VISI.NEWS | JAKARTA– Di tengah panasnya laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, ada emosi yang lebih dari sekadar skor di papan. Bagi Persebaya Surabaya, kemenangan menjadi bukti kerja keras. Namun bagi Arema FC, pertandingan ini meninggalkan rasa yang sulit dilupakan.
Laga berjalan tanpa penonton, tetapi ketegangan tetap terasa di lapangan. Sejak awal, Persebaya mencoba menekan, sementara Arema bertahan dengan harapan bisa membalikkan keadaan. Babak pertama pun berakhir tanpa gol, memberi harapan bagi kedua tim.
Namun memasuki babak kedua, cerita berubah drastis. Persebaya tampil lebih agresif dan mulai menemukan celah. Gol pertama yang dicetak Fransisco Rivera membuka jalan bagi dominasi tim tamu.
Bagi Arema, setiap menit setelahnya terasa semakin berat. Upaya menyerang tidak membuahkan hasil, sementara tekanan terus datang. Momen penalti yang sempat digagalkan kiper Andhika Ramadhani pun tidak mampu menghentikan laju Persebaya, karena bola rebound berhasil dimaksimalkan menjadi gol kedua.
Gol demi gol berikutnya mempertegas dominasi Persebaya. Hingga akhirnya skor 4 nol tanpa balas menjadi hasil akhir yang sulit diterima oleh skuad Singo Edan.
Di balik hasil tersebut, tersimpan perasaan jujur dari pelatih Arema FC. “Minta maaf kepada Arema. Saya malu sekali. Dari babak pertama, dia (Persebaya) bisa membaca permainan kami,” ucap Marcos Vinicius Santos Goncalves.
Sementara itu, pelatih Persebaya Bernardo Tavares melihat kemenangan ini sebagai hasil dari kerja keras timnya. “Tidak mudah menjebol gawang Arema tapi ini menunjukkan tim kami bagus dan kerja keras,” ujarnya.
Kemenangan ini membawa Persebaya naik ke posisi empat klasemen sementara dengan 48 poin. Namun lebih dari itu, laga ini menyisakan cerita tentang perjuangan, tekanan, dan emosi yang dirasakan kedua tim di lapangan.
@Ihda