Daniel Ungkap Potensi Wisata yang Bisa Dikembangkan di Kabupaten Bandung

Editor :
Koordinator Bidang Promosi dan Pendukungan Titik Wahyuni salah satu pembicara pada Bimtek Pengenalan Wisata Bisnis (Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran/MICE) di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di Kab. Bandung, yang diselenggarakan di Graha Wirakarya, Ciparay, Kabupaten Bandung, Selasa (5/5/2021). /visi.news/alfa fadillah

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Direktur Mutu LSP PT ASITA Kompeten Indonesia, Daniel Guna Nugraha, S.Ip., mengatakan bahwa dari pengalannya mendatangkan wisatawan ke Indonesia, lebih khusus Kabupaten Bandung adalah bagaimana potensi wisata menjadi acuan untuk menjadi uang. “Menjadi devisa, menjadi PAD bagi orang-orang di sini. Jadi bukan hanya membawa orang,” ungkapnya.

Ia menyampaikan itu saat memberi materi pada Bimtek Pengenalan Wisata Bisnis yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI melalui Direktorat Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, Pameran/Mice Deputi Bidang Produksi Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) melaksanakan bimtek di Graha Wirakarya, Jln. Raya Laswi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Selasa (4/5/2021).

Lebih lanjut dikatakan kata Dabiel, kondisi pandemi Covid-19,  tidak berarti harus menghentikan aktivitas bisnis wisata, namun terus mempelajari peluang bisnis tersebut. “Alhamdulillah, pandemi memaksa saya harus bekerja di rumah, kemudian harus lebih banyak belajar dan ikhtiar mengenai kegiatan travel. Kisahnya wisatawan yang datang ke Indonesia juga tidak ada yang alasannya sama. Sejak kedatangan hanya beberapa wisatawan dari Amerika, dari Singapura, dan lain-lain itu bedannya kecil sekali. Mereka ada yang kebetulan datang ke Indonesia untuk bekerja, dan setelah meeting mereka pengen jalan-jalan. Ya saya bawa ke alam gunung ataupun bersepeda ke Puncak Tangkuban Perahu, tapi bukan melalui jalan normal jalan yang tidak biasa dilewati, jalan sukawana? Nanti turunnya downhill gila, tapi itu permintaan mereka,” ungkapnya.

Jadi, kata Daniel, pihaknya ini sebagai pelayan yang melayani apa yang diminta wisatawan.
Malaysia meeting incentive travel misalnya, memberikan insentif, itu bukan hanya memberikan hadiahnya saja tapi ada travel. “Jadi hadiah itu diberikan kepada yang tadi berprestasi kemudian kepada distributor atau reseller, ataupun mitra kerja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tak Ada UN, Ujian Sekolah, dan Ujian Kesetaraan di Tahun 2021

Daniel menggambarkan, kalau bekerja di sektor tekstil, ataupun UKM bekerja sama dengan online shopping ditanya siapa yang penjualannya bagus sekali berhak mendapatkan hadiah dari yang punya market place itu, yaitu mendapatkan hadiah perjalananyang bisa milih. Mau ke Hawai atau mau ke Bali.

“Mau ke mal di mana-mana silakan. Cuma itu kalau kita sebagai pelaku. Apa pelaku ataupun misalnya kita sebagai karyawan dalam satu tim work di kantor. Di perusahaan itu pasti aja ada namanya hadiah. Peserta berprestasi untuk mendapatkan hadiah. Perusahaan memberikan mereka hadiah agar semangat kerjanya itu naik lagi begitu, semacam ngecas,” ungkapnya.

Potensi Wisata Kab. Bandung

Ia ingin mengajak bahwa suatu saat kalau menerima tugas mendatangkan wisatawan, kalau kita menerima tamu-tamu seperti apa sih tugasnya, apalagi kalau merasa belum bekerja di bidang pariwisata. “Saya tidak punya travel dan lain-lain. Misalnya Bapak Ibu punya toko atau punya sawah itu menjadi potensi wisata. “Saya tiap hari buka komputer, buka laptop banyak membina desa wisata ternyata tidak sedikit remaja yang berminat menjadi petani. Ya lagi rame petani milenial. Kan baru-baru iniramesekali milenial. Dan, saya kecil-kecilan sudah mencoba petani milenial di wilayah Bandung Utara, di Kecamatan cimenyan,” ungkapnya. Dari sedikit lahan yang digunakan, bisa ditanam rempah, ubi dan lain-lain.

Kalau ini berkembang, bisa megajak wisatawan datang dan nantinya jadi agrowisata. “Saya yakin Kabupaten Bandung Selatan lebih banyak lagi lokasi agrowisata. Ada di sekitar Cisanti, Kertasari, ya sampai Pangalengan. Di wilayah ini kita bisa bawa wisatawan dari luar untuk datang ke sini. Terlebih, mereka yang pernah lahir atau keturunan ke empat, lima, atau tujuh dari Perani Belanda yang pernah tinggal di perkebunan ini. Kita cari alamat tempat kelahiran orang belanda itu, di Desa Pacet dan lain-lain. Kita cari rumahnya, kampungnya, sampai akhirnya kita bilang ketemu. Dan, kemudian mereka sering ke Kabupaten Bandung, bahkan setiap 2 tahun sekali sebelum pandemi, kita selalu kedatangan wisatawan Belanda reunian para pekebun dan pemilik kebun teh se-Jawa Barat se-Indonesia, yang sekarang tinggalnya di Belanda,” ungkapnya.

Baca Juga :  Viral di Medsos, Polisi Tangkap Pelaku Pengeroyokan di Café Sneakers

Mereka, kata Daniel ada yang sengaja datang mencari nenek moyangnya, ada yang keturunan Boscha, dan lain-lain. “Alhamdulillah perusahaan kami ditunjuk oleh mereka yang ada di Belanda untuk mereka reunian. Jadi dicarikanlah oleh kita ke tempat-tempat wisata itu, salah satunya ke Arjasari, TegalGede ke Pangalengan, ke Garut dan lain-lain mereka ingin melihat kesejarahannya. melihat peninggalan dan lain-lain. Jadi semua bisa jadi wisata,” tandas Daniel.

Bagitu pula yang punya Pabrik Tenun, misalnya sarung, kata Daniel, itu bisa jadi tempat wisata karena di Garut pihaknya juga datang suka mendatangkan wisatawan ke rumahnya Haji Soleh yang membuat tenun Sutra. Begitu juga pabrik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di pabrik sarung Majalaya atau Ciparay bisa menjadi potensi wisata. “Mungkin kalau di Amerika atau Eropa sana semua pekerjaan yang menggunakan ATBM itu dipublikasi. Artinya pekerjaan yang dikerjakan secara manual ATBM itu merupakan hasil karya nilainya jauh lebih mahal,” ungkapnya.

Begitu pula hamparan sawah di Solokanjeruk yang masih sangat luas, kata Daniel, itu bisa jadi tempat event park oleh banyak murid dari sekolah-sekolah di Singapura atau Malaysia yang mencari sawah. “Karena banyak diantara anak-anak sekolah ini tidak kenal apa itu sawah. Jangan jauh-jauh ya banyak siswa yang Jakarta saja yang tidak kena sawah. Bagaimana menanam padi dan mereka bayar berjuta-juta untuk bisa datang ke Bandung, kemudian diajak ‘ngawuluku’ dari mulai ‘ngarambet’ sampai kan itu ntar jadi sebuah event,” katanya.

Jadi, tandas Daniel, bagaimana yang kita punya di desa kita di kampung kita itu semua menjadi potensi wisata.

Pada pelaksanaan bimtek itu selain dihadiri anggota DPR RI H. Dede Yusuf M. Effendi, Deputi Bidang
Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Ir. Rizki Handayani, Koordinator Bidang
Promosi dan Pendukungan Titik Wahyuni. Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi
Jabar dan Kabupaten Bandung, juga hadir Dede Koswara (Kepala DPD Asperapi Provinsi Jawa Barat),
Daniel Guna Nugraha, S.Ip., (Direktur Mutu LSP PT. ASITA Kompeten Indonesia).

Baca Juga :  Doa Qunut Jadi Soal KPK, Ini Sikap Ketua PP Muhammadiyah

Bimtek pengenalan wisata bisnis itu diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari pegiat atau
pelaku wisata yang merupakan warga Kabupaten Bandung.

@maf

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bahtsul Masail PBNU Tanggapi Gus Miftah Tampil di Gereja

Rab Mei 5 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Beberapa hari lalu, pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah ramai diperbincangkan warganet karena ceramahnya di sebuah gereja di Jakarta Utara. Warganet menganggap apa yang dilakukan Gus Miftah terlalu toleran. Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU Mahbub Maafi menanggapi hal itu. Dia mengatakan apa […]