VISI.NEWS | BANDUNG — Pertemuan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di Muscat berlangsung dalam suasana yang jauh dari kata tenang. Bukan sekadar dialog biasa, perundingan ini menjadi ujian apakah dua negara yang baru saja berada di ambang konflik terbuka masih memiliki ruang untuk berbicara tentang perdamaian.
Oman kembali memainkan peran lamanya sebagai penengah. Di ibu kota Muscat, delegasi kedua negara duduk satu meja untuk pertama kalinya sejak eskalasi militer tahun lalu yang melibatkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dunia memandang pertemuan ini sebagai peluang langka untuk menurunkan suhu ketegangan, meskipun bayang-bayang konflik masih sangat terasa.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya datang dengan sikap terbuka namun tidak akan mengorbankan kepentingan nasional.
“Iran memasuki dunia diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat tentang tahun lalu. Kami terlibat dengan itikad baik dan teguh bagi hak-hak kami. Komitmen harus dihormati. Kedudukan yang setara, saling menghormati, dan kepentingan bersama bukanlah retorika — itu adalah keharusan dan pilar dari kesepakatan yang bertahan lama,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang menekankan pentingnya memanfaatkan setiap peluang diplomasi.
“Kami memiliki tanggung jawab untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk menggunakan diplomasi guna menjaga perdamaian. Kami berharap AS akan berpartisipasi dalam proses ini dengan bertanggung jawab, realistis, dan serius,” katanya.
Di sisi lain, Washington datang dengan agenda yang tegas. Program nuklir Iran tetap menjadi perhatian utama. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa delegasi AS ingin memastikan Iran tidak memiliki kemampuan nuklir yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan. Ia juga mengingatkan bahwa jalur diplomasi bukan satu-satunya opsi di tangan Presiden Donald Trump.
“Delegasi AS berniat mengeksplorasi semua cara untuk memastikan Iran tidak memiliki kapasitas nuklir yang dapat mengancam stabilitas regional. Diplomasi tetap menjadi prioritas, tetapi Presiden Trump memiliki banyak opsi selain diplomasi,” ucapnya.
Meski meja perundingan telah terbuka, kesepakatan masih jauh dari pasti. Perbedaan pandangan mengenai ruang lingkup pembahasan sempat memicu ketegangan sebelum dialog dimulai. Amerika Serikat ingin isu yang lebih luas turut dibicarakan, termasuk program rudal Iran dan dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Namun Teheran lebih memilih fokus pada isu nuklir sebagai titik awal.
Pengamat menilai jurang perbedaan itu bisa menjadi hambatan serius. Institut Studi Perang yang berbasis di AS menyebut peluang tercapainya solusi diplomatik masih tipis jika kedua pihak tetap kaku dalam posisi masing-masing.
“Iran terus menunjukkan ketidakfleksibelan dalam menanggapi tuntutan AS, yang mengurangi kemungkinan bahwa Iran dan Amerika Serikat akan dapat mencapai solusi diplomatik,” demikian penilaian lembaga tersebut.
Meski begitu, fakta bahwa kedua negara tetap bersedia bertemu memberi secercah harapan. Di tengah tekanan politik domestik, ketegangan regional, dan memori konflik yang masih segar, perundingan di Muscat menjadi panggung di mana ancaman dan harapan berdiri berdampingan. Dunia kini menunggu, apakah dialog ini akan menjadi awal meredanya krisis — atau sekadar jeda singkat sebelum ketegangan berikutnya muncul kembali. @kanaya