Pemberian Nama RSUD Kab. Bandung Masih Jadi Polemik

Editor :
Ketua Jamparing dan Sekretaris DPD AMPI Kab. Bandung, H. Dadang Risdal Aziz./visi.news/ki agus.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS — Pemberian nama RSUD Kab. Bandung masih jadi polemik dari 600 orang peserta yang mengusulkan nama baru RSUD yang ada di Kab. Bandung, ada yang mengusulkan nama tokoh kesehatan kelahiran Majalaya yakni dr. Mas Abdul Patah. Usulan itu ditolak juri yang lebih memilih nama tokoh yang sudah digunakan daerah lain.

Menurut Ketua Jamparing yang juga Sekretaris DPD AMPI Kab. Bandung, H. Dadang Risdal Aziz, wajar bila masyarakat menuntut kejelasan nama-nama baru RSUD itu. Alasannya sangat sederhana saja, masyarakat tidak mau ada nama yang sama karena bisa mengakibatkan salah tujuan.

Dengan kategori grade A, lanjut dia, ditambah gedung megah memadai, kelengkapan fasilitas, peralatan medis yang lengkap juga, dan penambahan dokter serta tenaga medis, baik kualifikasi dan potensi spesifikasinya, “Saya kira nama dr. Mas Abdul Patah, cukup layak dijadikan Brand RSUD Oto Iskandar Dinata yang sebelumnya bernama RSUD Soreang,” katanya via telepon, Sabtu (26/12/2020).

Mengingat beliau, imbuhnya, merupakan tokoh kesehatan pituin Kabupaten Bandung, dan berjasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Selain itu, juga penemu konsep Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan masyarakat di daerah.

Dia menyatakan tidak mengerti, mengapa nama dr. Mas Abdul Patah tidak dijadikan brand RSUD, karena beliau sangat berjasa sekali dalam bidang kesehatan dan merupakan tokoh nasional yang jelas kemampuan berikut jasa-jasanya.

Sementara H. Yuyun Supriadi, seorang tokoh pengamat politik Kab. Bandung, meminta Pemkab Bandung segera melakukan revisi brand RSUD. Karena bentuk pelayanan publik itu bukan tergantung nama RSUD, melainkan bagaimana personil kesehatan dari RSUD bisa melayani masyarakat secara profesional sesuai dengan kebutuhannya.

Untuk pemberian nama RSUD itu sendiri, dia menyebutkan, tidak perlu melakukan lomba yang hanya akan menambah pusing masyarakat yang memerlukan pelayanan. Lebih baik dimana RSUD itu berdiri, nama wilayah itu disandangkan dan dijadikan brandnya. Jangan memakai nama lain-lain kalau hanya berdampak pada kebingungan masyarakat.

Baca Juga :  Lagi Geng Motor Berulah di Tasik, "Teu Pupuguh" Madrasah Dirusak

“Jangan karena alasan sudah direhab atau dibangun gedung baru, jadi harus berubah nama, karena dengan adanya perubahan nama otomatis akan ada perubahan signifikan manajemen pelayanan termasuk dengan pergantian berkas-berkas sebelumnya,” ujar Yuyun.

Dia mengusulkan agar ketiga nama RSUD itu kembali dengan nama semula. RSUD Otto Iskandar Dinata kembali menjadi RSUD Soreang, RSUD Laswi kembali jadi RSUD Majalaya, dan RSUD Dewi Sartika kembali pula menjadi RSUD Cicalengka. Jadi tidak perlu lagi dipermasalahkan kembali, sebab masyarakat lebih mengenal nama-nama itu daripada nama yang sekarang diputuskan juri. @qia.

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KPJ Bandung Gelar Refleksi Akhir Tahun

Sab Des 26 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Refleksi akhir tahun 2020, yang di gelar Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Bandung merupakan bentuk tafakur dan syukur atas karunia Allah SWT, karena nikmat yang di limpahkan, membuat kepengurusan KPJ Bandung dan para anggotanya bisa menghirup udara segar dan senantiasa sehat Aamiin. Acara ini juga mengevaluasi kinerja selangkah […]