VISI.NEWS | BANDUNG — Pergerakan harga kebutuhan pokok di Kota Bandung kembali menjadi perhatian. Di tengah kekhawatiran lonjakan harga pangan di berbagai daerah, hasil pemantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung justru menunjukkan situasi relatif terkendali. Sejumlah komoditas strategis terpantau stabil, bahkan beberapa mengalami penurunan harga yang memberi angin segar bagi masyarakat.
Berdasarkan monitoring harga pada 23 April 2026 dibandingkan 16 April 2026 di tujuh pasar tradisional utama—Pasar Astanaanyar, Sederhana, Palasari, Kosambi, Ujungberung, Pasar Baru, dan Cihaurgeulis—perubahan harga terjadi namun masih dalam batas wajar. Pemerintah Kota Bandung menilai kondisi ini mencerminkan pasokan yang tetap terjaga meski ada dinamika pasar.
Sejumlah bahan pokok utama tercatat bertahan di harga stabil. Beras medium misalnya tetap berada di kisaran Rp13.500 per kilogram, bawang merah Rp42.000 per kilogram, bawang putih Rp39.000 per kilogram, daging sapi Rp140.000 per kilogram, dan telur ayam ras Rp28.500 per kilogram. Stabilitas harga komoditas utama ini dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam potensi inflasi pangan.
Kabar baik datang dari beberapa komoditas yang justru mengalami penurunan harga. Cabai rawit merah turun menjadi Rp64.000 per kilogram, sementara daging ayam ras berada di angka Rp36.500 per kilogram. Penurunan ini dinilai cukup signifikan mengingat kedua komoditas tersebut kerap menjadi pemicu gejolak harga di pasar tradisional.
Meski demikian, sejumlah komoditas hortikultura masih menunjukkan tren kenaikan tipis. Cabai rawit hijau naik menjadi Rp58.000 per kilogram, sementara cabai merah keriting dan cabai merah tanjung berada di kisaran Rp62.500 per kilogram. Kenaikan ini dinilai masih terkendali dan belum mengganggu keseimbangan pasar secara keseluruhan.
Di sektor minyak goreng, harga MinyaKita tercatat tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp15.700 per liter. Sementara minyak goreng curah bertahan di Rp21.000 per liter, dan minyak goreng premium berkisar Rp20.000 hingga Rp22.000 per liter. Pemerintah memastikan pasokan minyak goreng di pasar tradisional masih aman, termasuk distribusi ke pedagang kecil.
Kepala Disdagin Kota Bandung, Rony Ahmad Nurudin, mengatakan ketersediaan kebutuhan pokok sejauh ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pengawasan harga dilakukan secara rutin agar fluktuasi pasar bisa segera diantisipasi. Selain pangan, pemerintah juga terus memonitor distribusi kebutuhan strategis lain seperti beras, minyak goreng, bahan bakar minyak (BBM), dan bahan bakar gas (BBG).
“Pemantauan dilakukan bukan hanya untuk harga, tetapi juga memastikan distribusi lancar sehingga tidak ada gangguan pasokan di masyarakat,” ujarnya.
Pemkot Bandung juga mengintensifkan koordinasi dengan distributor, pedagang pasar, hingga pelaku usaha guna menjaga keseimbangan pasokan. Langkah ini dinilai penting mengingat perubahan cuaca, biaya logistik, dan dinamika nasional kerap mempengaruhi harga bahan pangan di tingkat lokal.
Pengamat ekonomi menilai stabilitas harga di pasar tradisional Bandung menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan kota. Terlebih di tengah tekanan ekonomi dan potensi gangguan distribusi, kemampuan menjaga harga tetap terkendali menjadi indikator kuat efektivitas pengawasan pemerintah daerah.
Meski situasi masih aman, masyarakat tetap diminta bijak berbelanja dan tidak melakukan panic buying. Pemerintah juga membuka ruang pengawasan bersama dengan masyarakat untuk melaporkan bila ditemukan lonjakan harga yang tidak wajar di lapangan.
Dengan tren harga yang masih terkendali, Bandung untuk sementara berhasil menjaga dapur warga tetap aman. Namun tantangan ke depan tetap besar: menjaga pasokan, menahan gejolak harga, dan memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda.
@uli