VISI.NEWS | SOLO – Pengembangan desa wisata untuk menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, kuncinya terletak pada pemberdayaan lembaga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di pedesaan.
Pembentukan Pokdarwis yang diprakarsai masyarakat desa, memiliki peran penting dalam menentukan arah pengembangan desa wisata yang menjanjikan kesejahteraan bagi warga desa.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Promosi Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Muhammad Abdullah, mengemukakan hal itu kepada wartawan, dalam dialog di obyek wisata Obelix Hill, yang berlokasi di kawasan gunung berapi purba Gunung Landrang, Kabupaten Sleman, Jumat (21/10/2022).
Kelompok-kelompok sadar wisata yang keanggotaannya maksimal 15 orang, katanya, punya peran penting dalam pengembangan desa wisata dengan menjadikan ‘Sapta Pesona’ sebagai modal utama. Pokdarwis, harus mampu mewujudkan ketujuh unsur ‘Sapta Pesona’, yaitu keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan di desa wisata,” ujar Muhammad Abdullah.
Dalam industri pariwisata yang memberikan layanan jasa kepada para wisatawan, menurut Ketua Bidang Promosi Gabungan Industri Pariwisata GIPI DIY itu, hal-hal negatif sangat berpengaruh terhadap unsur-unsur “Sapta Pesona”.
Dia menyebut contoh grafis di tempat umum yang bertuliskan “Ngebut Benjut” bisa membuat wisatawan takut. Wisatawan yang membaca tulisan untuk mengingatkan orang yang berkendara agar tidak ngebut, bisa menimbulkan kesan wilayah itu tidak aman.
“Apalagi kalau sampai ada berita kasus pembunuhan, bisa berpengaruh besar terhadap pemasaran pariwisata. Jadi masalah keamanan, ketertiban, kebersihan, termasuk keramahan yang bisa memberikan kenangan dalam ‘Sapta Pesona’ benar-benar menjadi modal utama Pokdarwis dalam mengembangkan desa wisata,” tandasnya.
Dalam dialog yang difasilitasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Muhammad Abdullah bersama manajer operasional Obelix Hill, Daniel Rizky, mengungkapkan, pembinaan Pokdarwis untuk pengembangan desa wisata yang melibatkan pentahelix, yakni pemerintah, dunia usaha, masyarakat, pelaku usaha wisata dan media massa harus terus dibangun.
Dia menyebut GIPI DIY yang saat ini membina Pokdarwis Trirenggo, Mangunan dan Karebet, telah berhasil mengembangkan desa wisata di 3 desa tersebut. Bahkan, Pokdarwis Karebet di Desa Krebet, Kabupaten Bantul, yang memanfaatkan potensi batik kayu dan wayang kayu sebagai komoditas ekspor hasil kerajinan rakyat merupakan juara nasional.
Di wilayah Provinsi Jawa Tengah, sambungnya, Pokdarwis Borobudur yang juga merupakan juara nasional dan peningkatannya di atas DIY, kini tengah mengembangkan desa wisata di kawasan Bukit Menoreh.
Di kawasan yang lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur, Pokdarwis yang didukung dunia- usaha mengembangkan desa wisata dengan membangun guest house, wahana permainan dan sebagainya.
“Kalau Pokdarwis punya rencana mengembangkan desa wisata, perlu menggandeng dunia usaha. Misalnya, di desa ada sungai bisa dipoles sebagai destinasi wisata. Kemudian, aksesibilitasnya dikembangkan, diciptakan atraksi dan didukung amenitas yang memadai. Pemasarannya bisa dibranding melalui media sosial,” tuturnya lagi.
Senada dengan Muhammad Abdullah, Kepala KPw BI Solo, Nugroho Joko Prastowo, juga menekankan pentingnya “3A” berupa aksesibilitas, atraksi dan amenitas, seperti hotel, restoran, rumah makan dan sarana olahraga dan lain-lain, dalam pengembangan desa wisata.
Banyak desa wisata yang menarik kunjungan wisatawan, seperti Obelix Hill, Tebing Brexi, di kawasan Borobudur dan sebagainya, akan menggerakkan perekonomian desa karena banyak pihak yang terlibat di dalamnya.@tok