VISI.NEWS | JAKARTA – Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk pada sesi pertama perdagangan Senin (4/5/2026) menunjukkan dinamika menarik di tengah kondisi pasar yang relatif fluktuatif. Meski sempat dibuka melemah, saham BBCA mampu bertahan di zona hijau, mencerminkan daya tahan sektor perbankan di tengah tekanan eksternal.
Pada awal perdagangan, saham BBCA dibuka turun ke level Rp 5.800 per saham. Namun, sepanjang sesi pertama, harga bergerak dalam rentang Rp 5.800 hingga Rp 5.950 sebelum akhirnya stabil di kisaran Rp 5.850. Aktivitas perdagangan yang tinggi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,3 triliun, menunjukkan minat investor yang tetap kuat terhadap saham ini.
Kondisi ini terjadi di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang hanya mencatat kenaikan tipis. Artinya, penguatan BBCA tidak sepenuhnya bergantung pada sentimen pasar secara keseluruhan, melainkan juga didorong oleh faktor fundamental perusahaan yang masih solid.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong, menyampaikan penyaluran kredit tersebut didukung pendanaan yang solid, dengan dana giro dan tabungan (CASA) sebesar Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2 persen YoY.
Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) BCA.
“Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idu Fitri yang mendukung kinerja kredit. Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden,” ujar Hendra dalam konferensi pers paparan kinerja BCA Kuartal I 2026, Kamis (23/4/2026).
Namun demikian, pergerakan saham BBCA juga tidak lepas dari tekanan eksternal, termasuk nilai tukar rupiah yang berada di kisaran 17.370 per dolar AS. Kondisi ini dapat memengaruhi sentimen investor, terutama terkait risiko makroekonomi dan arus modal.
Rekomendasi dari pelaku pasar seperti BNI Sekuritas yang menempatkan BBCA sebagai speculative buy turut menjadi faktor pendukung, meski tetap disertai batas risiko yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih melihat peluang kenaikan, namun dengan pendekatan yang lebih berhati hati.
Secara sektoral, kondisi pasar yang cenderung campuran juga memengaruhi pergerakan saham. Sektor consumer dan infrastruktur menguat, sementara teknologi dan transportasi mengalami tekanan. Dalam situasi seperti ini, saham perbankan besar seperti BBCA cenderung menjadi pilihan karena dianggap lebih stabil.
Secara keseluruhan, pergerakan saham BBCA pada sesi pertama mencerminkan keseimbangan antara fundamental yang kuat dan tekanan eksternal yang masih membayangi. Stabilitas ini menjadi indikator bahwa sektor perbankan tetap memiliki daya tahan di tengah dinamika pasar yang belum sepenuhnya pulih. @desi