VISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, menyoroti maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan, termasuk di perguruan tinggi seperti Universitas Udayana. Ia menilai perlunya pendekatan yang lebih bijak dan ilmiah dalam menangani persoalan ini agar tidak ada pihak yang dirugikan.
“Kita perlu mensikapi munculnya kasus-kasus bullying dengan cara yang bijak dan pandangan yang lebih luas. Karena sementara ini ada pihak-pihak yang didiskreditkan tanpa melalui proses pengkajian mendalam,” ujar Habib Syarief dalam keterangannya.
Guru Kerap Jadi Pihak yang Dirugikan
Menurut Habib Syarief, dalam beberapa kasus, justru guru sering menjadi korban akibat kesalahpahaman dalam penegakan disiplin di sekolah. Ia mencontohkan, tindakan tegas guru seperti menegur atau memberi hukuman sering kali disalahartikan sebagai kekerasan.
“Ada pergeseran nilai dalam tupoksi guru. Padahal pendidikan itu bukan hanya pengajaran ilmu, tapi juga pembentukan karakter. Namun kini ruang gerak guru semakin dibatasi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemberian sanksi dalam pendidikan perlu dibedakan dari kekerasan, dan setiap kasus harus dikaji berdasarkan konteksnya.
“Anak yang melakukan pelanggaran perlu dilihat sejauh mana kesalahannya. Apakah masih layak mendapat teguran atau tidak. Rumusan bentuk teguran saja sekarang belum jelas, tiap sekolah berbeda-beda,” ujarnya menambahkan.
Peran Orang Tua dan Pengaruh Media Sosial
Habib Syarief juga menyoroti peran orang tua yang kerap memberikan perlakuan berlebihan kepada anak. Ia menilai hal itu membuat generasi muda menjadi lebih “rapuh” dan sulit menghadapi tantangan kehidupan.
“Anak-anak sekarang banyak yang tumbuh jadi generasi cengeng, tidak siap dengan kerasnya kehidupan. Ini karena hukuman ringan saja sudah dianggap berlebihan,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan dampak negatif dari konten media sosial dan informasi digital terhadap perilaku anak-anak.
“Informasi yang diterima anak setiap hari belum bisa dikontrol. Banyak konten yang justru memberi efek negatif, membuat anak-anak jadi keras atau bahkan sadis,” katanya.
Perlu Pendekatan Multidisipliner
Untuk menanggulangi persoalan bullying secara menyeluruh, Habib Syarief mendorong Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) agar segera menyusun kebijakan nasional berbasis riset.
“Kasus bullying harus ditangani secara lebih sistematis dan komprehensif. Tidak cukup hanya dari sisi pendidikan, tapi juga melibatkan psikolog, sosiolog, hingga ahli kriminologi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut perlu didukung oleh penelitian faktual dan data empiris agar penanganan kasus tidak bias dan dapat diterima oleh seluruh pihak. @givary