Carok!, Kenapa Tradisi Nyawa Mudah Melayang Ada di Madura. Ini Sejarahnya

Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANGKALAN – Carok, sebuah kata yang menggambarkan pertarungan mempertahankan harga diri dengan menggunakan senjata tajam, kembali menjadi sorotan setelah insiden berdarah yang menewaskan empat orang di Bangkalan, Madura, pada Jumat (12/1/2024). Apa sebenarnya makna dan latar belakang tradisi ini?

Apa itu Carok?

Menurut Wikipedia, carok merupakan tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh masyarakat Madura untuk mempertahankan harga diri dari pelecehan orang lain³. Penyebab utamanya yaitu terjadinya pelecehan terhadap istri orang lain atau sengketa tanah dan sumber daya alam.

Carok dianggap sebagai satu-satunya cara oleh masyarakat Madura sebagai cara untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan. Ungkapan Madura yang terkenal adalah “obatnya malu adalah mati”, yang berarti lebih baik mati daripada hidup dalam kehinaan.

Bagaimana Sejarahnya?

Tradisi carok dapat ditelusuri sejak abad ke-18 Masehi di Pulau Madura. Awal kemunculannya adalah terkait dengan peristiwa penangkapan dan hukuman gantung pada pemberontak pada era penjajahan, yang bernama Pak Sakera, di Pasuruan.

Pak Sakera, seorang mandor petani tebu di pabrik gula Belanda, melawan praktik teror yang dilakukan oleh Carik Rembang atas perintah Belanda. Carik Rembang, yang bertugas mencari tanah untuk ekspansi pabrik gula Belanda, menggunakan taktik teror untuk mendapatkan tanah dengan harga murah.

Pak Sakera, tidak menerima perlakuan ini, memilih untuk membela rakyat kecil yang menjadi korban teror tersebut. Berbagai upaya dilakukan Pak Sakera untuk menggagalkan rencana Carik Rembang dan Belanda. Namun, tindakan ini membuatnya dilaporkan kepada penguasa kolonial.

Sebagai respons, Belanda menyewa seorang jagoan bernama Markasan untuk membunuh Pak Sakera. Markasan menantang Pak Sakera untuk beradu kekuatan (carok) dalam pertarungan di pabrik tebu.

Baca Juga :  Survei LSI Terbaru, Elektabilitas Ganjar - Mahfud MD Naik 3,2 Persen

Dalam pertarungan tersebut, Pak Sakera berhasil membunuh Markasan, tetapi juga terluka parah. Ia kemudian ditangkap dan digantung oleh Belanda. Sebelum meninggal, Pak Sakera berpesan kepada anaknya, Brodin, untuk melanjutkan perjuangannya.

Brodin, yang juga seorang pemberontak, kemudian berkonflik dengan Carik Rembang, yang masih berkuasa di Madura. Carik Rembang, yang dendam kepada keluarga Pak Sakera, mencoba membunuh Brodin dengan cara yang sama seperti ayahnya.

Namun, Brodin berhasil menghindari serangan Carik Rembang dan melukainya dengan celurit. Celurit adalah senjata tradisional Madura yang berbentuk sabit. Brodin kemudian melarikan diri dan bergabung dengan kelompok pemberontak lainnya.

Dari peristiwa ini, istilah “carok” muncul dan dihubungkan dengan senjata celurit. Celurit, yang awalnya adalah simbol perlawanan, menjadi simbol kekuasaan dan pertarungan antar golongan.

Bagaimana Situasi Sekarang?

Tradisi carok masih bertahan hingga kini, meskipun sudah banyak upaya untuk menghapusnya. Pemerintah, tokoh agama, dan tokoh adat berusaha untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mengedepankan hukum.

Namun, masih ada sebagian masyarakat Madura yang tetap menganggap carok sebagai cara terakhir untuk menyelesaikan masalah kehormatan. Mereka menganggap carok sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.

Salah satu contohnya adalah insiden yang terjadi di Bangkalan, Madura, pada Jumat (12/1/2024). Kejadian ini dipicu oleh ketersinggungan di jalan, yang berujung pada perkelahian dengan menggunakan senjata tajam.

Dari enam orang yang terlibat, empat di antaranya tewas dan dua menjadi tersangka. Kedua tersangka tidak mengalami luka sedikit pun. Kasus ini kemudian ditangani oleh Polres Bangkalan.

Tradisi carok, yang seharusnya menjadi bagian dari sejarah, kini menjadi mimpi buruk bagi masyarakat Madura. Carok, yang seharusnya menjadi cara untuk mempertahankan harga diri, kini menjadi alasan untuk menghilangkan nyawa.

Baca Juga :  Masker Ganda 95 Persen Efektif Cegah Percikan Droplet, Kata Dokter Reisa

@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Perluas Pembiayaan Digital, Amartha Berkolaborasi dengan Mastercard Center for Inclusive Growth dan Accion

Rab Jan 17 , 2024
Silahkan bagikan Amartha pionir layanan keuangan mikro meningkatkan transformasi digital untuk para pengusaha mikro yang belum terlayani di Indonesia. VISI.NEWS | JAKARTA – Salah satu perusahaan fintech dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, Amartha, telah berkolaborasi dengan organisasi nirlaba global Accion dan Mastercard Center for Inclusive Growth, badan amal dari Mastercard, […]