Search
Close this search box.

Bursa Saham Asia Anjlok 6%: 5 Fakta Mengejutkan Saat Harga Minyak Dunia Tembus US$100

Bursa saham Asia anjlok akibat lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar per barel./visi.news/ist.
Layar pergerakan indeks saham global yang menunjukkan tekanan pasar setelah lonjakan harga minyak dunia./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Bursa saham Asia anjlok tajam pada perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026), setelah lonjakan harga minyak dunia yang menembus level psikologis US$100 per barel memicu kepanikan investor global. Tekanan besar terjadi di sejumlah pasar utama kawasan seperti Jepang dan Korea Selatan, yang mencatat penurunan indeks lebih dari 6 persen hanya dalam beberapa jam pertama perdagangan. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global dan potensi perlambatan ekonomi dunia.

Fenomena bursa saham Asia anjlok ini terjadi seiring melonjaknya harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Investor bereaksi cepat dengan aksi jual besar-besaran pada saham teknologi dan sektor industri yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi.

Bursa Saham Asia Anjlok Setelah Harga Minyak Dunia Melonjak

Gelombang pelemahan pasar terlihat jelas di Jepang. Indeks utama Jepang, Nikkei 225, merosot sekitar 6 persen dan jatuh di bawah level 53.000 poin untuk pertama kalinya sejak awal Februari.

Sementara itu, indeks pasar yang lebih luas, TOPIX, juga ikut melemah lebih dari 5 persen pada sesi perdagangan pagi.

Penurunan tajam ini menandai salah satu pelemahan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Investor global memilih menarik dana dari aset berisiko setelah harga energi melonjak tajam, meningkatkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut sejumlah analis pasar, bursa saham Asia anjlok terutama dipicu oleh kombinasi dua faktor utama: lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasokan energi.

Lonjakan harga minyak tersebut bahkan disebut sebagai yang tertinggi sejak 2022, ketika pasar energi sempat mengalami gejolak besar akibat konflik geopolitik global.

Baca Juga :  AS–RI Naik Kelas: Aliansi Militer Baru Picu Sorotan

Saham Teknologi Terpukul Paling Dalam

Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling terdampak saat bursa saham Asia anjlok. Di Jepang, saham raksasa investasi teknologi, SoftBank Group, jatuh hampir 10 persen dalam satu sesi perdagangan.

Beberapa perusahaan semikonduktor yang menjadi tulang punggung industri teknologi global juga mengalami tekanan besar. Saham perusahaan chip seperti, Advantest dan Lasertec keduanya tercatat merosot lebih dari 9 hingga 10 persen.

Penurunan tajam ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa biaya energi yang meningkat akan menekan profitabilitas sektor teknologi, terutama perusahaan yang bergantung pada rantai produksi global dan konsumsi listrik besar.

Selain itu, pelemahan sektor teknologi juga dipicu oleh kekhawatiran bahwa bank sentral dunia akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan inflasi akibat kenaikan harga energi.

Korea Selatan Ikut Tertekan, Indeks KOSPI Merosot Tajam

Tidak hanya Jepang, pasar saham Korea Selatan juga mengalami tekanan besar ketika bursa saham Asia anjlok pada perdagangan Senin pagi.

Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, tercatat turun sekitar 6,5 persen. Penurunan ini bahkan memicu penghentian sementara perdagangan kontrak berjangka indeks Kospi 200 melalui mekanisme circuit breaker.

Aksi jual besar-besaran juga terjadi pada saham teknologi utama Korea Selatan. Saham raksasa elektronik dunia, Samsung Electronics, tercatat jatuh lebih dari 8 persen.

Sementara itu, produsen chip memori global, SK Hynix, mengalami penurunan lebih dalam hingga sekitar 9 persen.

Para analis menilai pasar Korea Selatan sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi karena negara tersebut merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia.

Australia dan Pasar Global Ikut Terpukul

Dampak bursa saham Asia anjlok juga terlihat di Australia. Indeks utama negara tersebut, S&P/ASX 200, turun sekitar 3,6 persen pada awal perdagangan.

Baca Juga :  Evaluasi Angkutan Lebaran 2026, Erna Sari Dewi Soroti Ketimpangan Konektivitas di Bengkulu

Sentimen negatif tidak hanya terjadi di Asia. Tekanan pasar juga mulai merambat ke Amerika Serikat. Kontrak berjangka indeks saham AS seperti, Dow Jones Industrial Average, S&P 500, Nasdaq-100 juga mengalami pelemahan signifikan.

Kontrak berjangka Dow Jones dilaporkan turun lebih dari 800 poin atau sekitar 1,7 persen. Sementara kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing melemah sekitar 1,5 persen hingga 1,6 persen.

Pelemahan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga energi telah menyebar ke pasar global.

Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel

Pemicu utama bursa saham Asia anjlok adalah lonjakan harga minyak dunia yang menembus level psikologis US$100 per barel.

Harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil tercatat melonjak lebih dari 16 persen hingga sekitar US$107 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate juga naik hampir 18 persen ke level sekitar US$107 per barel.

Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan minyak global setelah sejumlah produsen minyak besar di Timur Tengah mengurangi produksi dan jalur pelayaran penting terganggu.

Salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia, Strait of Hormuz, dilaporkan mengalami gangguan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Selat tersebut diketahui menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak besar terhadap harga energi global.

Pernyataan Donald Trump Soal Lonjakan Harga Minyak

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut menanggapi lonjakan harga minyak yang memicu bursa saham Asia anjlok.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan harga kecil yang harus dibayar untuk menjaga keamanan global.

Baca Juga :  Evaluasi Mudik Lebaran 2026, Mori Hanafi Soroti Perbaikan Tol hingga Kemacetan Parah di Cipali

Ia menegaskan bahwa upaya menghadapi ancaman nuklir Iran menjadi prioritas utama meskipun berdampak pada harga energi global.

Pernyataan tersebut memicu reaksi beragam dari investor dan pelaku pasar yang khawatir konflik geopolitik berkepanjangan akan terus menekan stabilitas ekonomi global.

Dampak Terhadap Ekonomi Global

Para ekonom memperingatkan bahwa jika harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel dalam waktu lama, maka dampaknya terhadap ekonomi global bisa sangat besar.

Lonjakan harga energi berpotensi menyebabkan:

– Inflasi global meningkat

– Biaya produksi industri naik

– Konsumsi masyarakat menurun

– Pertumbuhan ekonomi melambat

Kondisi tersebut bahkan berpotensi memicu skenario stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Karena itu, banyak investor kini memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan bank sentral global untuk menentukan arah investasi selanjutnya. @desi

Baca Juga:

Asian markets slump as oil tops $100 amid Middle East tensions; Nikkei, Kospi slide

Baca Berita Menarik Lainnya :