutnya berada di sekitar 80.000 dolar AS, disusul area 75.000 dolar AS yang terakhir terlihat saat gejolak tarif pada April 2025.

Baca Juga :  Didatangi Massa Tengah Malam, Wartawan Diintimidasi!

Meski demikian, Mena menilai harga saat ini justru menawarkan peluang masuk yang menarik bagi investor jangka menengah. Ia tetap memperkirakan bitcoin berpotensi menembus 100.000 dolar AS pada akhir kuartal pertama 2026, bahkan berpeluang mencetak rekor baru di kisaran 128.000 dolar AS apabila kondisi makroekonomi mendukung.

Pandangan lebih berhati-hati disampaikan Chief Investment Officer Ledn, John Glover. Menurutnya, aksi jual saat ini merupakan bagian dari koreksi lanjutan bitcoin sejak puncak harga Oktober lalu. Ia memperkirakan BTC masih berpotensi turun hingga sekitar 71.000 dolar AS, atau terkoreksi sekitar 43 persen dari level tertinggi sebelumnya.

Glover menambahkan, ketidakpastian yang bersumber dari Amerika Serikat membuat investor lebih memilih aset lindung nilai alternatif seperti emas dan franc Swiss. Sementara itu, bitcoin yang sempat diharapkan berperan sebagai “emas digital” justru masih diperlakukan sebagai aset berisiko dan bergerak searah dengan pasar saham.

Senada, Chief Investment Officer Hilbert Group, Russell Thompson, menilai sejumlah level teknikal penting telah ditembus ke bawah, sehingga dukungan harga bitcoin saat ini relatif terbatas. Ia juga membuka kemungkinan penurunan hingga 70.000 dolar AS, meski tetap menilai prospek jangka panjang bitcoin masih berpeluang membaik setelah tekanan pasar mereda.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :