HIKMAH: Makna Hijrah Nabi Muhammad Saw bagi Kehidupan Saat ini (1)

Editor Ilustrasi hijrah./wordpress.com/via republika.co.id/ist.
Silahkan bagikan

Oleh Ustaz Hanif Hidayatullah, S.Pd.

VISI.NEWS –

Makna Hijrah

Hijrah, dalam kamus Al-Munawir Arab Indonesia, berarti pindah ke negeri lain, hijrah dan migrasi. Kata ini berasal dari kata dasar hajara-yahjuru yang berarti memutuskan dan meninggalkan.

Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk nominal hijrah diartikan dengan perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah.

Dan dalam bentuk verbal, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya).

Hijrah adalah istilah yang sudah lama berkembang dalam kepustakaan Islam. Hal ini disebabkan sebutan hijrah itu mempunyai makna tersendiri lebih dari sekadar harfiahnya.

Hijrah membawa akibat yang sangat jauh dalam pemantapan ajaran Islam dilihat dari segi sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Demikian jelas Ishom El Saha dalam Sketsa Al-Quran.

Perpindahan ini bukan sekadar peralihan dari satu daerah ke daerah lainnya, tetapi mengambil makna perpindahan dari satu situasi yang tidak baik ke situasi yang lebih baik. Demikian tulisnya lebih lanjut.

Dari pengertian hijrah di atas, maka ada dua makna yang dapat diambil, yaitu hijrah makani (perpindahan tempat), yakni dalam konteks fisik dan hijrah maknawi, yakni pada konteks non-fisik.

Peristiwa Hijrah

Kapankah tepatnya beliau hijrah ke Madinah? Beragam informasi dijumpai pada kitab-kitab tarikh tentang peristiwa itu.

Imam at-Thabari dan Ibnu Ishaq menyatakan, “Sebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian atau 24 September 622 M waktu duha (sekitar jam 8.00 atau 9.00).

Baca Juga :  7 Fakta Ciamik Messi Usai Hengkang dari Barcelona

Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin ‘Auf selama empat hari (hingga hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal atau 27 September 622 M) dan membangun masjid pertama; Masjid Quba.

Pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal atau 28 September 622 M, beliau berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni Wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ‘Auf, datang kewajiban Jumat (dengan turunnya ayat 9 surat al-Jumah).

Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat Jumat yang pertama di dalam sejarah Islam. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi saw. melanjutkan perjalanan menuju Madinah.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Nabi tiba di Madinah pada hari Jumat 16 Rabiul Awwal atau 28 September 622 M. Sedangkan ahli tarikh lainnya berpendapat hari Senin 12 Rabiul Awwal atau 5 Oktober 621 M, namun ada pula yang menyatakan hari Jumat 12 Rabiul Awwal atau 24 Maret 622 M.

Terlepas dari perbedaan tanggal dan tahun, baik hijriah maupun masehi, namun para ahli tarikh semuanya bersepakat bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awwal, bukan bulan Muharram (awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M).

Faktor Hijrah

Ada tiga peristiwa hijrah yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Hijrah pertama pada bulan Rajab tahun kelima setelah kenabian, ke Habasyah, dilaksanakan oleh sekelompok sahabat yang terdiri dari dua belas orang laki-laki dan orang wanita, yang dipimpin Ustman bin Affan.

Hijrah ini didorong oleh berbagai tekanan yang dilancarkan orang-orang Quraisy sejak pertengahan atau akhir tahun keempat kenabian, terutamu diarahkan kepada orang-orang yang lemah.

Baca Juga :  Mulai Hari ini Pemerintah Berlakukan Ketentuan Baru bagi Masyarakat

Hari demi hari dan bulan demi bulan tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima sehingga Mekah terasa sempit bagi orang-orang Islam yang lemah itu.

Mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan yang pedih ini. Dalam kondisi yang sempit dan terjepit ini, Rasulullah saw. memerintahkan beberapa muslim hijrah ke Habasyah, melepaskan diri dari cobaan sambil membawa agamanya.

Habasyah atau sekarang Ethiopia suatu daerah di ujung Utara Afrika, merupakan daerah yang dikuasai oleh seorang raja yang adil bernama Ashamah An-Najasyi, tidak akan ada seorang pun teraniaya di sisinya.

Peristiwa hijrah kedua pada bulan Syawwal tahun kesepuluh setelah kenabian, ke Taif, suatu daerah di sebelah tenggara Mekah, dilakukan oleh Rasulullah saw. sendiri dengan berjalan kaki bersama sahabat Zaid bin Haritsah.(bersambung)/@fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pesan KH Cholil Nafis Terkait Muharram

Sen Agu 9 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Umat Islam di seluruh dunia akan memasuki tahun baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis mengajak umat Islam di Indonesia untuk bermuhasabah diri dalam mengisi pergantian tahun Hijriah.  Kiai Cholil mengatakan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat […]