Search
Close this search box.

Hery Gunardi Jelaskan Dampak Koreksi Saham BBRI

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi./visi.news/ekonimi bisnis.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tengah mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan atau ytd dengan koreksi sekitar 16 sampai 17 persen. Meski demikian, manajemen menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi dinamika pasar jangka pendek dan bukan mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa pergerakan saham sangat dipengaruhi karakter investor di pasar modal, terutama antara investor jangka pendek dan jangka panjang. Ia menilai, fluktuasi harian tidak seharusnya menjadi perhatian utama bagi investor yang memiliki horizon investasi panjang.

Hery menyebut investor dengan rencana investasi jangka menengah hingga panjang, mulai dari lima tahun, sepuluh tahun, bahkan dua puluh tahun, sebaiknya berfokus pada saham berfundamental kuat atau blue chip.

“Kita nggak usah lihat harga saham naik turun, itu bikin tekanan darah naik turun juga. Kalau investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita. Kalau mau one day trading itu lain, tapi kalau jangka panjang Anda mesti napasnya juga panjang,” beber Hery dalam konferensi pers, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, strategi investasi yang tidak selaras dengan tujuan justru dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi investor. Karena itu, pemahaman terhadap profil risiko dan tujuan investasi menjadi hal yang penting sebelum mengambil keputusan di pasar saham.

Selain itu, Hery menyoroti bahwa daya tarik utama saham BBRI tidak hanya berasal dari potensi kenaikan harga saham, tetapi juga dari dividen yang konsisten. Dengan dividend payout ratio sebesar 92 persen dari laba bersih tahun buku 2025 atau setara Rp52,1 triliun, BRI menawarkan potensi imbal hasil yang dinilai kompetitif.

“Misalnya sekarang, walaupun harga saham BBRI mengalami tekanan sekitar 16-17% (ytd), nggak usah dilihat itu, dividend ratio kami kan cukup bagus ya, paling tidak bisa memberikan 10-11% return per tahun,” sambung dia.

Baca Juga :  SOSOK | Fitrah Maulana: Lahir dari Akademi Persib

Ia juga membandingkan potensi imbal hasil tersebut dengan instrumen investasi lain seperti deposito yang berada di kisaran 7 persen serta reksa dana pasar uang sekitar 6 persen. Menurutnya, hal ini menunjukkan daya saing BRI di mata investor jangka panjang.

Hery menambahkan bahwa perbaikan kondisi makro ekonomi global maupun domestik akan menjadi katalis positif bagi pasar saham. Dalam situasi tersebut, saham berfundamental kuat berpotensi ikut menguat seiring perbaikan indeks secara keseluruhan.

Karena itu, ia kembali mengingatkan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham dan berfokus pada emiten blue chip dengan kinerja fundamental yang solid serta prospek jangka panjang yang jelas. @desi

Baca Berita Menarik Lainnya :