Search
Close this search box.

Di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Inflasi Jawa Barat 2025 Tetap Terkendali

Plt Kepala BPS Jawa Barat Darwis Sitorus menyampaikan rilis inflasi akhir 2025 di Kantor BPS Jabar, Bandung, Senin (5/1/2026)./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS|BANDUNG -Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan harga pangan serta energi sepanjang 2025, perekonomian Jawa Barat menunjukkan ketahanan yang kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat inflasi hingga akhir 2025 tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah, disertai kinerja perdagangan luar negeri yang solid.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus, menyampaikan bahwa inflasi Jawa Barat secara kumulatif sepanjang 2025 tercatat sebesar 2,63 persen, baik secara year to date maupun year on year. Angka tersebut masih berada dalam target inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. “Inflasi Jawa Barat tahun 2025 sebesar 2,63 persen dan ini masih sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah,” ujar Darwis saat rilis resmi statistik di Kantor BPS Jawa Barat, Senin, 5 Januari 2026.

Pada Desember 2025, inflasi bulanan Jawa Barat tercatat sebesar 0,43 persen. Darwis menjelaskan, seluruh kabupaten dan kota yang menjadi daerah pantauan inflasi mengalami kenaikan harga. Kabupaten Subang mencatat inflasi tertinggi secara bulanan sebesar 0,69 persen, disusul Kota Bandung sebesar 0,51 persen, Kota Bogor sebesar 0,46 persen, dan Kabupaten Bandung sebesar 0,44 persen. “Sementara inflasi di bawah angka Jawa Barat month to month terjadi di Kota Cirebon sebesar 0,42 persen, Kota Tasikmalaya 0,40 persen, Kota Bekasi 0,39 persen, Kota Depok dan Kota Sukabumi masing-masing 0,37 persen, serta Kabupaten Majalengka 0,29 persen,” kata Darwis.

Menurut Darwis, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi bulanan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,17 persen. Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil inflasi terbesar. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau inflasinya 0,97 persen, tetapi andilnya paling tinggi yaitu 0,31 persen,” ujarnya. Kelompok transportasi juga mengalami inflasi sebesar 0,36 persen.

Baca Juga :  Dua Wisawatan Asal Bogor Tenggelam di Pantai Sunset Sukabumi

Komoditas yang paling mendorong inflasi Desember 2025 antara lain cabai rawit, daging ayam ras, emas perhiasan, bensin, serta telur ayam ras. Sebaliknya, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. “Komoditas yang memberikan andil deflasi tertinggi adalah cabai merah dan jengkol,” ujar Darwis. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras dipicu meningkatnya permintaan, sementara inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas internasional dan bensin. “Inflasi Desember masih didorong kenaikan harga emas dunia dan bensin,” katanya.

Secara tahunan, Darwis menyebut capaian inflasi Jawa Barat tergolong menggembirakan. Sejumlah daerah memang mencatat inflasi di atas rata-rata provinsi, seperti Kota Sukabumi, Kota Bekasi, Kabupaten Majalengka, Kota Cirebon, Kota Bogor, Kota Bandung, dan Kota Tasikmalaya. Namun, beberapa daerah lainnya masih berada di bawah angka provinsi. “Kota Depok, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Subang inflasinya masih di bawah Jawa Barat,” ujar Darwis.

Berdasarkan kelompok pengeluaran secara year on year, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 15,91 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,74 persen. Satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. “Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,19 persen,” kata Darwis.

Dari sisi komoditas tahunan, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar, diikuti cabai rawit dan daging ayam ras. Sementara itu, bawang putih, tomat, dan tarif kereta api menjadi penahan inflasi. “Emas perhiasan memberikan andil inflasi tahunan tertinggi, sedangkan bawang putih dan tomat justru memberikan andil deflasi,” ujarnya.

Dengan inflasi yang tetap terkendali di tengah tekanan ekonomi global, Darwis menilai stabilitas harga di Jawa Barat menjadi modal penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi daerah.@fajar

Baca Berita Menarik Lainnya :