– “Intan hanya diurus oleh ibunya yang sudah menjanda. Ketika ibunya bekerja di luar kota, Intan pun hanya dirawat neneknya.”
VISI.NEWS – Intan Rahmawati, warga Kampung Cibeureum, Desa Sukaratu, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, harus pasrah menjalani masa remajanya berbaring di tempat tidur akibat penyakit akut yang dideritanya.
Gadis berusia 16 tahun ini kesehariannya tidak bisa menikmati hidup seperti remaja lain seusianya, ia hanya bisa berbaring lemas di tempat tidur.
Dari penuturan sang ibu kandungnya, Ida Farida, anaknya sakit sejak enam bulan lalu. Saat itu terjadi perubahan drastis pada tubuh Intan. Dari hari ke hari, kondisi kesehatannya menurun. Berat badannya pun menyusut.
Diakui Ida, dulu anaknya sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Slamet Garut. Namun setelah
dipulangkan dari rumah sakit, Intan sama sekali tak mendapatkan pengobatan apa pun sehingga kondisi kesehatannya kian memburuk.
Daikuinya, bukannya tak ingin mengobati dan membawanya ke rumah sakit. Kondisi ekonomi selama ini membuat dirinya tak mampu untuk membiayai pengobatan.
Dikatakannya, untuk memenuhi kebutuhan hidup kesehariannya, hanya mengandalkan penghasilan dari upah bantu bantu rumah tetangga.
“Terkadang pagi harinya sebelum bantu-bantu, berjualan makanan ringan berkeliling kampung,” tuturnya.
Bahkan, dirinya sempat merantau ke Bandung, mencari pekerjaan dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan. Selama berada di Bandung, Intan hanya dirawat oleh neneknya.
Sementara dari keterangan dokter yang pernah menangani Intan selama di RSUD dr Slamet Garut, menurut sang ibu kandungnya, anaknya menderita penyakit kelenjar di dalam usus.
Padahal, tuturnya lagi, sebelumnya dokter mendiagnosis Intan menderita penyakit usus buntu, liver, dan gagal ginjal hingga disarankan puasa selam dua hari karena akan dilakukan tindakan operasi.
“Setelah menjalani puasa selam dua hari, dokter tak melakukan operasi. Alasannya, hasil pemeriksaan terakhir, anak saya menderita penyakit kelenjar di dalam usus,” jelasnya.
Setelah itu, kata Ida, anak saya diperbolehkan pulang. Sejak saat itu belum pernah diobati lagi.
Di lain pihak, Kepala Desa Sukaratu, Udin, membenarkan ada warganya yang menderita sakit dan selama ini hanya terbaring lemah.
Pihaknya mengakui mendapatkan informasi itu dari salah seorang kader Posyandu pada Selasa (28/7) lalu.
Mendengar kabar tersebut, pihak Desa melakukan koordinasi dengan Camat Banyuresmi, Nurodin. Untuk selanjutnya melakukan pengecekan ke rumah keluarga di Kampung Cibeureum.
“Tadi bersama Pak Camat, saya langsung ke rumah keluarga Intan. Melihat kondisinya sangat memprihatinkan, kami memutuskan untuk membawa Intan ke RSUD dr Slamet Garut,” ucap Kades Udin.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, jelas Kades Udin, Intan sudah lama menderita sakit dan sempat dirawat di RSUD dr
Slamet Garut.
Saat itu, ungkapnya, suasana lagi Covid-19 sehingga pihak rumah sakit menyarankan agar Intan menjalani kontrol, bahkan diberi surat rujukannya.
Namun tambahnya, akibat ketidak-pahaman orangtua Intan serta kurangnya komunikasi, sejak saat itu tak pernah lagi dibawa ke rumah sakit atau ke tempat layanan kesehatan lainnya.
Padahal menurut Udin, kalau saja saat itu ada komunikasi dari pihak keluarga Intan dengan aparat pemerintahan atau kader Posyandu,
paling tidak, bisa mendapatkan pelayanan puskemas terdekat.
Namun di sisi lain Udin mengaku, memaklumi keterbatasan pihak keluarga Intan yang kurang memahami prosedur, ditambah lagi orang tua Intan yang sudah menjada.
“Intan hanya diurus oleh ibunya yang sudah menjanda. Ketika ibunya bekerja di luar kota, Intan pun hanya dirawat neneknya. Wajar kalau selama ini pihak keluarga tak faham dengan mekanisme pengobatan,” ujar Udin.
Udin pun mengucapkan terima kasih atas respons camat dan kepala Puskesmas Banyuresmi terhadap kasus tersebut.
Ia berharap, setelah mendapatkan penanganan di RSUD dr Slamet Garut, kondisi Intan bisa membaik dan sehat kembali.
Intan sendiri saat ini tercatat sebagai siswa kelas 2 di SMA 25 Garut.@zhr